Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Heboh Oarfish 4 Meter Terdampar di Lombok, Benarkah Pertanda Gempa?

Heboh Oarfish 4 Meter Terdampar di Lombok, Benarkah Pertanda Gempa?

heboh-oarfish-4-meter-terdampar-di-lombok,-benarkah-pertanda-gempa?
Heboh Oarfish 4 Meter Terdampar di Lombok, Benarkah Pertanda Gempa?
service

Kemunculan seekor ikan oarfish sepanjang sekitar empat meter di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada 25 Agustus 2026 menarik perhatian masyarakat. Ikan laut dalam yang jarang terlihat itu ditemukan dalam kondisi mati oleh pengunjung pantai dan videonya kemudian menyebar di media sosial.

Bentuk tubuhnya yang panjang dan pipih membuat temuan tersebut segera dikaitkan dengan sebutan “ikan kiamat”. Sebagian masyarakat menghubungkannya dengan kepercayaan bahwa kemunculan oarfish di perairan dangkal merupakan tanda akan terjadi gempa atau tsunami.

Namun, anggapan tersebut tidak didukung bukti ilmiah yang kuat. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan penelitian mengenai hubungan oarfish dan gempa belum menemukan bukti sebab-akibat.

“Secara ilmiah, belum ada bukti valid yang menunjukkan bahwa kemunculan ikan laut dalam di permukaan atau pesisir, seperti di Pantai Pink Lombok, merupakan pertanda pasti akan terjadinya gempa,” kata Daryono dalam keterangannya, Kamis (29/8).

Mengapa Oarfish Bisa Muncul ke Permukaan?

Oarfish merupakan ikan pelagis dari famili Regalecidae. Salah satu spesiesnya, Regalecus glesne, dikenal sebagai oarfish raksasa dan dapat tumbuh hingga sekitar 11 meter. Ikan ini hidup di laut dalam sehingga perjumpaannya dengan manusia relatif jarang.

Tubuh oarfish panjang dan pipih dengan sirip punggung yang memanjang. Ikan ini juga memiliki struktur penyapu insang yang digunakan untuk menangkap plankton dan organisme kecil. Oarfish tidak memiliki gigi dan tidak dikenal sebagai ikan yang berbahaya bagi manusia.

Menurut Daryono, munculnya ikan laut dalam ke wilayah permukaan atau pesisir dapat disebabkan berbagai kondisi lingkungan maupun kondisi fisik ikan. Perubahan suhu air, pergeseran arus laut, fenomena upwelling, kondisi ikan yang sakit atau terluka, hingga upaya menghindari predator dapat menjadi faktor yang memengaruhi pergerakannya.

“Isu bahwa kemunculan ikan tersebut adalah tanda bencana gempa yang akan datang adalah tidak benar,” jelas Daryono.

Temuan di Pantai Pink Lombok juga tidak menunjukkan bahwa ikan tersebut muncul karena aktivitas gempa. Ikan ditemukan dalam keadaan mati sekitar pukul 07.30 WITA oleh pengunjung yang sedang berkemah di kawasan pantai.

Kepala Wilayah Dusun Telone, Desa Sekaroh, Sahlan, membenarkan penemuan tersebut. Menurutnya, ikan ditemukan oleh pengunjung yang berasal dari Lombok Tengah. Ukurannya yang mencapai sekitar empat meter membuat sejumlah orang harus menopang tubuh ikan tersebut ketika dipindahkan.

Dari Legenda Jepang hingga “Ikan Kiamat”

Hubungan antara oarfish dan gempa lebih banyak berasal dari cerita rakyat Jepang. Dalam kepercayaan tradisional, oarfish yang ditemukan di perairan dangkal dianggap sebagai ryugu no tsukai, atau utusan dari istana dewa laut, yang dikaitkan dengan bencana gempa dan tsunami.

Kepercayaan tersebut kemudian berkembang menjadi anggapan bahwa oarfish dapat mendeteksi aktivitas geologi di dasar laut. Namun, penelitian ilmiah belum menunjukkan hubungan yang konsisten antara kemunculan ikan ini dan gempa bumi.

Kajian yang dilakukan peneliti di Jepang juga tidak menemukan hubungan sebab-akibat langsung antara kemunculan oarfish dan aktivitas seismik. Penelitian zoologi dan kelautan lainnya menghasilkan kesimpulan serupa.

Ahli zoologi Rachel Grant dari London South Bank University bersama peneliti dari Tokai University di Jepang meneliti hubungan tersebut dan tidak menemukan bukti yang mendukung kepercayaan bahwa oarfish dapat menjadi indikator gempa.

“Saya pikir itu karena gempa bumi adalah peristiwa yang tidak dapat diprediksi. Dan orang-orang ingin merasa bahwa mereka memiliki kendali atas peristiwa itu,” ujarnya dalam penelitian mengenai fenomena tersebut.

Ahli kelautan Mark Benfield dari Louisiana State University juga tidak menemukan hubungan antara kemunculan oarfish dan gempa bumi. Menurutnya, kemunculan ikan tersebut di permukaan dapat terjadi secara kebetulan.

Temuan Langka yang Perlu Diteliti

Meski bukan indikator gempa, kemunculan oarfish tetap penting bagi ilmu kelautan. Karena hidup di kedalaman dan jarang diamati secara langsung, setiap temuan dapat memberikan informasi mengenai distribusi, kondisi fisik, serta lingkungan tempat ikan tersebut hidup.

Oarfish juga memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya menarik untuk dipelajari. Tubuhnya tidak memiliki sisik seperti kebanyakan ikan bertulang dan memiliki tekstur yang relatif lunak. Struktur tubuh tersebut juga membuat kondisi ikan dapat berubah ketika berada di luar habitat laut dalam.

Karena itu, penemuan oarfish di Pantai Pink Lombok lebih tepat dipahami sebagai fenomena biologis yang perlu diteliti, bukan sebagai peringatan akan terjadinya gempa.

Daryono mengingatkan masyarakat agar informasi mengenai oarfish tidak digunakan untuk menyimpulkan akan terjadi bencana. Pemantauan gempa tetap harus mengacu pada data seismologi dan informasi resmi dari lembaga kebencanaan.

Kemunculan ikan laut dalam di pesisir memang jarang terjadi dan menarik untuk diamati. Namun, sejauh bukti ilmiah yang tersedia, belum ada dasar untuk menjadikannya sebagai tanda bahwa gempa bumi akan segera terjadi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.