Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Bagaimana Budaya Membentuk Cinta?

Bagaimana Budaya Membentuk Cinta?

bagaimana-budaya-membentuk-cinta?
Bagaimana Budaya Membentuk Cinta?
service

Saya iseng membongkar tumpukan arsip yang sudah disimpan bertahun-tahun. Arsip itu terdiri dari kertas-kertas yang dikumpulkan sejak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kurang lebih usianya lima belas tahun. Ada buku harian, nilai ulangan, sampai foto-foto masa remaja. Saya baca lembar demi lembar diary berwarna putih bercampur pink yang sebagian terasa lembab. Isinya memuat cerita pertemanan dan cinta

Kata terakhir membuat saya heran, bagaimana bagian itu bisa punya porsi sangat banyak dalam catatan harian saya. Singkatnya, ternyata saya pernah menulis tentang seseorang yang saya kagumi namun tak pernah ada niatan untuk mengungkapkan. Kisah yang dituliskan sangat dramatis, melankolis, dan mungkin alay jika orang lain yang membacanya. Saya–si penulisnya–tak kuasa menahan tawa membayangkan betapa anehnya saya dulu memandang cinta.

Catatan harian itu membuat saya berpikir tentang cinta yang saya yakini lima belas tahun lalu. Mengapa gagasan cinta seperti itu tumbuh dalam diri saya di masa remaja. Mengapa saya melihat cinta begitu dramatik, heroik dan melankolis. Saya menelusuri ingatan masa lalu, di dalamnya saya temukan ada film Barbie as Rapunzel (2002), sinetron SCTV era 2010-an yang didominasi kisah roman remaja misalnya Cinta Fitri (2010-2011), Pesantren & Rock’N Roll (2011) dan Diam-diam Suka (2013-2015). Tentu masih ada judul-judul lain yang lupa untuk saya sebutkan. Tapi beberapa judul di atas cukup menjadi representasi bagaimana saya mengartikan cinta dalam hidup. 

Pada tahun 1966, Peter L. Berger dan Thomas luckmann menulis buku bertajuk The Social Construction of Reality. Buku itu memuat gagasan bahwa realitas sosial bukan sesuatu yang alami terjadi begitu saja atau netral melainkan dibentuk melalui interaksi manusia. Penulis menjelaskan tiga proses utama pembentukan realitas itu, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. 

Eksternalisasi yaitu manusia menciptakan gagasan, simbol, dan institusi. Dalam film, sutradara, penulis, dan produser menuangkan ideologi nilai, dan pengalaman ke dalam narasi film. Objektivasi yaitu ketika ciptaan itu dianggap nyata, seolah-olah berdiri sendiri di luar manusia. Dalam hal ini film yang ditonton berulang-ulang dianggap sebagai representasi “realitas” (misalnya gambaran tentang gender, kelas sosial, dan cinta). Terakhir internalisasi, individu menyerap realitas yang sudah ‘diobjektifkan’ tadi ke dalam kesadaran lalu membentuk kesadaran baru tentang dunia, diri, dan orang lain. 

Empat film yang saya sebutkan di atas secara tidak langsung sangat mempengaruhi kesadaran saya dalam mengartikan cinta di masa remaja. Cinta yang menggebu-gebu, ilahiyah, cinta sejati, pengorbanan, menerima rasa sakit, memendam rasa, belahan jiwa, penyelamat, dan puncak kebahagiaan. Kosa kata itu hadir dari proyeksi film-film yang saya tonton. Saat itu, saya tak melahap buku bacaan, informasi dominan yang saya terima hanya dari film dan obrolan teman sebaya. Kini, kenyataan itu menarik saya untuk mencari sebanyak-banyaknya hal-ihwal perihal cinta. Apa dan bagaimana cinta dibentuk. 

Dari pandang gender, Chimamanda Ngozi, intelektual dan aktivis Afrika, di bukunya berjudul A Feminist Manifesto berujar: “Budaya tidak membentuk manusia. Manusialah yang membentuk budaya”. Ngozi memberikan penekanan tersebut untuk memastikan budaya yang dijalani dalam kehidupan masyarakat tidak merugikan salah satu gender. Gagasan ini muncul karena ada budaya yang melihat perempuan lebih rendah dari laki-laki, ini diamini sebagai kodrat atau alamiah. 

Film-film yang saya tonton sejak anak-anak seturut lingkungan saat itu agaknya menampilkan cinta dalam bentukan budaya patriarki. Ini tampak jelas dari standing position tokoh dalam film-film tersebut. Perempuan sebagai pihak pasif, tabah menerima rasa sakit, pihak yang kalah, tidak berdaya, dan lemah. Sebaliknya, laki-laki digambarkan sebagai sosok kuat, penyelamat, berdaya, pintar, mandiri, dan punya otonomi penuh atas hidupnya. Cinta secara garis besar diartikan sebagai penyelamatan diri perempuan atas segala bahaya dan ketidakpastian lewat sosok laki-laki. 

Analisi ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir di bukunya bertajuk Second Sex (1949). Beauvoir memaparkan dikotomi pandangan antara perempuan dan laki-laki dalam melihat relasi percintaan. Bagi laki-laki, jatuh cinta membuat mereka menginginkan objek yang dicintai menjadi miliknya dan mendaku diri sebagai subjek yang berdaulat untuk memiliki dan mengendalikan sang objek. Sedangkan bagi perempuan, jatuh cinta adalah meleburkan diri atau menyerahkan segalanya kepada objek yang dicintai.

Perbedaan dalam melihat gagasan tersebut banyak melahirkan kekerasan baik secara fisik maupun psikis karena perangkat dari konstruksi yang timpang. Seperti yang dituliskan dalam Jurnal Perempuan edisi Feminisme dan Cinta (2018), dalam salah satu tulisan berjudul Atas Nama Cinta: Relasi Kuasa dan Reviktimisasi pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Pacaran (Studi Kasus Putusan Pengadilan). Kekerasan terjadi lantaran ada perbedaan yang begitu jauh dalam memandang cinta antara laki-laki (pelaku) dan korban (perempuan). 

Pertengkaran dan kekerasan yang terjadi dalam relasi percintaan tidak hadir dari ruang kosong. Tragedi itu adalah buah dari gagasan cinta yang diproduksi oleh masyarakat patriarki. Cinta tidak dimaknai sebagai wadah kesalingan dan mendukung tetapi penaklukkan dan dominasi. Dominasi bertumpu pada penanaman rasa takut sebagai cara untuk memastikan kepatuhan. Pola ini tidak sehat dan rentan rapuh. 

Feminis asal Amerika Serikat, Hell Hooks, menulis buku bertajuk All About Love. Buku ini menawarkan gagasan soal cinta yang lebih indah. Di dalamnya mengkritik budaya patriarki dan materialistis yang sering mencemari cinta. Dari buku ini pembaca bisa sangat terbantu memahami cinta berlandaskan atas pengetahuan, rasa hormat, dan kesalingan. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.