Di Harian Kompas edisi 17 April 2026, ada sebuah surat pembaca yang dikirimkan oleh seorang guru matematika di Cilacap, Thomas Sutasman. Surat yang ia tulis berjudul “Matematika yang Manusiawi”. Ada pernyataan menarik yang ia kemukakan, “Dengan demikian, Matematika perlu menyentuh sisi manusiawi manusia sehingga dapat menjadi bekal menghadapi ketidakpastian, membangun kepercayaan pada pengetahuan, dan membayangkan masa depan berkelanjutan dalam kemajuan ilmiah dan teknologi. Selain itu, Matematika juga berkontribusi pada kohesi dan ketahanan sosial.”
Pernyataan tersebut tentunya ingin menyentuh pada kondisi faktual yang terjadi di berbagai lapisan di masyarakat, terkait kondisi awal terkait matematika. Satu hal yang tak bisa ditampik adalah posisi matematika yang masih kerap mendapati stigma, macam ilmu yang sulit, penuh abstraksi, dan kering. Logika itu berkembang dan kadang juga diwariskan oleh banyak keluarga di Indonesia pada anak-anaknya. Akhirnya, jangankan mengalami, sejak mendengarkan saja, matematika dituduh menakutkan.
Kenyataan itu tentu berbanding terbalik dengan situasi yang sedang berlangsung. Katakanlah dengan progresivitas yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan, yang mensyaratkan produk dari ilmu dan pengetahuan—teknologi, semakin canggih dan kompleks. Perlu diketahui, keberadaannya bersandar pada salah satu lanskap keilmuan yang berupa matematika. Ini pula sejatinya pernah ditekankan oleh banyak kalangan. Ahli matematika Iwan Pranoto (2023), menyatakan kemampuan bermatematika tetap merupakan prasyarat utama kemajuan karier pekerja.
Oleh sebab itu, penalaran matematis yang perlu diemban juga perlu berkembang. Dengan kata lain, yang semula kita cukup mengacu pada matematika yang sederhana, namun dalam kompleksitas peradaban mesin cerdas, kita butuh lebih dari itu. Dalam konteks itu, memang pendidikan menjadi satu ruang yang amat penting untuk memberikan transformasi kesadaran berpikir dan bernalar dari pemosisian kecerdasan matematis itu. Dalil dasarnya adalah manusia dengan kemampuannya perlu terus berkolaborasi dengan mesin cerdas dalam peradaban yang berkembang.
Matematika Humanis
Akan tetapi, kita semua memiliki bayang-bayang kolektif akan perlunya mengurai keberadaan matematika sebagai sebuah kesadaran untuk membangun fondasi itu semua. Itu pula berkelindan pada revolusi kecerdasan yang berlangsung saat ini, yakni peradaban kecerdasan buatan (artificial intelligence). Dalam hal ini, kita diingatkan gagasan ahli matematika Inggris Junaid Mubeen dalam bukunya yang terjemahan bahasa Indonesia berjudul Kecerdasan Matematis (Alvabet, 2022).
Kecerdasan matematis yang dimaksud terdiri dari dua aspek, yakni cara berpikir dan cara bekerja. Sebagai cara berpikir, kemampuan bermatematika berhubungan pada cara penalaran dan untuk memahami cara kerja dari mesin cerdas. Sementara itu, sebagai cara bekerja, untuk membangun semangat kolaborasi akan keberadaan mesin cerdas. Ini menegaskan, betapa pun kecerdasan dari sebuah mesin dapat berwujud berupa sesuatu yang mampu melampaui batas yang dimiliki manusia.
Dua hal itu bermuara pada tujuan, sebagaimana ditegaskan oleh Mubeen, “Kecerdasan matematis adalah panduan agar kita bisa mendapatkan sekutu kognitif yang kita inginkan: mesin yang bekerja bersama kita, untuk tujuan kehidupan kita yang lebih baik.” Pernyataan itu menarik, sebagai kerangka atas gejolak maupun tantangan yang membayangi umat manusia. Maka, penting kiranya untuk menegaskan—atas bayangan matematika yang terjadi dalam realitas sosial—kita perlu mengembangkan diskursus humanisme dalam matematika.
Sejatinya matematika sejak awal telah menjadi bagian integral dalam kebudayaan manusia. Hal itu sekaligus menegaskan bahwa matematika memuat unsur humanisme. Di Majalah Basis edisi No. 07–08, Juli–Agustus 2004, Frans Susilo menyuguhkan esai berjudul “Matematika Humanistik”. Ia menjelaskan, “Sejak kecil manusia telah berkenalan dengan matematika dalam bentuknya yang paling elementer, misalnya dalam belajar menggunakan bilangan untuk menghitung dan mengukur.” Perlu kita pahami, pernyataan seperti itu acap ditekankan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di banyak kesempatan.
Pendidikan Matematika
Korelasi dari gagasan di atas tentu mengandaikan pada praktik pendidikan matematika. Pertama, dalam pendidikan formal mensyaratkan mekanisme transformasi pengetahuan yang mengutamakan relevansi tantangan zaman. Artinya, matematika perlu ditegaskan sebagai hal yang dinamis. Kontekstualisasinya adalah melibatkan perkembangan dari perubahan teknologi yang ada. Sebab, yang kerap menjadi tantangan adalah jebakan pada penarasian pada sesuatu yang usang dan tidak relevan.
Kedua, konstruk kebudayaan terhadap matematika. Setidaknya mencakup pada pendidikan keluarga dan sosial masyarakat menyeluruh. Cara itu berupa pembangunan kesadaran bersama dalam memosisikan matematika sebagai sebuah kecerdasan yang mesti dikuasai. Hal itu dikuatkan pada fakta akan pesatnya kecerdasan buatan dan teknologi digital. Katakanlah seperti pada algoritma, pemodelan data, hingga pengambilan keputusan—semuanya bertumpu pada nalar matematis.
Situasi ini menuntut adanya pergeseran cara pandang. Penalaran matematis tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan menghitung atau menyelesaikan soal-soal prosedural semata. Dalam kompleksitas dunia yang semakin terhubung dengan mesin cerdas, manusia dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, adaptif, dan reflektif, kita makin membutuhkan transformasi pendidikan matematika. Pendidikan, dalam hal ini, memegang peran strategis untuk mentransformasikan kesadaran tersebut. Dari sekadar “belajar matematika” menjadi “berpikir secara matematis”.
Matematika, akhirnya sebagai bahasa universal yang sangat erat pada kehidupan sehari-hari. Keberadaannya bukan sesempit pada pemaknaan berupa kumpulan simbol dan rumus yang jauh dari kehidupan. Matematika hadir dalam pola, relasi, dan pengambilan keputusan. Memanusiakan matematika menegaskan cara kita dalam mengembalikan hakikatnya sebagai alat untuk memerdekakan nalar. Yang muaranya adalah membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara kognitif, namun juga bijak di dalam menghadapi kompleksitas perubahan dan perkembangan dunia.[]





Comments are closed.