Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

membayangkan-ketika-manusia-merasa-cukup
Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup
service

Mubadalah.id – Tidak boleh tidak, di antara banyak masalah yang terus manusia hadapi, fokus ke persoalan yang satu ini tidak boleh teralihkan. Ambisi untuk pertumbuhan ekonomi tidaklah murah, ia diikuti masalah besar: perubahan iklim. Demi kemajuan tiada batas, manusia menggadaikan tempat tinggalnya: bumi. Bahkan, itu tidak menghentikan laju ambisi manusia.

David Wallace-Wells dalam Bumi yang Tak Dapat Dihuni (2019), seperti yang Naomi Klein prediksi dalam apa yang ia sebutnya sebagai  The Shock Theory bahwa di tengah ancaman iklim, kekuatan kapital akan tetap menuntut hal yang sama sembari menghiraukan kerusakan yang mereka hasilkan.

Tidak peduli bagaimana sejumlah kajian telah memberikan alarm peringatan. Paul J Crutzen & Eujene Stoermer, orang pertama yang memperkenalkan istilah antroposen. Sebuah istilah yang menekankan peran sentral manusia dalam geologi dan ekologi. Ia menyebutkan bahwa manusia telah mengubah biosfer dan banyak bagian lainnya dari fungsi alami bumi (Muhammad Unies Ananda Raja, Apa itu Antroposen?, 2018). Ini adalah situasi mendesak yang harus kita hentikan.

Untuk memperlambat kiamat iklim, pengiriman karbon ke atmosfer bumi harus kita hentikan. Ada satu pertanyaan yang harus terselesaikan terlebih dulu, tentu saja. Kalau ambisi untuk ekonomi dicukupkan sampai di sini, bagaimana cara menyejahterakan orang-orang yang saat ini masih hidup di dalam kemiskinan?

Dalam laporan The Sustainable Development Goals Report 2025, pada tahun 2025 diperkirakan masih ada 808 juta orang (1 dari 10 penduduk global) yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, masih terdapat 3,8 miliar orang yang kesulitan mendapatkan air bersih. Ini adalah dua dari sekian persoalan yang masih dmasyarakat global hadapi hari ini.

Terdengar seperti sebuah ekspresi kebijaksanaan. Karena semua orang belum sejahtera, maka pertumbuhan ekonomi harus terus kita tingkatkan—sekalipun dengan cara merusak alam. Ini adalah logika yang menopang sistem kehidupan global saat ini: kapitalisme.

Selama bergenerasi sudah menjadi mantra keyakinan bersama-sama. Pasar akan menghasilkan kesejahteraan dan keuntungan bersama (Wells, h. 170). Apakah benar produktivitas berbanding positif dengan kesejahteraan? Tidak terlalu susah untuk terjawab. Tanya saja pekerja yang bekerja selama delapan hingga belasan jam per hari, apakah lantas membuat mereka sejahtera.

Barangkali pertumbuhan ekonomi seperti yang jamak kita yakini akan menyelesaikan persoalan umat manusia, bukanlah jalan keluar. Ekonomi yang menghasilkan budaya hidup orang modern nyatanya hanya menyejahterakan segelintir kalangan.

Di saat yang bersamaan, seluruh orang harus menanggung dampak perubahan iklim yang terpicu oleh aktivitas manusia yang mendalihkan kemajuan. Saya membayangkan—dengan sedikit memaksa—manusia benar-benar merasa cukup dengan semua ini, bukan hanya sekadar berganti topeng.

Apakah Pencapaian Ini Belum Cukup?

Pilihan transportasi yang beragam untuk melakukan perjalanan, perangkat-perangkat canggih dengan pelbagai merek yang bisa menghubungkan masyarakat global. Bertambah dengan pelbagai macam fitur yang menyertainya, televisi untuk sekadar hiburan akhir pekan. Ini adalah kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya dan sudah sangat membantu kehidupan manusia. Persoalannya adalah keinginan untuk selalu mendapatkan lebih: lebih banyak, lebih baru, lebih modis, lebih berkelas.

