Bandara Sugimanuru, Bandara Peninggalan Jepang di Muna Barat
Tahukah Kawan GNFI bahwa Jepang meninggalkan sedikit legasi untuk Indonesia pasca-mangkir dari Bumi Pertiwi di tahun 1945? Salah satu peninggalannya yang masih ada adalah Bandara Sugimanuru.
Kawan GNFI, nama bandara ini memang terdengar unik dan terkesan sedikit “Jepang”. Namun, nama “Sugimanuru” ternyata diambil dari nama Raja dari Kerajaan Muna yang ke-VI, Sugi Manuru.
Dikatakan bahwa Sugi Manuru adalah raja yang adil dan bijaksana. Ia punya wawasan yang sangat luas dan sangat ahli dalam merumuskan ilmu ketatanegaraan di Kerajaan Muna. Saking pandainya, ia sampai mendapatkan gelar Omputo Mepasokino Adhati yang berarti Raja yang menetapkan hukum, adat, nilai-nilai, dan falsafah berbangsa dan bernegara.
Konon, Sugi Manuru menjadi sosok yang berhasil membawa Kerajaan Muna dalam berbagai aspek di ranah yang positif.Oleh karena itu, penamaan bandara bersejarah dengan nama Sang Raja tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap Sugimanuru yang adil nan bijaksana.
Profil dan Sejarah Bandara Sugimanuru yang Merupakan Peninggalan Jepang
Terletak di Jalan Poros Bandara Desa Kusambi, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, Bandara Sugimanuru adalah bandara Kelas III yang melayani penerbangan domestik. Bandara ini memiliki kode WAWR (ICAO) dan RAQ (IATA).
Disadur dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, Bandara Sugimanuru memiliki runway sepanjang 1.600 x 30 m. Dikarenakan Bandara Sugimanuru masuk ke dalam kategori bandara kecil, tak banyak fasilitas “khas” bandara seperti hal-nya yang bisa ditemukan di bandara besar seperti Juanda atau Soekarno-Hatta.
Bandara Sugimanuru adalah salah satu bandara yang dibangun di era kependudukan Jepang (1942-1945). Kala itu, untuk mendukung operasi militernya, Jepang membangun berbagai bandar udara, seperti Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Bandara Selokan di Mataram, dan Bandara Leo Wattimena di Maluku Utara, dan Bandara Sugimanuru di Muna.
Bandara-bandara itu digunakan untuk sebagai pangkalan militer, fasilitas pertahanan udara, sekaligus mengamankan wilayah jajahan mereka yang kaya akan sumber daya mineral. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dianggap sangat strategis bagi Jepang untuk menguasai wilayah Asia Tenggara dan Pasifik kala itu.
Namun, setelah Indonesia merdeka, bandara ini sempat tidak digunakan selama beberapa waktu. Di era Orde Baru, tepatnya pada 1982, runway Bandara Sugimanuru diperbaiki. Kemudian, bandara tersebut mulai doperasikan di tahun 1984.
Akan tetapi, setelah difungsikan untuk melayani penerbangan domestik jarak dekat selama beberapa tahun, bandara ini kembali nonaktif. Tahun 2005, bandara peninggalan Jepang itu diaktifkan kembali.
Tahun 2007, pemerintah membangun runway baru. Hal ini dilakukan karena runway lama tidak akan digunakan kembali akibat beberapa faktor teknis.
Bandara Sugimanuru melayani penerbangan komersial yang menghubungkan Makassar dengan Muna Barat. Saat ini, pengelolaan Bandara Sugimanuru dilakukan di bawah UPT Ditjen Hubud, Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.