Pekalongan, Arina.id — Lumpur menempel di kaki-kaki perempuan pesisir itu. Tangan mereka basah oleh air payau. Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika satu per satu bibit mangrove mulai ditanam di pesisir Mulyorejo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Minggu (24/5/2026).
Tidak ada kemewahan di tempat itu. Hanya lumpur, ombak kecil, dan semangat menjaga kehidupan yang terus tumbuh di antara akar-akar mangrove.
Di kawasan Eduwisata Mangrove Banawa Sekar Mulyo Asri, Tim Riset The Mora Air Funds 2026 UIN Gusdur bersama Kementerian Agama dan LPDP menggelar program Mangrove Lifestyle: Inovasi dan Hilirisasi. Kegiatan ini menjadi bagian dari riset bertajuk Dekolonialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim: Gerakan Perempuan Pesisir Menjaga Tradisi, Ekonomi dan Lingkungan yang Berkelanjutan.
Program itu bukan sekadar agenda seremonial penanaman pohon. Ia menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, pengalaman hidup masyarakat pesisir, dan kesadaran ekologis yang tumbuh dari bawah.
Kegiatan dimulai dengan morning move. Peserta berjalan menyusuri kawasan mangrove yang hijau dan lembap. Angin laut berembus pelan. Suasana terasa tenang, tetapi menyimpan pesan besar tentang ancaman abrasi dan perubahan iklim yang terus membayangi wilayah pesisir utara Jawa.
Peserta diajak mengikuti proses pembibitan mangrove. Bibit-bibit kecil disusun rapi di dalam polybag hitam. Sebagian peserta tampak telaten memasukkan lumpur ke wadah pembibitan. Sebagian lain menata propagul mangrove dengan hati-hati agar dapat tumbuh kuat. Di tangan perempuan pesisir, proses itu bukan sekadar menanam tanaman. Mereka sedang menanam harapan. Menanam perlindungan bagi kampung mereka sendiri.
Ketua Tim Riset The Mora Air Funds 2026, Prof Maghfur Ahmad, menegaskan bahwa mangrove memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pohon pelindung pantai.
“Mangrove tidak semata-mata pohon. Mangrove adalah peradaban, pengetahuan, ideologi, dan sumber kehidupan,” ujarnya dalam pembukaan kegiatan.
Pernyataan itu menggema kuat di tengah kawasan pesisir. Sebab bagi masyarakat pantai, mangrove adalah benteng terakhir dari abrasi, rob, dan kerusakan lingkungan yang perlahan menggerus kehidupan mereka.
Usai pembibitan, peserta bergerak menuju area penanaman. Mereka berjalan perlahan melewati lumpur yang licin. Sesekali terdengar tawa ketika kaki terjebak tanah basah. Namun tidak ada yang berhenti. Semua terus bergerak membawa bibit mangrove di tangan.
Dengan pendampingan Ketua Banawa Sekar, Ridho, serta fasilitator Tayo dan Hendri, peserta mulai menanam bibit di sepanjang pesisir. Tangan-tangan itu menekan lumpur perlahan agar akar mangrove tertanam kuat.
Ridho menjelaskan bahwa penanaman mangrove harus dilakukan dengan kesabaran dan ketelatenan. Sebab mangrove bukan tanaman instan. Ia tumbuh perlahan, tetapi manfaatnya dapat menjaga kehidupan dalam waktu panjang. “Kalau mangrove hilang, pesisir kehilangan pelindungnya. Karena itu, menanam mangrove sama dengan menjaga masa depan,” katanya.
Kegiatan penanaman berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Tidak ada sekat antara akademisi, warga, dan peserta. Semua larut dalam kesadaran yang sama bahwa perubahan iklim harus dihadapi dengan tindakan nyata.
Di samping pembibitan dan penanaman, peserta juga mengikuti edukasi pengolahan mangrove menjadi sirup, dodol, hingga menyaksikan proses eco-print Batik Mangrove. Program ini menunjukkan bahwa mangrove bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan budaya yang besar.
Terinspirasi dari sudut pesisir Mulyorejo, mangrove hari itu tumbuh bukan hanya di lumpur pantai. Ia tumbuh di hati banyak orang. Terutama perempuan-perempuan pesisir yang diam-diam sedang menjaga bumi dengan tangan mereka sendiri.




Comments are closed.