Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Panggilan Haji: Dari Seruan Ibrahim AS ke Tanggung Jawab Perhajian Hari Ini

Panggilan Haji: Dari Seruan Ibrahim AS ke Tanggung Jawab Perhajian Hari Ini

panggilan-haji:-dari-seruan-ibrahim-as-ke-tanggung-jawab-perhajian-hari-ini
Panggilan Haji: Dari Seruan Ibrahim AS ke Tanggung Jawab Perhajian Hari Ini
service

Allah SWT berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai setiap unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” QS. Al-Hajj: 27.

Ayat ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Haji tidak bermula dari promosi, fasilitas, atau kemudahan transportasi. Haji bermula dari panggilan Allah. Nabi Ibrahim AS hanya diminta menyeru. Allah sendiri yang menjamin sampainya seruan itu ke hati manusia.

Dalam Tafsir Ath-Thabari, Abu Ja’far menjelaskan bahwa makna “wa adzdzin” adalah “a’lim wa nadi”, yaitu beritahukan dan serulah manusia. Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk memanggil manusia agar menunaikan haji ke Baitullah. Ketika Ibrahim merasa suaranya tidak akan mampu menjangkau manusia, Allah memerintahkannya untuk tetap menyeru. Tugas Ibrahim adalah menyampaikan. Urusan sampainya seruan itu adalah milik Allah.

Riwayat yang dikutip Ath-Thabari menyebutkan:

لما فرغ إبراهيم من بناء البيت قيل له: أذّن في الناس بالحج، قال: ربّ وما يبلغ صوتي؟ قال: أذّن وعليّ البلاغ، فنادى إبراهيم: أيها الناس كُتب عليكم الحجّ إلى البيت العتيق فحجوا

“Ketika Ibrahim selesai membangun Baitullah, dikatakan kepadanya: serulah manusia untuk mengerjakan haji. Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana suaraku akan sampai? Allah berfirman: serulah, dan Akulah yang menyampaikan. Maka Ibrahim menyeru: Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian haji menuju Baitullah Al-‘Atiq. Maka berhajilah.”

Di sinilah letak rahasia haji. Setiap jemaah yang datang ke Tanah Suci bukan sekadar manusia yang membeli tiket, mengurus paspor, menjalani manasik, dan masuk dalam daftar keberangkatan. Mereka adalah orang-orang yang sedang menjawab panggilan. Mereka datang karena ada suara iman yang telah lebih dahulu menetap di dalam hati.

Memberi makna spiritual yang kuat

Ath-Thabari mengutip riwayat lain dari Ibnu Abbas:

قام إبراهيم خليل الله على الحجر، فنادى: يا أيها الناس كُتب عليكم الحجّ، فأسمع من في أصلاب الرجال وأرحام النساء، فأجابه من آمن من سبق في علم الله أن يحج إلى يوم القيامة: لبّيك اللهم لبّيك

“Ibrahim Khalilullah berdiri di atas batu, lalu berseru: Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian haji. Maka Allah memperdengarkan seruan itu kepada orang-orang yang masih berada dalam tulang sulbi kaum laki-laki dan dalam rahim kaum perempuan. Lalu orang yang beriman, yang telah lebih dahulu ada dalam ilmu Allah bahwa ia akan berhaji sampai hari kiamat, menjawab: Labbaik Allahumma labbaik.”

Riwayat ini memberi makna spiritual yang kuat. Talbiyah bukan ucapan yang tiba-tiba muncul di miqat. Talbiyah adalah jawaban batin yang panjang. Ia bermula dari panggilan Ibrahim. Ia hidup dalam kesadaran umat. Ia diucapkan kembali saat manusia memasuki ihram.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Dalam talbiyah, manusia mengakui bahwa dirinya bukan pusat kehidupan. Yang dipenuhi bukan ambisi pribadi. Yang dijawab bukan panggilan dunia. Yang diikuti adalah seruan Allah. Maka haji sejatinya adalah perjalanan menundukkan ego. Manusia melepaskan pakaian status, gelar, jabatan, kekayaan, dan kebanggaan sosial. Semua berdiri dalam kain yang sama. Semua berjalan menuju titik penghambaan yang sama.

