Arina.id – Sholat Jumat merupakan sholat berjamaah yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang memenuhi syarat tertentu. Sebagaimana namanya, dalam bahasa Arab Jumat dibaca “Jumu’ah” yang arti harfiahnya adalah “perkumpulan”. Arti itu berkorelasi dengan makna bahwa sholat ini dilakukan secara kolektif dengan mengumpulkan masyarakat di satu tempat.
Sholat ini wajib dilaksanakan oleh muslim dengan kriteria tertentu, yaitu pria dewasa yang sehat, dan berstatus penduduk tetap, bukan termasuk hamba sahaya, dan tidak sedang dalam kondisi udzur untuk melaksanakannya seperti sedang sakit atau sedang dalam perjalanan yang melegalkan qashar sholat.
Sholat ini merupakan sholat tersendiri, yakni sholat wajib sebagaimana sholat lima waktu. sholat ini bukan merupakan sholat Dzuhur yang diringkas, sebab syarat dan rukunnya berbeda, meskipun ketika seseorang tidak sempat melakukannya entah karena udzur atau tidak, dia wajib menggantinya dengan sholat Dzuhur.
Perlu diketahui terlebih bahwa dalil diwajibkannya sholat Jumat dalam Al-Qur’an adalah surat al-Jumu’ah ayat 9 sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Sedangkan dalil dalam hadits adalah hadits riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak alas Sahihain no. 1072 sebagai berikut:
عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ
Artinya: “Dari Abu Musa, dari Nabi saw. bersabda “sholat Jumu’ah adalah kebenaran yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu: budak, perempuan, anak kecil, dan orang yang sakit.”
Ketika seseorang tidak melaksanakan sholat Jumat, baik atas dasar udzur atau tidak, maka dia wajib melaksanakan sholat Dzuhur sebagaimana di hari biasa. Hanya saja terdapat perbedaan terkait kapan sholat Dzuhur itu boleh dilakukan antara yang berudzur dan yang tidak berudzur.
Seorang pria yang meninggalkan sholat Jumat tanpa udzur tidak boleh langsung melaksanakan sholat Dzuhur selama prosesi ritual sholat Jumat belum selesai di daerahnya. Dia harus menunggu terlebih dahulu mulai dari khutbah dibacakan hingga imam membaca salam untuk mengakhiri sholatnya.
Jika dia melakukan sholat Dzuhur sebelum selesai prosesi sholat Jumat, maka sholatnya tidak sah, sebab di waktu itu sholat yang seharusnya dia laksanakan adalah prosesi sholat Jumat, sedangkan dia meninggalkannya tanpa udzur.
Sayyid Bakri Syatha mencatat ketentuan ini dalam I’anatut Talibin [Beirut: Darul Fikr, 1997, vol. 2, hlm. 75] sebagai berikut:
لا يصح ظهر من لا عذر قبل سلام الإمام) أي من الجمعة. ولو بعد رفعه من ركوع الثانية لتوجه فرضها عليه بناء على الأصح أنها الفرض الأصلي، وليست بدلا عن الظهر. وبعد سلام الإمام يلزمه فعل الظهر على الفور، وإن كانت أداء لعصيانه بتفويت الجمعة، فأشبه عصيانه بخروج الوقت.
Artinya: “Tidak sah sholat Dzuhur seseorang yang tidak sholat Jumat tanpa udzur sebelum imam sholat Jumat membaca salam meskipun setelah rukuk kedua, sebab dia masih menghadapi kewajiban yang dia tinggalkan. Ketentuan ini berdasarkan pendapat yang paling sahih bahwa sholat Jumat adalah sholat fardhu asli, bukan pengganti sholat Dzuhur. Setelah Imam membaca salam, dia wajib untuk segera melaksanakan sholat Dzuhur, meskipun dalam kondisi tidak qadha’, sebab dia melakukan dosa dengan tidak melaksanakan sholat Jumat tanpa udzur, maka dosa itu seakan menyamai dengan dosa sholat keluar waktu.”
Berbeda ketika tidak melakukan sholat Jumat atas dasar udzur, maka dia boleh langsung melaksanakan sholat Dzuhur meskipun khatib masih berorasi di atas mimbar, sebagaimana catatan selanjutnya, berikut ini:
وخرج بقوله من لا عذر له، من له عذر، فيصح له ذلك قبل سلام الإمام. وتسن الجماعة في ظهره مع الإخفاء إن خفي العذر، لئلا يتهم بالرغبة عن صلاة الإمام أو صلاة الجمعة. أما ظاهر العذر كالمرأة، فيسن لها الإظهار، لانتفاء التهمة.
Artinya: “Terkecualikan dari ucapan “tanpa udzur” yaitu orang yang tidak sholat Jumat atas dasar udzur, maka dia sah melaksanakan sholat Dzuhur sebelum imam sholat Jumat membaca salam. Dia disunnahkan untuk melakukan sholat Dzuhur dengan berjamaah, tetapi dengan tertutup jika udzurnya tertutup, agar tidak disalah sangka bahwa dia tidak menyukai sholat bersama imam atau tidak menyukai sholat Jumat. Terkait udzur yang normal dan tampak jelas seperti wanita, maka dia disunnahkan untuk melaksanakan sholat Dzuhur dengan berjamaah secara terbuka, sebab baginya tidak ada prasangka buruk dalam hal itu.”
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa meninggalkan sholat Jumat tanpa udzur merupakan sebuah tindakan inkonsistensi kesalehan seorang pria Muslim. Oleh karena sholat Jumat mempunyai nilai urgensi tinggi. Nabi menyarankan bagi para pelaku yang tidak melaksanakannya tanpa udzur untuk bersedekah senilai satu dinar atau setengah dinar. Nilai satu dinar mencapai nilai emas seberat 4,25 gram dan ini bukan merupakan harga yang murah jika diwujudkan dalam bentuk rupiah, mengingat harga emas murni cenderung stabil dan terkadang naik drastis. Wallahu a’lam.





Comments are closed.