Jakarta, Arina.id — Akademisi dan pegiat filsafat Fahrudin Faiz menjelaskan pandangan filsuf Yunani kuno Aristoteles mengenai tiga jenis persahabatan manusia, yakni persahabatan yang didasarkan pada kesenangan, kemanfaatan, dan ketulusan atau kebajikan.
Menurutnya, persahabatan yang dibangun atas dasar kesenangan (pleasure) dan kemanfaatan (usefulness) umumnya tidak benar-benar berpusat pada pribadi seseorang, melainkan pada suasana dan keuntungan yang diperoleh dari hubungan tersebut.
“Kalau itu based on pleasure atau usefulness, bukan orangnya sebenarnya yang ditunggu, tetapi suasananya, nuansanya, dan juga manfaat yang bisa diambil dari situ,” ujar Fahruddin Faiz dalam tayangan Mengaji Hening diakses Kamis (21/5/2026).
Ia mencontohkan, seseorang terkadang merasa senang berteman bukan karena kualitas pribadi sahabatnya, tetapi karena kehadiran orang tersebut mampu menciptakan suasana yang meriah atau menguntungkan.
“Yang disukai situasinya. Jadi nanti kalau datang sambil murung, mungkin sudah tidak terlalu disukai lagi,” katanya.
Fahrudin Faiz menjelaskan, relasi yang berlandaskan kemanfaatan cenderung mudah berubah ketika keuntungan yang dicari sudah hilang. Ia menilai pola seperti itu kerap terlihat dalam hubungan sosial maupun politik.
“Hari ini bersahabat karena ada manfaat tertentu. Ketika manfaatnya hilang, bubar dan mencari koalisi yang lain,” ungkapnya.
Hal serupa, lanjut dia, juga terjadi dalam hubungan pertemanan yang hanya mengejar kesenangan. Ketika seseorang tidak lagi mampu menghadirkan hiburan atau fasilitas tertentu, hubungan tersebut perlahan dapat merenggang.
Meski demikian, dia menyebut persahabatan yang lahir dari kesenangan masih memiliki peluang berkembang menjadi persahabatan sejati dibandingkan hubungan yang semata-mata dibangun atas dasar manfaat praktis.
“Kalau berdasarkan kesenangan, biasanya ada unsur rasa yang lebih mudah naik kelas menjadi persahabatan yang tulus,” jelasnya.
Ia menambahkan, Aristoteles menyebut persahabatan yang hanya bertumpu pada kemanfaatan sebagai relasi yang sarat pamrih dan tidak dilandasi ketulusan.
“Di buku (karangan Aristoteles) itu ada kalimat, persahabatan berdasarkan kemanfaatan adalah untuk para penipu. Jadi orang yang tidak tulus dan ada pamrihnya,” tandasnya.





Comments are closed.