Ath-Thabari juga menjelaskan makna “ya’tuka rijalan”, yaitu manusia datang dengan berjalan kaki. Mereka datang dengan kekuatan sendiri, dengan tekad yang tinggi, dan dengan kesungguhan yang nyata. Ibnu Abbas berkata:

يَأْتُوكَ رِجَالًا قال: مشاة

“Makna ‘mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki’ adalah mereka datang sebagai orang-orang yang berjalan kaki.”
Bahkan ada riwayat yang menyebutkan:

ما آسى على شيء فاتني إلا أن لا أكون حججت ماشيا، سمعت الله يقول: يأتوك رجالا

“Tidak ada sesuatu yang aku sesali dari apa yang luput dariku kecuali karena aku tidak berhaji dengan berjalan kaki. Aku mendengar Allah berfirman: mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki.”

Namun ayat itu juga menyebut “wa ‘ala kulli dhamir”, dengan mengendarai setiap unta yang kurus. Ath-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah unta yang kurus karena menempuh perjalanan jauh. Haji sejak awal memadukan dua hal. Ada kesungguhan manusia. Ada pula sarana yang membantu manusia sampai kepada tujuan. Ada riyadhah jiwa. Ada pula ikhtiar teknis. Ada panggilan langit. Ada jalan bumi yang harus dikelola.

Di sinilah ayat ini menjadi sangat relevan bagi realitas perhajian hari ini. Kini jemaah tidak lagi datang dengan berjalan kaki dari pelosok negeri. Mereka datang dengan pesawat, bus, kereta cepat, sistem visa, aplikasi digital, gelang identitas, kartu Nusuk, layanan kesehatan, konsumsi, hotel, dan manajemen pergerakan massa. Namun substansinya tetap sama. Mereka datang “min kulli fajjin ‘amiq”, dari segenap penjuru yang jauh.

Ath-Thabari menafsirkan “fajj ‘amiq” sebagai jalan, tempat, dan jalur yang jauh. Qatadah menjelaskan:

فَجٍّ عَمِيقٍ قال: مكان بعيد

“Fajj ‘amiq berarti tempat yang jauh.”

Hari ini, “jalan yang jauh” bukan hanya jarak geografis. Ia juga jarak sosial, usia, kesehatan, kemampuan fisik, keterbatasan ekonomi, perbedaan bahasa, literasi digital, dan kompleksitas regulasi. Seorang jemaah lansia menempuh jalan yang jauh bukan hanya dari rumahnya ke Makkah, tetapi juga dari keterbatasan tubuhnya menuju kesempurnaan ibadah. Jemaah disabilitas menempuh jalan yang jauh bukan hanya di antara tenda dan jamarat, tetapi juga melewati tantangan akses, tanda pengenal, pendampingan, dan pemahaman lingkungan. Jemaah perempuan menempuh jalan yang jauh dalam kebutuhan perlindungan, ruang aman, dan layanan yang peka terhadap kondisi mereka.

Karena itu, perhajian modern tidak cukup dikelola sebagai urusan administratif. Ia harus dikelola sebagai amanah spiritual. Kementerian Haji dan Umrah pada musim haji 2026 menekankan layanan “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”, serta memperkuat bimbingan ibadah menjelang fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina agar jemaah dapat beribadah dengan benar, tertib, aman, dan sesuai tuntunan syariat. 

Masalah perhajian hari ini juga semakin kompleks. Ada tantangan kepadatan di Armuzna. Ada pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina. Ada kebutuhan murur bagi lansia dan jemaah risiko tinggi. Ada persoalan disiplin barang bawaan. Ada masalah pemahaman ihram. Ada jemaah yang sakit, lelah, tersesat, atau tidak memahami alur layanan. Ada pula ancaman haji nonprosedural dan layanan yang tidak resmi. Semua ini menunjukkan bahwa panggilan haji yang suci harus dijawab dengan sistem yang rapi, petugas yang sigap, dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan jemaah.

