Wed,27 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. BlackRock Ungkap Selera Investor Global Ingin Perusahaan Pertambangan Jumbo

BlackRock Ungkap Selera Investor Global Ingin Perusahaan Pertambangan Jumbo

blackrock-ungkap-selera-investor-global-ingin-perusahaan-pertambangan-jumbo
BlackRock Ungkap Selera Investor Global Ingin Perusahaan Pertambangan Jumbo
service

KABARBURSA.COM — Raksasa investasi dunia BlackRock memberi sinyal keras kepada industri tambang global. Menurut mereka, perusahaan tambang berukuran kecil atau menengah makin sulit menarik investor besar dan membiayai proyek-proyek kompleks sehingga gelombang merger antarperusahaan dinilai perlu terus berlanjut.

Pandangan itu datang dari Olivia Markham, manajer portofolio BlackRock, sebuah perusahaan investasi raksasa yang uang kelolaannya lebih besar dari APBN banyak negara. Menurut dia, gelombang merger dan akuisisi di sektor tambang belum cukup. Masih perlu lebih banyak perusahaan tambang bergabung kalau ingin menarik investor kelas berat.

“Kalau berbicara dengan investor umum di Amerika Serikat, mereka menginginkan saham perusahaan besar yang likuid untuk diinvestasikan. Perusahaan yang lebih besar punya akses modal lebih baik, biasanya diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi, dan dalam konteks sektor pertambangan, perusahaan besar juga punya tim serta sumber daya manusia untuk membangun proyek-proyek kompleks,” kata Markham dalam konferensi Australian Financial Review di Perth, dikutip dari Reuters, Rabu, 27 Mei 2026.

Kalimat itu kalau diterjemahkan lebih sederhana kurang lebih begini: Investor global malas masuk ke perusahaan tambang yang ukurannya tanggung. Duit besar maunya parkir di perusahaan yang cukup kuat untuk bertahan saat harga komoditas ambruk sekaligus sanggup buka proyek baru bernilai miliaran dolar.

“Sudah ada gelombang merger dan akuisisi, tetapi saya melihat masih ada manfaat jika itu ditambah lagi,” ujarnya.

Ucapan itu datang di tengah spekulasi soal kemungkinan merger dua raksasa tambang dunia, yakni Glencore dan Rio Tinto. Awal tahun ini, keduanya sempat menjajaki penggabungan usaha yang nilainya bisa mencapai USD 240 miliar (sekitar Rp4.080 triliun).

Kalau merger itu jadi terjadi, hasilnya bukan perusahaan biasa. Itu bisa menjadi monster baru yang menggabungkan kekuatan pemasaran dan aset tembaga Glencore dengan kemampuan operasional Rio Tinto.

Namun Rio Tinto mundur. Alasannya, mereka tak melihat keuntungan efisiensi biaya yang cukup besar. Meski begitu, rumor belum mati. CEO Glencore disebut masih menyimpan minat dan bisa membuka pembicaraan lagi bila harga saham perusahaannya terus melampaui Rio Tinto.

BlackRock sendiri duduk nyaman sebagai pemegang saham di kedua perusahaan itu, termasuk di BHP, salah satu pemain tambang terbesar dunia. Posisi yang membuat mereka bisa bicara soal konsolidasi sambil tetap menikmati hasil dari arah pasar.

Di balik dorongan merger tersebut, ada masalah yang lebih besar. Dunia hari ini sebenarnya sedang lapar komoditas. Markham mengatakan kebutuhan bahan tambang makin melonjak karena elektrifikasi, kecerdasan buatan atau AI, hingga belanja militer berbagai negara.

“Permintaan komoditas terus meningkat, dan intensitas komoditas dalam pertumbuhan ekonomi juga naik. Ketika melihat semua tema besar yang sedang berkembang di pasar, semuanya kembali ke pertambangan,” katanya.

Sederhananya, orang ramai bicara mobil listrik, AI, pusat data, sampai transisi energi. Tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke tambang. Tembaga, nikel, uranium, litium, semuanya dibutuhkan.

Masalahnya, investasi untuk pasokan baru justru tertinggal. “Di saat yang sama, sisi pasokan mengalami kekurangan investasi besar, sehingga tidak ada respons pasokan secara cepat. Harga komoditas kemungkinan harus terus naik agar mendorong lebih banyak pasokan baru masuk ke pasar,” ujar Markham.

Artinya, harga komoditas mahal mungkin bukan lagi anomali. Bisa jadi itu normal baru. Markham juga menyinggung penutupan Selat Hormuz yang membuat banyak negara mulai gelisah soal ketahanan energi. Dampaknya, negara-negara diperkirakan makin serius mengejar kemandirian energi.

“Kita akan jauh lebih banyak memikirkan uranium,” katanya.

Kalimat pendek itu terdengar biasa saja. Padahal maknanya lumayan keras. Dunia mungkin mulai melirik lagi energi nuklir setelah bertahun-tahun diperlakukan seperti topik sensitif.

