Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jejak Flora dan Fauna di Relief Candi Bumiayu

Jejak Flora dan Fauna di Relief Candi Bumiayu

jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu
Jejak Flora dan Fauna di Relief Candi Bumiayu
service

Banyak jejak kekayaan hayati di Indonesia di masa lalu terekam dari sejumlah artefak sejarah. Dari masa purba hingga moderen. Salah satunya, tersimpan rapi di Candi Bumiayu, yang berada di kawasan lahan basah Sumatera Selatan. Candi Bumiayu ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai cagar budaya nasional pada 2024. Kompleks percandian yang berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, ini diperkirakan usianya sama dengan Candi Muaro Jambi (Jambi) dan Muara Takus (Riau) pada masa Kedatuan Sriwijaya. Candi Bumiayu merupakan percandian Hindu beraliran Siwa, memiliki pengaruh Buddha, yang dibangun pada abad ke IX-XII. Candi ini berada di wilayah lahan basah Sungai Lematang yang terhubung dengan lahan basah Penukal. Lahan basahnya berupa rawa gambut, danau, puluhan sungai, serta puluhan talang yang terlihat seperti pulau, saat musim penghujan. Di masa lalu, lahan basah tersebut kaya flora dan fauna, baik yang berada di perairan maupun daratan. Tapi sejalan perubahan bentang alam, seperti permukiman, perkebunan, serta infrastruktur lainnya, kekayaan tersebut mulai berkurang atau hilang. Bagaimana jejak kekayaan flora dan fauna lahan basah tersebut? Kasmin, warga Desa Tempirai menunjukkan tempurung byuku di kebunnya di sekitar Desa Tempirai, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Menurunnya populasi byuku disebabkan oleh habitat yang rusak dan adanya perdagangan ilegal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), menjelaskan kekayaan flora dan fauna lahan basah dapat dibaca dari berbagai relief dan patung yang ditemukan di Percandian Bumiayu. Untuk fauna, seperti burung nuri, burung kuntul, burung beo, buaya rawa, ular,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.