Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Indonesia memiliki keragaman pangan yang cukup besar. Banyak pilihan karbohidrat, protein hingga serat untuk menjadi bahan makanan sehari-hari. Meski begitu, kebijakan masa orde baru membuat masyarakat tergantung pada beras sebagai pangan utama dan pilihan satu-satunya. Di tengah maraknya beras menjadi pilihan tugas, masih banyak masyarakat yang mengandalkan bahan pangan lokal yang identik dengan wilayahnya. Seperti singkong di wilayah Jawa Tengah, sagu di wilayah timur Indonesia, sorgum di wilayah Nusa Tenggara Timur hingga lainnya. Komunitas adat Bonokeling di Banyumas, Jawa Tengah, misalnya yang menjadikan singkong sebagai bagian dari ritual adat dan makanan sehari-hari. Bagi mereka, mengonsumsi pangan lokal bukan berarti mereka tak punya pilihan, tapi justru menjadi cara untuk beradaptasi di musim paceklik dan mewariskan budaya dari leluhur. Satu cerita ini menjadi sebuah gambaran bahwa peran pangan lokal sangat penting sebagai identitas masyarakat itu sendiri. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakatnya memiliki cara tersendiri dalam menjaga kearifan lokal dengan memanfaatkan sumber pangan yang ada. Mulai dari umbi-umbian, biji-bijian, hingga hasil laut, semuanya tidak hanya dimakan, tapi juga dijaga lewat tradisi, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Nah, berikut ini jenis pangan lokal khas dari berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat masih melestarikannya dan menjadi bagian dari ritual adat mereka. 1. Ubi Banggai Ubi Banggai, sumber pangan juga identitas masyarakat di Pulau Peleng. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia Di Pulau Peleng, Sulawesi Tenggara, ubi banggai merupakan pangan utama masyarakat setempat yang tumbuh subur di tanah karst. Rasa ubi ini seperti kentang…This article was originally published on Mongabay
Kisah Pangan Lokal yang Menjaga Budaya
Kisah Pangan Lokal yang Menjaga Budaya





Comments are closed.