Dalam laporan operasional haji 2026, Kemenhaj memperkuat edukasi ihram bagi jemaah gelombang kedua, mengingatkan penggunaan pakaian ihram sejak embarkasi, serta menekankan layanan bagi lansia, disabilitas, dan kelompok rentan. Pada saat yang sama, suhu Makkah dan Madinah yang tinggi menuntut jemaah menjaga fisik, memperbanyak istirahat, memenuhi cairan tubuh, dan segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan. 

Di titik ini, Tafsir Ath-Thabari memberi pelajaran penting. Nabi Ibrahim AS menyeru. Allah menyampaikan. Manusia datang. Tetapi kedatangan manusia itu tetap melalui jalan. Jalan itulah yang hari ini harus ditata. Jalan itu adalah regulasi, transportasi, kesehatan, bimbingan ibadah, akomodasi, konsumsi, pelindungan, komunikasi publik, dan koordinasi antarpetugas.

Maka tugas penyelenggara haji bukan menggantikan panggilan Allah. Tugas penyelenggara adalah memuliakan orang-orang yang sedang menjawab panggilan itu. Setiap jemaah adalah tamu Allah. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai angka dalam manifest semata. Mereka adalah manusia yang membawa doa, tangis, harapan keluarga, bekal hidup, dan kerinduan yang mungkin telah tumbuh puluhan tahun.

Rasulullah SAW bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”

Hadis ini menegaskan bahwa haji harus ditunaikan dengan ilmu. Haji bukan hanya semangat. Haji harus sesuai tuntunan. Karena itu, bimbingan manasik bukan pelengkap administratif. Ia inti pelayanan. Jemaah yang paham manasik akan lebih tenang. Jemaah yang tenang akan lebih tertib. Jemaah yang tertib akan membantu keselamatan kolektif. Sebaliknya, lemahnya pemahaman ibadah dapat melahirkan kebingungan, kepanikan, dan kesalahan dalam fase puncak haji.

Rasulullah SAW juga bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

Hadits ini mengarahkan seluruh kerja perhajian kepada satu tujuan besar, yaitu haji mabrur. Haji mabrur tidak hanya ditandai dengan sahnya rukun dan wajib haji. Ia juga tampak pada akhlak, kesabaran, kepedulian, dan perubahan hidup setelah kembali ke tanah air. Maka penyelenggaraan haji harus mengawal tiga dimensi sekaligus. Sah ibadahnya. Selamat jemaahnya. Berubah akhlaknya.

Realitas perhajian kini menuntut kesadaran baru. Pertama, jemaah harus menyadari bahwa memenuhi panggilan haji berarti siap disiplin. Disiplin waktu, disiplin barang bawaan, disiplin kesehatan, disiplin mengikuti arahan petugas, dan disiplin menjaga sesama. Tidak semua keinginan pribadi dapat dipenuhi di tengah jutaan manusia. Haji melatih manusia untuk mengalah tanpa merasa kalah.

Kedua, petugas harus menyadari bahwa melayani jemaah adalah ibadah. Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, pelayanan bukan pekerjaan biasa. Ia menjadi bagian dari pengabdian kepada tamu Allah. Petugas harus kuat secara fisik, jernih dalam mengambil keputusan, peka terhadap kelompok rentan, dan sabar menghadapi keluhan. Satu keputusan kecil dapat berdampak besar bagi keselamatan jemaah.

Ketiga, negara harus hadir dengan sistem yang makin akuntabel. Panggilan haji memang bersifat ilahiah, tetapi penyelenggaraannya membutuhkan tata kelola yang manusiawi. Layanan haji harus terus dibangun dengan data yang kuat, mitigasi risiko, komunikasi yang jelas, serta integrasi antara urusan ibadah dan urusan layanan. Keterlambatan pergerakan, kepadatan jalur, kelemahan koordinasi, dan kekurangan informasi harus menjadi bahan perbaikan, bukan sekadar catatan tahunan. Pengalaman pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina yang pernah mengalami keterlambatan pada musim haji sebelumnya menunjukkan pentingnya evaluasi operasional yang konkret dan berkelanjutan. 

