Makkah, NU Online
Pergeseran jamaah haji Indonesia kerap kali mengalami kendala manakala harus bergeser dari Muzdalifah ke Mina berdasarkan faktual tahun 2023 dan 2025. Hal ini menimbulkan ketidaksesuaian jadwal sehingga muncul kepanikan di kalangan jamaah. Sebab, mereka harus berkejaran dengan waktu melaksanakan tahapan ibadah berikutnya dan bayang-bayang cuaca yang ekstrem bisa mencapai 50 derajat Celcius.
“Kondisi demikian ini membuat jamaah harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina sehingga fisik dan energi jamaah terkuras menyebabkan kelelahan, jatuh sakit, dan memicu kematian,” kata H Mustolih Siradj, Ketua Komnas Haji, di Makkah, Kamis (22/5/2026).
Musababnya, bus-bus yang seharusnya mengangkut jamaah terjebak kemacetan luar biasa tidak bisa masuk area Muzdalifah. Akhirnya, jamaah harus berjalan kaki menuju Mina. sesampainya di Mina, jamaah harus melakukan ibadah lanjutan berupa jumrah ula, Aqobah dan Wustho ke Jamarat di Mina, lalu bergerak kembali ke Makkah untuk tawaf ifadah, sai dan tahallul.
“Kondisi demikian ini membuat jamaah harus berjalan kaki ke Mina sehingga fisik dan energi jamaah terkuras menyebabkan kelelahan ekstrim, dehidrasi, jatuh sakit dan menjadi penyebab jamaah wafat,” ujarnya.
Oleh sebab itu, untuk menghindari peristiwa 2023 dan 2025, Muzdalifah harus dikelola dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan perhatian khusus. Koordinasi PPIH dengan syarikah penyedia layanan transportasi harus lebih intensif untuk memastikan tidak ada kendala keterlambatan transportasi.
“Harus cermat, cepat dan akurat membaca situasi yang cepat berubah atas kebijakan otoritas Arab Saudi yang berubah dalam hitungan menit,” katanya.
Kesiapsiagaan dan komunikasi antar petugas juga harus diperkuat karena menjadi kunci mengelola pergerakan jamaah.
Di samping itu, bagi jamaah, jangan sampai terpisah dari rombongannnya, tetap mengikuti arahan dari petugas, pimpinan rombongan maupun regu.
Pada titik ini, jamaah lansia, berisiko tinggi (risti) dan kalangan perempuan harus mendapat prioritas pelayanan di Armuzna.
Jika situasi di Muzdalifah bisa terkendali dan dikelola dengan baik, biasanya pergerakan di Mina juga relatif bisa tertangani. Komnas Haji turut berdoa semoga agenda haji di Armuzna berjalan sesuai rencana, lancar dan sukses.
Sebagaimana diketahui, puncak haji 2026 M/1447 H tinggal beberapa hari lagi, tepatnya tanggal 25 Mei 2026. Jamaah haji dari Indonesia bersama jamaah haji dari seluruh dunia yang diperkirakan berjumlah 1,6 juta orang akan bergerak serentak menuju tiga tempat utama prosesi ibadah yang disebut Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) dalam rentang waktu 8 Dzulhijjah 13 Dzulhijjah (hari tasyrik).
Secara berurutan jamaah akan bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk wukuf, lalu bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit, dan lempar jumrah selama tiga hari ke Jamarat di Mina.




Comments are closed.