Pasar terus-menerus memproduksi hal-hal yang bukan lagi ‘harus’ ada untuk keberlangsungan kehidupan manusia, tapi memproduksi apa pun yang dapat mengakumulasikan modal (capital). Manusia menciptakan ilusi untuk diri sendiri yang kemudian melahirkan konflik dan persoalan sosial. Memiliki kendaraan pribadi terbaru atau gadget keluaran terbaru, atau wahana hiburan terbaru menjadi kegiatan yang tidak lagi dapat tertahan. Meskipun tidaklah bersifat esensial beserta persoalan yang muncul di balik semua itu seperti iklim.

Kita memerlukan kesadaran yang besar untuk menghentikan semua ini—setidaknya dengan bertanya: “apakah ini perlu? Untuk apa ini semua? Apakah ini tidak akan menghancurkan alam?”

Memproduksi Lebih Sedikit: Harmonis dengan Alam

Ada satu ungkapan bermakna—sering dinisbatkan kepada Mahatma Gandhi—yang menjadi refleksi bersama. “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia”—saya pribadi tidak menemukan sumber yang memadai bahwa kalimat itu pernah diungkapkan oleh Gandhi, namun dapat dijumpai dengan mudah pada mesin pencarian internet. Terlepas apakah itu benar atau tidak dari Gandhi, yang jelas pernyataan semacam itu tidak dapat terabaikan.

Alam benar-benar telah menyediakan banyak hal. Udara bersih untuk bernapas, air jernih untuk menghilangkan dahaga, gunung-gunung menjulang nan indah, lautan luas sebagai tempat kehidupan atau sekadar rekreasi, hutan yang memastikan pasokan oksigen agar manusia bisa bernapas bebas. Begitu banyak tumbuhan dan hewan yang mungkin untuk dikonsumsi untuk sekadar memastikan semua orang tidak kelaparan.

Sayangnya, apa yang terjadi adalah sebaliknya: terdapat 673 juta orang yang kelaparan (Serikat Petani Indonesia, 2025) , ada 1 miliar orang yang tidak memiliki rumah (Damayanti, 2023). Pernyataan “bijaksana” di awal tidak berhasil memahami titik persoalan dengan memadai. Bukan soal seberapa banyak terproduksi, tapi untuk apa diproduksi. Di samping itu, memproduksi lebih banyak berisiko bencana yang lebih besar, dan sebaliknya, memproduksi dalam kadar kebutuhan, ada hal yang bisa terselamatkan.

Kiamat Iklim

Coba bayangkan dampak positif seperti apa yang akan dihasilkan jika manusia tidak lagi memproduksi kendaraan model terbaru. Lee Chapman dalam Transport and Climate Change (2007) menyebutkan  kendaraan berkontribusi melepaskan 26% emisi CO2 global.

Begitu juga setiap ponsel yang ada dalam genggaman manusia. Ia dihasilkan dari serangkaian aktivitas yang berkontribusi dalam bencana iklim, ekstraksi untuk 100g mineral untuk setiap ponsel pintar, bahkan 80% polusi karbon dihasilkan sebelum ponsel berbentuk barang jadi.

Selain produk ini menghasilkan puluhan juta ton limbah elektronik (Cook, 2017). Artinya, jika manusia berhenti memproduksi moda terbaru, perangkat seluler terbaru, manusia akan memangkas kemungkinan laju iklim yang lebih masif. Pembicaraan ini memang lebih jauh melampaui rencana manusia yang—misalnya—sekadar ingin beralih ke kendaraan listrik.

Ilusi kita akan kehebatan pasar dan apa yang ditawarkannya tidak lebih baik daripada kedengarannya. Saya tidak mengatakan bahwa manusia harus melakukan pembalikan radikal. Kendaraan mesin berganti dengan jalan kaki, gawai kita ganti dengan surat-menyurat, orang-orang kembali menjadi bertani keseluruhan.

Namun, tidak kita ragukan lagi, manusia harus berpikir tidak lagi memproduksi untuk kepentingan pasar dan akumulasi modal semata, namun benar-benar untuk kepentingan semua orang. Hampir pasti, kalau ambisi ekonomi terus kita pertahankan, kiamat iklim dengan dampak yang jauh lebih buruk tidak akan menjadikan apa yang dibangun manusia itu bertahan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.