Alisah memandangi deretan bangunan tembok tambak udang yang membentang di sepanjang garis pantai desanya di Sepolong, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Di hadapannya, laut yang dulu menjadi ruang hidup kini perlahan berubah. Angin laut berhembus pelan pagi itu. Di sejumlah titik, air laut tampak sedikit keruh kecoklatan, terutama di dekat area saluran pembuangan tambak. Sesekali suara mesin aerator dari kolam-kolam budidaya terdengar samar bercampur debur ombak kecil di bibir pantai. “Dulu sepanjang pantai ini terbuka. Kami bebas cari ikan di pinggir,” katanya lirih. “Sekarang hampir semua berubah.” Sudah lebih dari tiga dekade lelaki 70 tahun itu menjadi nelayan tradisional. Dia hidup dari tangkapan ikan kecil di sekitar pesisir, tembang, selar, cumi, hingga kepiting. Namun beberapa tahun terakhir, sejak tambak-tambak udang tumbuh cepat di sepanjang pantai, hasil tangkapannya terus menurun. Sekali melaut, dia kadang hanya membawa pulang ikan senilai Rp50.000-70.000. Padahal sebelumnya, dalam sehari dia bisa mendapatkan lebih dari Rp300.000. Awaludin, nelayan lain keluhkan hal sama. Menurutnya, perubahan paling terasa terjadi setelah tambak udang memenuhi sejumlah kawasan pesisir. Air laut yang dulu jernih kini kerap berubah keruh. Terutama saat tambak membuang limbah atau melakukan pengurasan kolam. “Kalau mereka buang air tambak, laut jadi hitam dan berlumpur,” katanya. Dua nelayan kecil tengah memancing di pesisir Lombok Timur. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Pengawasan lemah Cerita seperti Alisah dan Awaludin juga terjadi di desa-desa di pesisir timur Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak jarang, ekspansi tambak udang yang cukup pesat memincu konflik ekologis dan sosial di tingkat kampung. Di satu sisi, industri…This article was originally published on Mongabay
Ketika Tambak Udang Acam Ekosistem Pesisir Lombok Timur
Ketika Tambak Udang Acam Ekosistem Pesisir Lombok Timur





Comments are closed.