Mon,1 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Peringatan Hari Lahir Pancasila, DPR Ingatkan Bahaya Kesenjangan Ekonomi

Peringatan Hari Lahir Pancasila, DPR Ingatkan Bahaya Kesenjangan Ekonomi

peringatan-hari-lahir-pancasila,-dpr-ingatkan-bahaya-kesenjangan-ekonomi
Peringatan Hari Lahir Pancasila, DPR Ingatkan Bahaya Kesenjangan Ekonomi
service

KABARBURSA.COM – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni dinilai tidak semestinya berhenti pada rangkaian acara simbolik semata. Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Firman Soebagyo, menegaskan bahwa momen tersebut harus menjadi ruang refleksi kolektif untuk memperkuat kembali komitmen terhadap nilai-nilai dasar bangsa.

“Peringatan 1 Juni bukan sekadar seremoni. Ini merupakan pengingat bahwa Pancasila adalah pondasi utama yang menyangga bangunan besar bernama Indonesia. Ketika pondasi itu mulai rapuh, seluruh struktur kebangsaan akan ikut terancam,” ujar Firman dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Menurutnya, hingga kini masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang membuat nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya hadir dalam realitas kehidupan masyarakat. Tantangan tersebut bukan bersifat teoritis, melainkan nyata dan dirasakan oleh berbagai lapisan warga negara.

Persoalan pertama adalah ketimpangan ekonomi. Firman menilai implementasi sila kelima, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, masih menghadapi banyak hambatan. Kelompok petani, nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga tenaga pendidik masih berhadapan dengan berbagai kendala struktural serta regulasi yang dinilai belum berpihak sepenuhnya kepada mereka.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan menguatnya polarisasi identitas. Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut menyoroti bahwa sila ketiga tentang Persatuan Indonesia tengah menghadapi ujian yang tidak ringan di tengah derasnya arus digitalisasi, penyebaran informasi palsu, serta menguatnya politik identitas yang berkembang melalui media sosial.

Selain itu, Firman juga menyinggung pentingnya keteladanan dari para pemegang kekuasaan. Menurutnya, pengamalan sila kedua mengenai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus terlebih dahulu tercermin dalam sikap para pejabat publik, elite pemerintahan, dan tokoh masyarakat yang menjadi panutan publik.

“Kami tidak meminta masyarakat hanya menghafal Pancasila. Yang dibutuhkan adalah menghidupkan, menghayati, dan menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari warung kecil, lahan pertanian, kawasan industri, hingga institusi pemerintahan. Ketika negara benar-benar hadir untuk rakyat kecil, Pancasila akan tumbuh secara alami,” tegasnya.

Sebagai anggota MPR RI yang aktif menyosialisasikan Empat Pilar MPR RI hingga ke berbagai pelosok desa, Firman juga menaruh perhatian besar pada penguatan pendidikan ideologi sejak usia dini.

Ia mengusulkan agar pembacaan teks Pancasila dilakukan secara rutin di lingkungan sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kegiatan tersebut dapat disertai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bagian dari pembentukan karakter kebangsaan.

Gagasan serupa, lanjutnya, juga layak diterapkan di lingkungan pemerintahan, mulai dari desa, kecamatan, kabupaten dan kota, hingga instansi pemerintah di tingkat pusat. Langkah tersebut diyakini mampu memperkuat internalisasi nilai-nilai kebangsaan secara berkelanjutan.

“Melalui pembiasaan yang konsisten, ideologi Pancasila akan semakin mudah dipahami, diresapi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari masyarakat,” pungkas Firman.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.