Di sisi lain, BlackRock mengaku pelan-pelan mengurangi eksposur investasi di Australia dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya karena mereka lebih tertarik pada wilayah yang punya cadangan tembaga besar dan biaya produksi lebih kompetitif pascapandemi COVID-19.

Dalam industri tambang global sekarang, ukuran besar mulai dianggap syarat bertahan hidup. Perusahaan kecil mungkin masih bisa eksis. Tapi untuk menguasai masa depan, investor tampaknya ingin pemain yang ukurannya cukup besar untuk menelan risiko dan cukup kuat untuk menambang dunia.

Tambang RI Sudah Jumbo, tapi Masih Kecil di Mata Investor Global

Dorongan BlackRock agar perusahaan tambang dunia makin besar lewat merger rupanya bukan sekadar omongan investor yang doyan efisiensi. Di balik itu ada pesan lebih serius. Industri tambang masa depan dinilai membutuhkan modal jauh lebih besar, proyek lebih rumit, dan kemampuan pendanaan yang tak lagi bisa ditanggung perusahaan ukuran sedang.

Kalau logika itu ditarik ke Indonesia, pertanyaannya mulai menarik. Apakah emiten tambang nasional sudah cukup besar untuk membiayai ambisi hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah?

Sekilas, jawabannya tampak iya.

Indonesia punya sejumlah emiten tambang dengan kapitalisasi pasar ratusan triliun rupiah. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) adalah salah satu yang terbesar dengan nilai pasar lebih Rp330 triliun, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sekitar Rp225 triliun. Di bawahnya ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sekitar Rp71 triliun, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sekitar Rp66 triliun, hingga pemain nikel seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Angka ratusan triliun itu terdengar besar jika dilihat dari dalam negeri. Masalahnya muncul ketika dibandingkan dengan pemain global.

Wacana merger Glencore dan Rio Tinto yang sempat mencuat awal tahun ini diperkirakan dapat membentuk perusahaan dengan valuasi sekitar USD 240 miliar atau setara Rp4.080 triliun. Nilai itu hampir 18 kali lebih besar dibanding kapitalisasi pasar AMMN, salah satu raksasa tambang Indonesia.

Perbandingan tersebut memperlihatkan satu hal. Skala perusahaan tambang Indonesia mungkin besar secara domestik, tapi belum tentu cukup besar dalam arena pendanaan global.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan manajer portofolio BlackRock Olivia Markham yang menilai investor global cenderung mencari perusahaan berukuran besar, likuid, dan memiliki akses pendanaan kuat untuk membangun proyek mineral kompleks. Masalahnya, kebutuhan modal industri tambang saat ini memang tak lagi kecil.

Pemerintah Indonesia beberapa tahun terakhir agresif mendorong hilirisasi mineral, terutama nikel, tembaga, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Ambisi tersebut menuntut pembangunan smelter, pabrik pemurnian, fasilitas prekursor baterai, hingga rantai pasok kendaraan listrik.

Nilai investasinya tidak main-main. Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik yang melibatkan ANTM bersama mitra internasional diperkirakan mencapai sekitar USD12 miliar atau sekitar Rp204 triliun. Angka itu nyaris setara dengan kapitalisasi pasar perusahaan tambang terbesar Indonesia. Artinya, satu proyek hilirisasi besar saja bisa menyamai ukuran perusahaan yang mengerjakannya.

Di titik ini, tesis BlackRock mulai terasa relevan. Semakin kompleks proyek yang dibangun, semakin besar kebutuhan modal. Semakin besar kebutuhan modal, semakin tinggi tekanan agar perusahaan melakukan konsolidasi atau mencari mitra strategis.

Indonesia sebenarnya bukan asing dengan langkah tersebut. Pemerintah telah membentuk holding BUMN pertambangan MIND ID yang menaungi sejumlah aset strategis seperti ANTM, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk hingga PT Freeport Indonesia. Tujuan pembentukan holding sejak awal adalah memperbesar kapasitas pendanaan dan memperkuat posisi dalam proyek hilirisasi.

Di sektor swasta, ekspansi juga terus terjadi. Grup Merdeka memperluas bisnis ke mineral kritis dan baterai, sementara sejumlah perusahaan nikel membangun integrasi dari tambang hingga pengolahan.

Meski begitu, struktur industri tambang Indonesia masih relatif tersebar. Batu bara misalnya, tetap diisi kombinasi pemain besar dan perusahaan berukuran menengah. Kondisi itu berbeda dengan tren global yang mulai mengarah pada penggabungan perusahaan demi memperbesar skala.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah emiten tambang Indonesia besar atau kecil. Pertanyaan yang lebih penting justru apakah ukuran perusahaan saat ini cukup untuk menopang ambisi hilirisasi, transisi energi, dan perebutan mineral strategis dunia yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah.

Sebab di tengah perlombaan energi bersih dan kebutuhan mineral kritis yang terus melonjak, perusahaan tambang mungkin tak cukup hanya kaya cadangan. Investor global mulai memberi sinyal bahwa ukuran juga menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang sekadar jadi pemasok bahan mentah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.