Keamanan pangan dimulai dengan memahami bahaya bawaan makanan mana yang menyebabkan kerugian terbesar. Dengan mengukur beban kesehatan masyarakat dan penyebabnya, negara dan mitra dapat memprioritaskan tindakan berbasis bukti, menargetkan intervensi, dan menggunakan sumber daya di tempat yang akan memberikan dampak terbesar.
Setiap tahun pada tanggal 7 Juni, FAO dan WHO bergabung dengan pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan mitra di seluruh dunia untuk memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia, menyoroti keamanan pangan sebagai hak dan tanggung jawab bersama serta seruan untuk tindakan kolektif.
Hari tersebut memobilisasi para pembuat kebijakan, pelaku bisnis makanan, ilmuwan, dan konsumen untuk memperkuat keamanan pangan melalui kerja sama dan komitmen politik, melindungi nyawa, mendukung kemakmuran, dan membangun masa depan yang lebih aman.
Tema tahun 2026, “Dari beban menuju solusi – makanan aman di mana pun”, menekankan peran data dan sains dalam memandu tindakan. Perkiraan baru WHO tentang penyakit bawaan makanan yang dirilis menjelang 7 Juni akan memberikan dasar bukti yang kuat untuk kampanye dan acaranya.
Hari Keamanan Pangan Sedunia adalah kesempatan untuk belajar, berbagi solusi, dan memperbarui komitmen terhadap keamanan pangan untuk semua.
WHO menyerukan pada Hari Keamanan Pangan Sedunia ini pemerintah dapat memastikan keamanan pangan tetap menjadi prioritas berkelanjutan, dengan mengintegrasikan kebijakan dan program ke dalam perencanaan jangka panjang.
Pemerintah juga mengurutkan risiko dan prioritaskan tindakan pencegahan menggunakan perkiraan beban yang tersedia dan data lainnya, mengarahkan sumber daya ke tempat yang paling dibutuhkan.
Selain itu, memperkuat pengumpulan data melalui pengawasan penyakit bawaan makanan dan pemantauan makanan, menggunakan bukti untuk memandu langkah-langkah manajemen risiko yang efektif dan melacak kemajuan.
Kepada mereka yang berbisnis makanan dapat memperkuat pelatihan dan pendidikan karyawan tentang praktik keamanan pangan terkini dan risiko yang muncul, serta pastikan penggunaan program keamanan pangan secara menyeluruh, seperti praktik terbaik, termasuk kode praktik Codex.
Pebisnis makanan juga diharapkan menggunakan, jika memungkinkan, Analisis Bahaya dan Titik Kontrol Kritis (HACCP) untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya serta mengelola risiko keamanan pangan dari produksi hingga konsumsi.
Selain itu, menerapkan program keamanan pangan berbasis bukti dengan menggunakan data di dalam bisnis untuk memantau risiko keamanan pangan dan melacak peningkatannya.
WHO juga berharap para profesional kesehatan dapat memperkuat deteksi dengan meningkatkan diagnostik, manajemen klinis, dan program pengendalian penyakit bawaan makanan untuk mengidentifikasi area dengan beban penyakit yang lebih tinggi dengan lebih baik. Selain itu, berkolaborasi dengan mitra lintas sektor untuk mempromosikan pengawasan penyakit terpadu di berbagai sektor.
Kepada konsumen pangan, WHO menyerukan dapat melakukan praktik penanganan makanan yang aman di rumah dengan mengikuti Lima Kunci untuk Makanan yang Lebih Aman dari WHO.
Selain itu, konsumen tetap terinformasi dan bertindak berdasarkan bukti dengan memeriksa pembaruan dari sumber yang dapat diandalkan tentang penarikan produk makanan, wabah penyakit, dan praktik keamanan pangan.
WHO juga meminta agar konsumen melaporkan dan menanggapi risiko dengan mengetahui cara memberi tahu pihak berwenang tentang makanan yang tidak aman. Selain itu, konsumen mengambil langkah-langkah praktis untuk mencegah penyakit di rumah tangga.





Comments are closed.