Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan

Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan

tragedi-lumpur-lapindo,-derita-warga-tak-berkesudahan
Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan
service

Belasan korban lumpur Lapindo berjalan kaki dari Taman Dwarakerta menuju tanggul  yang berjarak sekitar 300 meter. Masing-masing orang membawa tampah atau alat penampi beras berisi beberapa hasil bumi, makanan dan minuman sebagai sesaji saat ritual sambang buyut. Doa-doa dan kidung Jawa dilantunkan sepanjang perjalanan. Bendara merah putih mereka tancapkan begitu sampai di atas tanggul. Sejenak  suasana hening, hanya terdengar lantunan doa yang warga kirim untuk leluhur desa yang terkubur lumpur bersama ribuan rumah di  Porong. Ritual itu menandai peringatan tragedi luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang kini memasuki dua dekade sejak semburan pertama  29 Mei 2006. Harwati, warga korban lumpur Lapindo asal Desa Siring  mengatakan, selain mengenang para leluhur, ritual itu  untuk mengingatkan dampak ekstraktivisme yang berubah menjadi petaka paling besar. “Ritual ini pertama ingin silaturahmi pada ahli kubur, ahli waris, dan yang mendirikan desa, dengan ritual Jawa. Kita bawa ini kepada leluhur sambil kirim doa dengan kepercayaan masing-masing,” katanya, Jumat (29/5/26). Selama 20 tahun lumpur Lapindo menyembur dan menimbun tanah leluhur dan kampung halaman, kehidupan warga di tempat baru bukan menjadi lebih baik. Alih-alih, justru lebih buruk. Menurut Harwati, sistem kependudukan digital menyulitkan warga korban lumpur yang hidup terpencar sulit untuk mengakses hak kependudukan, seperti pendataan penduduk, jaminan kesehatan, bantuan sosial, hingga hak suara dalam pemilu. “Kita mau menuntut adanya pemulihan, karena soal lingkungan belum dipulihkan, data korban belum kembali seperti sedia kala, karena warga tidak memberitahukan kepindahannya karena situasi yang memang sulit,” katanya. Bahkan, meski sudah dua dekade berlalu, masih banyak warga belum terima ganti rugi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.