Jakarta, Arina.id — Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Faiz, menjelaskan bahwa pergantian antara kebahagiaan dan kesulitan dalam hidup merupakan bagian dari hikmah Allah agar manusia tidak menggantungkan hidupnya kepada selain-Nya.
Dalam kajian tasawuf–filsafat yang membahas pemikiran Ibnu Athaillah, Fahrudin Faiz mengatakan manusia sering mempertanyakan mengapa hidup tidak selalu bahagia atau mengapa kesulitan terus datang silih berganti. Menurutnya, kondisi tersebut justru memiliki hikmah besar dalam perjalanan spiritual manusia.
“Kalau ada sesuatu membuat enak terus, senang terus, itu menjebak kita. Akhirnya kita tergantung pada hal itu,” ujar Fahrudin Faiz. dalam tayangan di akun YouTube Mengaji Hening diakses Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, apabila manusia terus-menerus berada dalam kenyamanan, maka ia akan mudah terikat pada dunia, harta, jabatan, atau berbagai kenikmatan lainnya. Karena itu, Allah menghadirkan pergantian keadaan dalam hidup agar manusia tidak menjadikan selain Allah sebagai sandaran utama.
“Tapi kalau kadang enak, kadang tidak enak, membuat kita tidak terlalu terikat. Kadang menang, kadang kalah. Itu membuat kita lebih mudah untuk tidak tergantung,” lanjutnya.
Menurut Fahrudin Faiz, kehidupan yang selalu nyaman justru dapat membuat manusia sulit melepaskan diri dari ketergantungan terhadap hal-hal duniawi. Sebaliknya, perubahan antara lapang dan sempit membuat manusia belajar bahwa segala sesuatu di dunia tidak bersifat abadi.
“Senang itu tidak terus, sedih juga tidak terus. Hidup ini kadang longgar, kadang sempit. Itu memang ketetapan Allah agar kita tidak tergantung. Supaya satu-satunya ketergantungan kita hanya kepada Allah,” katanya.
Allah Harus Menjadi Prioritas Utama
Dalam penjelasannya, Fahrudin Faiz menekankan pentingnya menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam kehidupan. Ia menyebut ajaran tersebut sebagai inti dari perjalanan spiritual para sufi.
“Allah harus selalu nomor satu. Jangan sampai dinomor duakan dalam hal apa pun,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip salah satu ajaran Ibnu Athaillah yang berbunyi, “Siapa yang mengenal al-Haq, maka ia akan menyaksikannya pada segala sesuatu. Dan siapa yang mencintai Allah, maka dia akan mengutamakannya dari segala sesuatu.”
Menurut Fahrudin Faiz, seseorang yang benar-benar mencintai Allah akan menjadikan segala aktivitas dan keputusan hidupnya berorientasi kepada Allah, termasuk saat menghadapi berbagai persoalan hidup.
“Dalam hidup ini ada macam-macam masalah, kebutuhan, kepentingan, dan tabrakan kepentingan. Rumusnya jangan lupa, Allah tetap harus dinomor satukan,” ujarnya.
Ketakutan Kehilangan Dunia Menunjukkan Hati Masih Terikat
Fahrudin Faiz juga menjelaskan bahwa rasa takut berlebihan kehilangan harta, jabatan, atau kenyamanan hidup merupakan tanda bahwa seseorang masih menggantungkan kebahagiaannya pada selain Allah.
Ia mengutip ajaran Ibnu Athaillah, “Keinginanmu akan tetapnya sesuatu selain Allah menunjukkan bahwa engkau belum menemukannya. Dan kegelisahanmu terhadap hilangnya sesuatu selainnya adalah bukti kalau engkau belum sampai kepada-Nya.”
Menurutnya, manusia sering merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa diperoleh melalui kekayaan atau kenyamanan materi. Padahal, sikap tersebut menunjukkan hati yang masih terikat pada dunia.
“Kalau kita menggantungkan kebahagiaan pada harta, berarti kita memang belum ketemu dengan Allah,” katanya.
Ia mencontohkan seseorang yang merasa hidupnya akan hancur apabila kehilangan kekayaan yang dimiliki. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa hati masih terlalu bergantung pada hal-hal fana.
“Kalau hilang sedikit saja lalu merasa kiamat, itu berarti kita memang belum sampai kepada Allah,” ujarnya.
Jalan Kebahagiaan Menurut Kaum Sufi
Fahrudin Faiz mengatakan para sufi memandang bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati bukan terletak pada dunia, melainkan pada kedekatan dengan Allah.
“Kalau bagi para sufi, jalan untuk bahagia itu Allah satu-satunya. Karena selain Allah sifatnya fana,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah bersifat sementara dan tidak dapat menjadi tempat bersandar sepenuhnya. Oleh sebab itu, manusia diajak untuk melatih diri agar tidak terlalu takut kehilangan dunia dan tidak menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaan utama.
“Semuanya tergantung kepada Allah. Jadi kita ayo pegangan pada Allah saja,” pungkasnya.





Comments are closed.