Keempat, masyarakat harus dilindungi dari jalur haji nonprosedural. Orang yang rindu berhaji mudah tergoda janji cepat, murah, dan tidak jelas. Padahal panggilan haji tidak boleh dijawab dengan jalan yang melanggar aturan. Keinginan suci harus ditempuh dengan cara yang suci pula. Haji membutuhkan kemampuan, legalitas, dan kepastian perlindungan. Tanpa itu, jemaah dapat menjadi korban penelantaran, deportasi, atau masalah hukum.

Kelima, seluruh ekosistem haji harus kembali kepada makna talbiyah. Labbaik bukan hanya ucapan di lisan. Labbaik adalah kesiapan untuk taat. Labbaik berarti jemaah siap dibimbing. Petugas siap melayani. Pemerintah siap bertanggung jawab. Keluarga siap melepas dengan doa. Masyarakat siap menjaga kejujuran dalam ekosistem haji.

Haji panggilan yang melintasi zaman

Ayat “wa adzdzin fin nasi bil hajj” mengajarkan bahwa haji adalah panggilan yang melintasi zaman. Nabi Ibrahim AS menyeru dari satu tempat. Allah menyampaikan ke seluruh penjuru. Sejak itu manusia terus bergerak menuju Baitullah. Ada yang berjalan kaki. Ada yang berkendaraan. Ada yang datang dari lembah jauh. Ada yang datang dari pulau-pulau, desa-desa, kota-kota, dan negeri-negeri yang sangat jauh.

Namun jarak terjauh dalam haji bukan jarak antara Indonesia dan Makkah. Jarak terjauh adalah jarak antara manusia dan kepasrahan. Banyak orang sampai ke Tanah Suci, tetapi belum tentu sampai kepada makna. Banyak orang mengucapkan talbiyah, tetapi belum tentu menyerahkan egonya. Banyak orang thawaf mengelilingi Ka’bah, tetapi hatinya masih berputar mengelilingi kepentingan diri.

Karena itu, panggilan haji harus dibaca sebagai panggilan untuk kembali. Kembali kepada Allah. Kembali kepada keikhlasan. Kembali kepada kesederhanaan. Kembali kepada persaudaraan. Kembali kepada tanggung jawab kemanusiaan.

Bagi jemaah, haji adalah latihan untuk menjadi hamba. Bagi petugas, haji adalah medan khidmah. Bagi pemerintah, haji adalah amanah besar untuk memastikan ibadah berjalan sah, aman, manusiawi, dan bermartabat. Bagi bangsa, haji adalah cermin. Dari sana kita dapat melihat apakah kita telah cukup disiplin, cukup peduli, cukup tertib, dan cukup memuliakan manusia.
Tafsir Ath-Thabari mengingatkan bahwa ketika Ibrahim menyeru, segala yang mendengar menjawab:

لبّيك اللهم لبّيك

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu.”

Jawaban itu tidak boleh berhenti di miqat. Ia harus hidup dalam perilaku. Ia harus tampak dalam kesabaran jemaah. Ia harus tampak dalam ketulusan petugas. Ia harus tampak dalam kebijakan yang melindungi yang lemah. Ia harus tampak dalam keberanian memperbaiki sistem. Ia harus tampak dalam kesungguhan menjaga haji dari praktik yang tidak prosedural.

Panggilan haji adalah panggilan Allah. Tetapi memuliakan orang yang menjawab panggilan itu adalah tanggung jawab kita. Di situlah nilai terdalam perhajian hari ini. Haji bukan hanya tentang manusia yang datang ke Baitullah. Haji juga tentang bagaimana kita menjaga agar perjalanan menuju Baitullah menjadi jalan keselamatan, jalan ilmu, jalan adab, dan jalan kembali kepada Allah.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.