Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Beringin Minahasa atau Langusei, Rumah bagi Satwa Endemik Sulawesi

Beringin Minahasa atau Langusei, Rumah bagi Satwa Endemik Sulawesi

beringin-minahasa-atau-langusei,-rumah-bagi-satwa-endemik-sulawesi
Beringin Minahasa atau Langusei, Rumah bagi Satwa Endemik Sulawesi
service

Beringin Minahasa atau Langusei, Rumah bagi Satwa Endemik Sulawesi


Sulawesi Utara menyimpan kekayaan hayati yang tak ternilai. Salah satu flora yan berharga adalah Beringin Minahasa, atau yang dikenal secara lokal sebagai Langusei atau Longusei. 

Pohon yang ditetapkan sebagai maskot flora Provinsi Sulawesi Utara ini bukan sekadar tumbuhan biasa, melainkan pusat dari mikrokosmos yang telah lama bersimbiosis dengan kehidupan masyarakat dan satwa di sekitarnya.

Secara ilmiah, pohon ini diklasifikasikan sebagai Ficusminahassae (Miq.), sebuah nama yang diberikan oleh ahli botani Belanda, Johannes Elias Teijsmann, pada tahun 1867. 

Klasifikasinya menempatkannya dalam Kingdom: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Rosales; Famili: Moraceae; Genus: Ficus; dan Spesies: Ficus minahassae

Famili Moraceae menandakan bahwa Langusei adalah kerabat dekat pohon ara, beringin (Ficusbenjamina), dan nangka.

Beda dengan beringin umumnya

Meski berkerabat dekat dengan beringin pada umumnya, Ficus minahassae memiliki sejumlah karakteristik pembeda yang sangat mencolok. 

Pertama, dari segi ukuran, Langusei termasuk pohon berukuran sedang dengan tinggi sekitar 15 meter, lebih pendek dibandingkan beringin biasa yang bisa tumbuh menjadi raksasa. Tajuknya sangat rindang dan lebat, dengan cabang-cabang yang banyak, menciptakan kanopi yang padat.

Ciri khas yang paling mencolok adalah kulit batangnya. Permukaan kulit batang Langusei halus dan mudah terkelupas. Saat kering, kulit yang terkelupas ini memperlihatkan serat-serat yang lembut, halus, ulet, dan kuat. 

Sifat serat inilah yang pada masa lalu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pembuat pakaian tradisional dan tali yang awet.

Daun Langusei berukuran relatif kecil, berbentuk bulat telur dengan ujung yang lancip. Namun, keunikan sesungguhnya terletak pada struktur reproduksinya. 

Seperti jenis Ficus lainnya, Langusei memiliki perbungaan yang unik disebut syconium. Bunganya tidak terlihat karena tersembunyi di dalam struktur bongkol hijau yang tampak seperti buah. 

Perbungaannya ini muncul secara kauliflori, yaitu tumbuh langsung dari batang utama, seringkali dimulai dari dekat tanah hingga ke cabang-cabang utamanya.

Bongkol-bongkol bunga ini menjuntai ke bawah dengan tangkai yang panjang, bisa mencapai lebih dari satu meter, menciptakan pemandangan yang sangat memesona. 

“Buah” yang dilihat sebenarnya adalah dasar bunga majemuk yang membengkak, dan di dalamnya lah proses penyerbukan yang rumit, yang biasanya tergantung pada tawon ara spesifik, terjadi.

Rumah bagi Organisme Lain

Langusei memainkan peran ekologis yang sangat vital sebagai “pohon kehidupan”. Buahnya yang melimpah dan tersedia sepanjang tahun menjadi sumber pangan penting bagi berbagai satwa langka dan endemik Sulawesi. 

Burung Rangkong Sulawesi atau Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinusexarhatus), yang merupakan satwa yang terancam punah, sangat bergantung pada buah Langusei. Begitu pula dengan Burung Rangkong Sulawesi (Rhyticeroscassidix) dan burung kecil seperti Cabai Panggul Kuning (Dicaeumaureolimbatum).

Tidak hanya bagi avifauna, mamalia endemik seperti Monyet Hitam Sulawesi (Macacamaura) juga menjadikan buah Langusei sebagai salah satu makanan favorit mereka.

Dengan menyediakan sumber pangan yang kritis, keberadaan Langusei membantu menopang populasi satwa-satwa kunci ini, sehingga menjamin keseimbangan rantai makanan di dalam hutan.

Pohon ini adalah contoh nyata dari sebuah spesies payung (umbrella species); melestarikannya berarti turut melindungi seluruh komunitas satwa yang bergantung padanya.

Pemanfaatan Tradisional: Dari Obat hingga Sandang

Hubungan antara masyarakat Sulawesi Utara dengan Langusei telah terjalin secara turun-temurun, menciptakan sebuah warisan etnobotani yang kaya. Berdasarkan data etnofarmakologi, hampir seluruh bagian tumbuhan ini memiliki khasiat. 

Dalam tradisi Minahasa, daun Langusei sering digunakan sebagai campuran obat tradisional. Buahnya yang manis juga dimanfaatkan sebagai campuran minuman tradisional, menambah cita rasa dan kemungkinan nilai kesehatannya.

Pengetahuan tentang khasiat Langusei bahkan menyebar hingga ke suku Higaonon Rogongon di Mindanau, Filipina selatan, yang menunjukkan persebaran historis pengetahuan tradisional ini. 

Menurut praktik mereka, akar Langusei direbus dan air rebusannya diminum tiga kali sehari untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui dan untuk menghilangkan nyeri otot. 

Sementara itu, daunnya dipanaskan di atas bara api, kemudian ditumbuk dan dicampur dengan minyak kelapa. Ramuan ini dioleskan langsung pada kulit untuk menyembuhkan bisul dan memar, menunjukkan sifat anti-inflamasi dan analgesiknya. 

Kulit kayunya yang berserat halus dan kuat, seperti telah disinggung, pada masa lalu menjadi bahan baku pembuatan pakaian dan tali, menunjukkan pemanfaatan yang berkelanjutan dan serba guna.

Konservasi Langusei

Persebaran alami Langusei meliputi kawasan Minahasa, Kepulauan Sitaro, Sangihe, Talaud, hingga Filipina selatan. Keberhasilannya dibudidayakan di Kebun Raya Bogor sejak zaman kolonial Belanda menunjukkan daya adaptasinya. 

Namun, seperti banyak spesies kunci lainnya, habitat alaminya menghadapi tekanan dari alih fungsi lahan. Upaya konservasi yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa maskot Minahasa ini terus menjalankan perannya sebagai penjaga ekosistem dan apotek hidup bagi generasi mendatang. 

Kehadirannya yang digambarkan dalam perangko 500 rupiah pada 1998 adalah pengakuan akan nilai nasionalnya, sebuah pengakuan yang perlu diteruskan dalam bentuk perlindungan nyata di alam liar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.