Dua tulisan sebelumnya dari seri renungan makna ayat Kursi, kita telah belajar dari Al-Hayyu dan Al-Qayyum tentang sumber kehidupan yang tidak pernah padam. Dari gambaran Al-Kursi tentang betapa kecilnya semua beban kita di hadapan keagungan-Nya, kini kita tiba pada frasa yang paling personal dari seluruh ayat ini, sekaligus yang paling dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang resah di abad ini.
La ta’khuzuhu sinatun wa la nawm. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Enam kata Arab yang di dalamnya tersimpan seluruh obat bagi kecemasan yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih panjang sekalipun.
Negasi yang Bergerak dari Yang Paling Ringan
Para ulama tafsir memberi perhatian khusus pada urutan kata yang dipilih al-Qur’an. Sinah, kantuk yang ringan, sekadar dozing yang sebentar, disebutkan lebih dahulu sebelum nawm, tidur yang dalam dan lelap. Ini bukan kebetulan dalam susunan kalimat. Ini adalah negasi yang bergerak dari yang paling ringan menuju yang paling total, seolah ayat ini ingin menutup semua kemungkinan kelengahan. Jangankan tidur, mengantuk pun tidak. Para ulama menghubungkan frasa ini langsung dengan kalimat penutup ayat, wa la ya’uduhu hifzuhuma, bahwa memelihara keduanya tidak memberatkan-Nya, sebagai satu pernyataan teologis yang utuh.
Al-Razi menggali lebih dalam pada frasa penutup ini. Menurutnya, la ya’uduhu bukan sekadar berarti tidak memberatkan. Ia berarti tidak menyulitkan-Nya sama sekali, dan tidak ada apapun yang bisa membuat-Nya berhenti dari pemeliharaan itu. Menjaga seluruh langit dan bumi beserta segala isinya bukanlah sesuatu yang membutuhkan upaya dari pihak Allah, karena upaya dan kelelahan adalah sifat makhluk, dan Allah bukan makhluk.
Bayangkan seorang ibu yang anaknya dirawat di rumah sakit. Ia duduk di kursi plastik yang keras di lorong, matanya terpejam karena kelelahan yang sudah menumpuk berhari-hari, namun telinganya masih terpasang waspada pada setiap suara yang mungkin datang dari balik pintu kamar. Itu adalah wujud cinta manusia yang paling tulus, yang mencoba sekuat tenaga untuk berjaga. Tapi fisiknya berkhianat pada niatnya. Ia akhirnya tertidur juga. Karena sinah, kantuk itu, adalah takdir semua yang hidup dengan cara makhluk hidup.
Allah berbeda secara hakiki, bukan dalam kadar tetapi dalam jenis. Bukan karena Ia mencoba lebih keras dari ibu itu, melainkan karena kebutuhan untuk tidur sama sekali tidak relevan bagi Al-Hayyu. Dalam bahasa para mufassir, ini disebut tanzih, penyucian dari segala sifat kekurangan. Tidak ada satu detik pun dalam hidupmu, tidak ada satu malam pun yang paling gelap sekalipun, di mana kamu tidak sedang dijaga oleh yang tidak pernah mengalihkan perhatian-Nya.
Pulang kepada yang Tidak Pernah Pergi
Kita begadang karena takut. Kita menolak tidur karena tidur terasa seperti menyerahkan kendali kepada ketidakpastian yang menakutkan. Allah berjaga bukan dari kecemasan, melainkan dari kesempurnaan sifat-Nya yang tidak berubah sejak sebelum langit dan bumi ada. Di situlah, dalam jurang perbedaan yang tak terjembatani antara begadang manusia dan pengawasan ilahi, tersimpan ketenangan yang paling dalam dan paling tidak bisa direbut oleh apapun.
Tawakkal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakkal adalah kesadaran bahwa setelah seluruh ikhtiar kita kerahkan habis-habisan, hasilnya berada di tangan Yang Maha Hidup dan tidak pernah tidur. Al-Hayyu dan Al-Qayyum mengajarkan bahwa sumber kehidupan sejati tidak pernah mati dan tidak pernah bergantung pada yang lain. Al-Kursi yang meliputi langit dan bumi mengajarkan bahwa tidak ada urusan kita yang terlalu besar di hadapan-Nya. Dan la ta’khuzuhu sinatun wa la nawm mengajarkan bahwa tidak ada satu momen pun dalam hidupmu yang tidak sedang diawasi oleh yang tidak pernah mengantuk.
Maka bacalah Ayat Kursi bukan sebagai mantra, melainkan sebagai perjalanan kontemplatif yang pendek namun sangat dalam. Baca perlahan. Berhenti di setiap nama. Izinkan makna yang telah para ulama gali selama berabad-abad itu meresap ke lapisan-lapisan kecemasan yang sudah mengeras di dalam dada. Letakkan ponselmu. Matikan layar. Dan sebelum matamu terpejam di setiap malam, bisikkan lima puluh kata itu dengan hati yang hadir sepenuhnya. Allahu la ilaha illa Huwa, Al-Hayyul-Qayyum.




Comments are closed.