Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Dulu Malu Jadi Penjahit, Kini Difabel Asal Pati Hidupi Keluarga dari Mesin Jahit

Dulu Malu Jadi Penjahit, Kini Difabel Asal Pati Hidupi Keluarga dari Mesin Jahit

dulu-malu-jadi-penjahit,-kini-difabel-asal-pati-hidupi-keluarga-dari-mesin-jahit
Dulu Malu Jadi Penjahit, Kini Difabel Asal Pati Hidupi Keluarga dari Mesin Jahit
service

Supriyono, difabel asal Pati yang bangkit lewat mesin jahit dan berhasil membangun usaha mandiri.


Supriyono pernah berusaha menjauh dari dunia jahit. Baginya, menjadi penjahit bukan pekerjaan yang ia impikan. Akan tetapi, pada kenyataannya, profesi yang dulu dihindari kini malah menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.

Setiap hari, pria asal Pati, Jawa Tengah, itu disibukkan dengan berbagai pesanan, mulai dari permak pakaian, seragam sekolah, seragam puskesmas, hingga kebutuhan hajatan warga. Dalam satu pesanan, ia bahkan bisa mengerjakan seragam untuk 15 hingga 20 orang.

“Awalnya saya malu kalau harus jadi penjahit. Dulu pikiran saya, kalau bisa jangan kerja jahit,” kenang Supriyono, seperti dikutip dari keterangan Kementerian Sosial RI.

Tapi toh sekarang menjahit menjadi kemampuan yang bisa diandalkan dan dibanggakan Supriyono. Ia menjadi mandiri dan berdikari—berdiri di atas kaki sendiri.

Penyandang Polio yang Sempat Mencari Jalan Lain

Supriyono merupakan penyandang disabilitas fisik akibat polio. Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti bekerja, tetapi sempat membuatnya terus mencari bidang pekerjaan yang dianggap lebih sesuai.

Pada 2010, ia bekerja di sebuah usaha konveksi di Kudus, Jawa Tengah, yakni Wisnu Tailor. Di tempat itulah ia mulai mengenal dunia jahit-menjahit secara lebih serius. Ia belajar langsung dari para penjahit yang lebih berpengalaman.

Kemampuannya berkembang seiring waktu. Meski telah dibekali keterampilan itu, Supriyono belum mengantongi keyakinan untuk berkarier sebagai penjahit.

Ia pun sempat mencoba pekerjaan lain. Selama sekitar satu tahun, Supriyono bekerja sebagai admin dan mengerjakan desain infografis menggunakan aplikasi AutoCAD.

Pengalaman tersebut memperluas wawasannya. Namun setelah mencoba berbagai pekerjaan, Supriyono menyadari bahwa kemampuan menjahit yang ia miliki justru menjadi modal terbesar yang dapat ia kembangkan.

Supriyono Sukses Bangun Kepercayaan Diri

Sebenarnya, hambatan paling besar pada setiap proses yang dilakoni mayoritas orang, terutama penyandang kebutuhan khusus bukan terletak pada kemampuan fisik. Dalam banyak kasus, tantangan yang tidak kalah berat adalah rasa tidak percaya diri.

Hal itulah yang menjadi fokus dalam berbagai program pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas yang dijalankan Kementerian Sosial.

Bagi Supriyono, kepercayaan dirinya mulai tumbuh ketika ia menjadi penerima manfaat layanan rehabilitasi sosial dari Sentra Margo Laras Pati pada 2021.

Ia mengikuti pelatihan vokasional menjahit selama enam bulan. Pelatihan vokasional adalah pelatihan yang dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan kerja praktis sehingga siap bekerja atau membuka usaha mandiri.

Pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan teknisnya dalam menjahit. Lebih dari itu, pelatihan tersebut membantu membangun keyakinan bahwa dirinya mampu menjalankan usaha sendiri.

Dari proses itulah lahir usaha yang ia beri nama Kaxyon Tailor.

Dari Permak Pakaian hingga Seragam Puskesmas

Usaha yang dirintis Supriyono kini berkembang menjadi sumber pendapatan utama keluarga.

Ia menerima berbagai jenis pekerjaan, mulai dari permak pakaian hingga pembuatan seragam dalam jumlah cukup besar. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, termasuk sekolah, puskesmas, dan warga yang menggelar hajatan.

Untuk jasa pembuatan celana panjang, misalnya, Supriyono mematok tarif sekitar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per potong, tergantung tingkat kesulitan pengerjaan.

Hasil usahanya kini mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Ia juga dapat membiayai pendidikan anaknya dari penghasilan menjahit.

Bahkan, ia telah memiliki sepeda motor roda tiga yang membantu mobilitas dan aktivitas usahanya.

Setelah mencari pengalaman ke sana kemari, profesi yang dulu dihindar biasa kini menjadi sumber kemandirian ekonomi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.