Mon,11 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Perempuan Pesisir Pekalongan Suarakan Krisis Iklim: Beban Ganda hingga Tekanan Psikologis

Perempuan Pesisir Pekalongan Suarakan Krisis Iklim: Beban Ganda hingga Tekanan Psikologis

perempuan-pesisir-pekalongan-suarakan-krisis-iklim:-beban-ganda-hingga-tekanan-psikologis
Perempuan Pesisir Pekalongan Suarakan Krisis Iklim: Beban Ganda hingga Tekanan Psikologis
service

Pekalongan, Arina.idIsu krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya perempuan.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan Seminar Perempuan Pesisir Bercerita Krisis Iklim dan peluncuran buku, Senin (11/5/2026) di Meeting Room Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kegiatan ini diinisasi oleh Dekan Fakultas Syariah UIN Gus Dur, Prof Maghfur  yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Riset MORA The Air Funds.

Seminar menghadirkan para penulis buku Perempuan Pesisir dan Keadilan Iklim. Sebanyak 23 penulis menyampaikan tulisannya tentang perubahan iklim, krisis air bersih, perjuangan perempuan pesisir, hingga kajian green economy.

Dalam sambutannya, Prof Maghfur menegaskan bahwa perempuan pesisir merupakan kelompok yang paling merasakan dampak krisis iklim, namun seringkali suaranya kurang mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan.

Menurutnya, ruang akademik harus menjadi tempat lahirnya narasi dan solusi yang berpihak pada masyarakat rentan.

“Perempuan pesisir bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga penjaga ketahanan keluarga dan lingkungan. Karena itu, pengalaman mereka penting untuk didengar dan dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan menghadapi beban ganda akibat krisis iklim. Selain harus membantu menopang ekonomi keluarga ketika hasil laut menurun, perempuan juga tetap memikul tanggung jawab domestik di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu.

“Krisis iklim membuat perempuan bekerja dua kali lebih berat. Mereka harus bertahan secara ekonomi, sekaligus menjaga keluarga dalam situasi yang serba sulit. Oleh karenanya perspektif gender dalam kebijakan lingkungan menjadi sangat penting,” tambah Prof Maghfur.

Sementara itu, anggota tim riset, Siti Mumun Muniroh, menyoroti dampak psikologis yang dialami perempuan akibat bencana iklim seperti banjir dan rob yang terus berulang di kawasan pesisir. Dikatakan, kondisi tersebut memunculkan rasa cemas, stres, hingga kelelahan mental karena perempuan harus menghadapi ketidakpastian hidup dalam jangka panjang.

“Ketika banjir dan rob datang terus-menerus, perempuan bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang berat. Mereka memikirkan keselamatan keluarga, kebutuhan ekonomi, kesehatan anak, hingga kondisi rumah yang rusak akibat bencana,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Hendri Hermawan Adinugraha, salah satu penulis buku hasil riset tersebut, menegaskan bahwa perempuan pesisir memiliki potensi besar sebagai penggerak green economy berbasis masyarakat.

Menurutnya, perempuan selama ini telah menjalankan praktik ekonomi ramah lingkungan melalui pengelolaan hasil laut, usaha rumah tangga, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Perempuan pesisir sesungguhnya adalah aktor penting dalam pembangunan ekonomi hijau. Mereka tidak hanya menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Selain itu, penulis lainnya, Irawinne Rizky Wahyu Kusuma, turut menyoroti pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi krisis iklim melalui tradisi Mabuug-buugan. Tradisi tersebut menurutnya tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat pesisir, tetapi juga mengandung nilai harmoni antara manusia dan alam yang relevan di tengah ancaman perubahan iklim saat ini.

“Peran perempuan pesisir dan pelaksanaan tradisi Mabuug-buugan menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi strategi efektif dalam adaptasi dan mitigasi krisis iklim. Pendekatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem dan budaya, tetapi juga meningkatkan kapasitas komunitas pesisir untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan lingkungan yang terus berubah.” tuturnya.

Seminar berlangsung interaktif dengan menghadirkan diskusi mengenai ekologi, keadilan sosial, serta peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan.

Melalui seminar ini, Fakultas Syariah berharap kesadaran terhadap krisis iklim semakin meningkat sekaligus memperkuat perspektif keadilan gender dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.