Bagi banyak orang Sunda, lalapan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi makan sehari-hari. Daun kemangi, leunca, pohpohan, dan selada air masih mudah ditemukan di meja makan masyarakat Jawa Barat. Namun ada satu jenis lalab yang kini semakin jarang dikenal, yaitu reundeu (Staurogyne elongata). Padahal tanaman ini tidak hanya dapat dikonsumsi sebagai lalapan, tetapi juga memiliki nilai budaya, sejarah, dan potensi kesehatan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Nama reundeu memiliki hubungan yang erat dengan Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi, Jawa Barat. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa nama Cireundeu berasal dari gabungan kata “ci” yang berarti air dan “reundeu” yang merujuk pada tanaman tersebut. Jika dugaan ini benar, maka keberadaan reundeu bukan sekadar bagian dari kekayaan hayati lokal, melainkan juga bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Tumbuh di Tempat Teduh
Reundeu merupakan tanaman berukuran relatif kecil dengan tinggi sekitar 15 sentimeter. Batangnya tumbuh tegak dengan tangkai yang lunak dan berdaging. Daunnya berbentuk memanjang, berukuran cukup besar, serta tumbuh saling berhadapan. Ketika berbunga, tanaman ini menghasilkan bunga berwarna ungu yang muncul dalam bentuk tandan.
Di alam, reundeu umumnya ditemukan di lingkungan yang lembap dan teduh. Pengamatan di wilayah Cireundeu menunjukkan bahwa tanaman ini banyak tumbuh di pekarangan rumah, tepian sungai yang airnya masih jernih, serta area yang belum tercemar limbah. Reundeu juga relatif mudah dibudidayakan melalui stek batang maupun penanaman biji, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai tanaman pangan maupun tanaman obat keluarga.
Dari Lalapan hingga Obat Tradisional
Selama bertahun-tahun, masyarakat adat di sejumlah wilayah Jawa Barat telah memanfaatkan reundeu sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari. Daun mudanya dapat dimakan langsung sebagai lalapan mentah atau direbus sebentar sebelum disajikan. Di beberapa komunitas adat seperti Kasepuhan Ciptagelar dan Ciptarasa di Sukabumi, tanaman ini juga dikenal sebagai bahan ramuan herbal tradisional.
Penelitian etnomedisin terbaru di Kampung Adat Cireundeu menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai reundeu masih bertahan di tengah masyarakat. Sebanyak 32 persen responden mengaku menggunakan tanaman ini sebagai obat tradisional. Pengetahuan tersebut sebagian besar diperoleh dari orang tua atau keluarga. Menariknya, hampir setengah responden memanfaatkan reundeu untuk membantu mengatasi masalah batu ginjal, sementara cara penggunaan yang paling umum adalah mengonsumsinya sebagai lalapan.
Dalam pengobatan tradisional, reundeu juga dipercaya dapat membantu mengatasi kesulitan buang air kecil, batu kandung kemih, serta gangguan persendian. Meskipun sejumlah manfaat tersebut masih memerlukan penelitian klinis yang lebih mendalam, keberadaan pengetahuan lokal ini menunjukkan bahwa reundeu telah lama menjadi bagian dari praktik kesehatan masyarakat.
Menyimpan Senyawa Aktif
Perhatian para peneliti terhadap reundeu semakin meningkat setelah berbagai studi menemukan kandungan senyawa bioaktif di dalam daunnya. Analisis laboratorium menunjukkan adanya flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, polifenol, steroid, triterpenoid, serta berbagai metabolit sekunder lainnya yang sering dikaitkan dengan aktivitas biologis penting.
Salah satu temuan yang menarik adalah kemampuan antioksidan daun reundeu yang tergolong tinggi. Penelitian menunjukkan ekstrak daun reundeu efektif menangkal radikal bebas melalui pengujian laboratorium menggunakan metode DPPH dan FRAP. Selain itu, bakteri yang hidup secara alami di permukaan daun reundeu juga diketahui memiliki aktivitas antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri yang umum ditemukan di lingkungan.
Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan reundeu sebagai bahan baku produk kesehatan, mulai dari jamu, teh herbal, minuman kesehatan, hingga bahan tambahan pada produk pangan dan kosmetik seperti sabun antiseptik.
Menjaga Warisan Pangan
Di tengah meningkatnya minat terhadap pangan lokal dan tanaman herbal, reundeu menawarkan kombinasi yang jarang ditemukan: dapat dimakan sebagai lalapan, memiliki sejarah budaya yang kuat, dan menyimpan potensi kesehatan yang menjanjikan. Sayangnya, banyak masyarakat, termasuk sebagian warga Cireundeu sendiri, kini tidak lagi mengenal bentuk maupun manfaat tanaman tersebut.
Karena itu, upaya penelitian, konservasi, dan pemanfaatan kembali reundeu menjadi penting. Bukan hanya untuk menggali potensi ekonomi dari produk turunannya, tetapi juga untuk menjaga hubungan antara masyarakat dengan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Reundeu menunjukkan bahwa di balik tanaman yang tampak sederhana, tersimpan cerita panjang tentang pangan, kesehatan, dan identitas budaya Sunda yang masih relevan hingga hari ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.