Sabtu malam Ahad (13/6), hari kedua Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 2026, halaman Kampus Unwaha Tambakberas Jombang penuh oleh penonton, mereka adalah orang-orang yang rindu dan gandrung pada pertunjukan wayang.
Selain warga masyarakat umum, juga para tamu peserta muktamar, dan tentunya santri pesantren Tambakberas. Mereka duduk bersila.
Di depan panggung, gamelan wayang ‘sekaten’ ditabuh mengalun. Inilah pagelaran wayang semalam suntuk. Tiga dalang lintas generasi, lintas daerah, dalam satu panggung: Ki Ardhi Purboantono dari Malang, Ki Riko Kandha Nur Buwana dari Tulungagung, dan Ki Sayyid Hamzah dari Lampung.
Koordinator Perkumpulan Dalang Lesbumi PBNU, Ki Ardhi Poerboantono, mengatakan Lesbumi sengaja mengajak masyarakat nguri-nguri budaya. Karena wayang bukan sekadar tontonan. Ini “cara kerja” para Wali Songo dulu: mengajak ke tuntunan, kemaslahatan, dan keselamatan.
Dakwah Wali Songo dengan Bahasa Kaumnya
Sebelum lakon dimulai, Ki Ardhi, selaku dalang senior memberikan wejangan, membuka wawasan. Suaranya pelan tapi menancap.
“Lewat seni ini Islam bisa melebur ke dalam budaya Jawa. Zaman Demak Bintoro, wayang dan gamelan jadi alat dakwah para ulama, para Sunan. Kanjeng Sunan, Wali Songo, pakai piranti gamelan dan wayang untuk mengenalkan ajaran Islam,” jelasnya.
Kenapa pakai wayang? Karena al-Qur’an sendiri mengajarkan: Allah mengutus nabi dengan bahasa kaumnya. Nabi Muhammad bersabda: al-ulama warasatul anbiya. Ulama Nusantara, para Wali, menyebarkan Islam pakai budaya kaum Jawa.
“Wong Timur Tengah unjuk-unjuk nganggo basa Arab, sing dituturi nganggo basa Jawa, ya ora mudeng. Maka pelan-pelan. Doa-doa dulu banyak yang pakai bahasa Sanskerta, bahasa Jawa kuno,” kata Ki Ardhi.
Dia menjelaskan, Buktinya ada di petilasan Sunan Kalijaga di Gunung Surowiti. Di sana juru kunci masih menyimpan doa beraksara Jawa. Yang kalau dibaca bertuliskan: bismillah, alhamdulillah, shalawat, syahadat, semua ditulis aksara Jawa. Lalu dilanjut doa Jawa: “Allahu sang sukma mulyo, ati urip sifat langgeng…” ditutup Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. Otomatis jadi doa Muslim.
“Jadi jangan kira yang Jawa itu klenik, non-Muslim. Para wali nyambung ke Kanjeng Nabi. Perantaranya bahasa Jawa, busananya busana Jawa.
Konon Sunan Kalijaga pakai blangkon, jarik, keris. Ditegur Sunan Kudus: ‘Paman, salat kok mawi keris?’ Jawab Sunan Kalijaga: ‘Menawi kula sembahyang mawi dhuwung. Mosok Gusti Allah wedi karo wong gowo keris, wedi karo wong blangkonan?’
Dalam sholat yang penting angger pitu: batuk, epek-epek loro, dengkul loro, gajul kiwo tengen nemplek lemah sujude wes sah, manut sareat, perkara blangkon, ketu, surban, kuwi mung budaya,” tegas Ki Ardhi.
Wayang itu “Manakib Budaya”
Ki Ardhi menyebut wayang seperti manakib. Tapi manakib budaya. Cerita ksatria di medan laga, brahmana mengabdi, ulama mengamalkan ilmu. Semua pitutur, nasihat kiai, nilai luhur Jawa, disambungkan ke dawuh Kanjeng Nabi dan tauhid.
“Sekaten itu dari syahadat. Wong Jawa lidahnya sekaten. La haula wala quwwata illa billah jadi wolo-wolo kuwoto. Para Wali tidak memarahi. Karena memang bahasa kaumnya begitu. Pelan-pelan digarap Sunan Kudus, Sunan Giri, sampai diterima,” terangnya.
Ilmu yang diajarkan oleh Islam Nusantara yaitu menghargai proses. Menghargai akar. Santri harus tahu, Islam di tanah Jawa tumbuh lewat dialog budaya, bukan tabrakan budaya.
Seni: Grebeg, Gamelan, dan Nanggap Wayang Cari Ridha Allah
Ki Ardhi mengingatkan: Grebeg Maulid, Grebeg Suro, Grebeg Besar, semua pakai gamelan Sekaten. Nanggap wayang di desa bukan hal sepele.
“Ana wong nanggap wayang diunek-uneke. Ana wong poso muteh, diunek-unekke. Niku padha karo ngunek-uneke wong tuwa, jangan sampai terjadi. Karena nopo? ridane Gusti Allah, ridane wong tuwa,” pesannya.
Belajar nonton wayang, belajar menikmati indahnya budaya Jawa. Belajar sabar semalam suntuk. Belajar menyimak pitutur. Itu pendidikan seni dan adab.
Tiga Dalang, Satu Pesan
Sepanjang malam Ki Dalang Ardhi, Ki Dalang Mas Riko, dan Ki Dalang Sayyid Hamzah bergantian. Lakon silih berganti, mulai dari Kahiyangan Werkudoro wahyu topeng wojo. Tapi benangnya satu: menguatkan agama, menambah ilmu, memperhalus rasa lewat seni.
Sebelum wayang, warga disuguhi “Musyahadah Cinta” karya Gus Sastro Adi, pencipta Mars Lesbumi. Lengkap sudah: agama, ilmu, seni, satu tarikan napas.
Pagelaran selesai menjelang subuh. Warga pulang membawa oleh-oleh: wayang itu dakwah. Budaya itu amaliyah, jelas ibadah. Dan mencintai Jawa itu menjaga luhure wong tua. Jadi berkah, jadi berkah, berkahe tambah.





Comments are closed.