Kampung Indonesia di Yingde: Menengok Para Yinni Guiqiao yang Merawat Tradisi Indonesia di Pelosok Tiongkok
Tahukah Kawan GNFI jika di Kota Yingde di Provinsi Guangdong, Tiongkok, ada perkampungan yang disebut sebagai Kampung Indonesia? Julukan ini bukan tanpa sebab. Masyarakat yang tinggal di sana adalah orang-orang yang lahir dan besar di Indonesia, tapi kembali ke Tiongkok.
Mereka disebut dengan Yinni Guiqiao. Yinni adalah “Indonesia” dalam bahasa Tiongkok, sedangkan Guiqiao merujuk pada mereka yang lahir dan tinggal selama beberapa waktu di luar Tiongkok dan “pulang” atau bermigrasi ke Tiongkok. Migrasi besar-besaran pada Guiqiao ini terjadi di sekitar tahun 1950-an dan 1960-an.
Meskipun para Yinni Guiqiao ini lahir dan dibesarkan di Indonesia (bahkan banyak yang tinggal di Indonesia sampai tua), mereka yang kembali ke “tanah leluhur”-nya ini seluruhnya sudah menjadi warga negara Tiongkok.
Menariknya, orang-orang Yinni Guiqiao juga banyak yang masih fasih berbahasa Indonesia. Selain itu, budaya khas Indonesia pun masih lumrah dijumpai di perkampungan mereka.
Awal Mula Kedatangan Orang Tionghoa-Indonesia ke Yingde
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Huang Jing di CityUHK Scholars, disebutkan bahwa Yinni Guiqiao atau orang-orang Tionghoa-Indonesia ini terpaksa bermigrasi ke Tiongkok akibat adanya Peraturan Presiden No. 10 Tahun 1959 yang melarang warga asing berdagang di ranah eceran daerah pedesaan.
Walhasil, pemerintah Tiongkok pun “menampung” mereka. Orang-orang ini kemudian disebar di berbagai wilayah pedesaan melalui program Huaqiao Farm. Ada sekitar 80-an kawasan pertanian di Guangdong, Guangxi, Fujian, Yunnan, dan lainnya, di mana ada 13 kampung dengan mayoritas penduduk berasal dari Indonesia.
Salah satu tempat yang terbesar dan terkenal dan banyak berisikan banyak orang Tionghoa-Indonesia adalah Yingde. Pemerintah Tiongkok menempatkan mereka di sana untuk membuka lahan dan bekerja sebagai buruh tani.
Banyak Yinni Guiqiao yang mengalami gegar budaya. Selama puluhan tahun, mereka tinggal di Indonesia, bahkan mengganggap diri mereka sebagai orang Indonesia. Saat pindah negara, tentu saja mereka harus beradaptasi.
Di Indonesia, mayoritas Yinni Guiqiao bekerja sebagai pelaku usaha meskipun kecil-kecilan. Namun, justru mereka merasa memiliki ekonomi yang relatif berkecukupan.
Sebaliknya, begitu mereka tiba di Yingde, kehidupan pun berubah 180 derajat. Mereka harus mulai belajar bekerja kasar sebagai petani dan menggarap ladang seperti halnya penduduk lokal dengan upah yang minim.
Bahkan, banyak keturunan Indonesia di Yingde yang merasa tidak kuat dengan kehidupan yang baru ini. Hal tersebut memicu gelombang eksodus besar di tahun 1970-an, di mana banyak di antara mereka yang memutuskan keluar Tiongkok daratan dan pergi menuju Hong Kong atau Makau demi kehidupan yang “lebih baik”.
Cita Rasa Indonesia di Tiongkok
Meskipun tinggal nun jauh dari tanah kelahiran, para Yinni Guiqiao ternyata masih sangat melestarikan budaya Indonesia. Bahkan, masih ada yang fasih bercakap dengan bahasa Indonesia.
Keturunan Indonesia di Yingde membentuk sub-etnis sendiri yang sangat unik. Mereka memadukan identitas budaya campuran (hybrid) antara Indonesia dan Tiongkok.
Saking “lokal”-nya, makanan seperti rendang, sate, lapis legit, krupuk, dan jajanan pasar khas Indonesia masih sering dibuat dan dikonsumsi. Uniknya lagi, ada yang berkomunikasi dengan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Hakka ata Kantonis, serta bahasa Mandarin. Bahkan, ada juga yang masih lancar berbahasa Jawa dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, seni tradisional khas Indonesia juga masih bisa ditemukan di sana, termasuk angklung dan batik. Saat peringatan HUT RI, banyak di antara mereka yang akan pergi ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou untuk merayakan hari jadi Indonesia bersama dengan masyarakat dan staf Indonesia.
Akan tetapi, tak semuanya masih terafiliasi dengan identitas Indonesianya, utamanya generasi muda. Banyak anak-anak para Yinni Guiqiao yang lahir dan besar di Tiongkok menganggap diri mereka adalah orang lokal Tiongkok dan tidak begitu tertarik dengan bahasa maupun budaya Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.