Yogyakarta, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA Pesantren) PBNU menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Musyrif-Musyrifah di Hotel Cavinton, Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 32 peserta yang terdiri atas pengasuh, musyrif-musyrifah, dan pendamping pesantren dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Pengurus SAKA Pesantren PBNU, H Marzuki Wahid, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya PBNU memperluas penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pesantren dalam mendukung Gerakan Nasional Pesantrenku Aman.
“Melalui skema training of trainers, para peserta dipersiapkan menjadi fasilitator yang akan mendampingi sekaligus mereplikasi pelatihan bagi musyrif, musyrifah, pengasuh, dan tenaga pendidik di pesantren masing-masing,” ujarnya dalam keterangan kepada NU Online.
Marzuki menegaskan bahwa penguatan kapasitas musyrif dan musyrifah merupakan langkah strategis dalam membangun sistem perlindungan santri di lingkungan pesantren. Menurutnya, upaya mewujudkan pesantren yang aman harus dimulai dari peningkatan kapasitas para pendamping santri yang berinteraksi langsung dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
“PBNU ingin memperluas pelatihan bagi musyrif, musyrifah, pengasuh, dan tenaga pendidik pesantren. Karena itu, ToT ini diselenggarakan untuk menyiapkan para fasilitator yang nantinya mampu melatih kembali di pesantren masing-masing sehingga praktik pengasuhan yang aman dan berperspektif perlindungan anak dapat diterapkan secara lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, musyrif dan musyrifah memiliki posisi strategis sebagai pendamping utama santri di lingkungan asrama. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman mengenai pengasuhan positif, perlindungan anak, deteksi dini terhadap potensi kekerasan, serta mekanisme pencegahan, penanganan, pendampingan, hingga pemulihan korban.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai materi, antara lain kebijakan PBNU tentang Gerakan Nasional Pesantrenku Aman, teknik fasilitasi, perspektif pengasuhan, analisis fenomena kekerasan di lembaga pendidikan keagamaan, filosofi Pesantren Aman dan child safeguarding, psikologi perkembangan anak dan remaja, disiplin positif, strategi pencegahan dan penanganan kekerasan, serta micro training sebagai praktik fasilitasi.
Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua PBNU Alissa Wahid, Mayadina Rohmi Musfiroh, psikolog keluarga Nurmey Nurulchaq, dan Ning Maya Fitria.
Melalui kegiatan tersebut, RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU berharap lahir fasilitator-fasilitator yang mampu memperkuat sistem pengasuhan dan perlindungan santri, sekaligus mendukung implementasi Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di berbagai daerah.





Comments are closed.