Munas-Konbes baru saja berlalu dengan segala dinamikanya. Semua pihak boleh memaknai apa yang terjadi sesuai posisi dan kepentingannya masing-masing. Namun ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah semua yang terjadi sesuai dengan adab dan nurani kita sebagai kaum santri yang mengaku Nahdliyin?
Tidak perlu cari siapa yang mesti disalahkan, akankah kita terus saling caci maki, mau sampai kapan? Apapun, wajah NU hari ini adalah KITA, tidak perlu mengelak.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan tentang siapa yang akan menjadi Rais Aam dan siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU. Sudah terlalu banyak energi warga NU tersedot ke dalam percakapan tentang figur, kubu, dukungan, dan kemungkinan-kemungkinan politik yang akan terjadi menjelang Muktamar.
Jika direnungkan lebih dalam, persoalan yang sedang dihadapi NU hari ini sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan.
Apa yang sedang terjadi bukan semata-mata persoalan orang per orang. Ia adalah refleksi tentang hubungan manusia dengan kekuasaan, hubungan amanah dengan kepentingan, serta hubungan antara ketulusan pengabdian dan kebutuhan akan tata kelola organisasi yang semakin matang.
Jika pembacaan kita hanya berhenti pada kritik dan caci maki terhadap kepemimpinan hari ini, maka umur analisis kita akan sangat pendek dan cetek, setelah Muktamar selesai, perdebatan itu akan ikut berlalu.
Tetapi jika yang dibicarakan adalah relasi antara khidmah, kekuasaan, dan masa depan institusi, maka pelajaran yang dapat diambil akan tetap relevan bahkan ketika nama-nama yang hari ini diperdebatkan sudah menjadi bagian dari sejarah.
Khidmah sebagai Fondasi
Pertanyaan paling mendasar yang perlu diajukan kepada diri kita sendiri, yang mengaku NU bahkan merasa paling NU dari yang lain, sebenarnya sangat sederhana: untuk apa kita masuk dan berkhidmah di NU?
Pertanyaan ini tampak sepele, tetapi justru di sanalah letak inti persoalannya. Pada masa para muassis, jawabannya relatif jelas, orang masuk NU untuk mengabdi.
Menjadi pengurus berarti menambah tanggung jawab, bukan menambah fasilitas.
Menjadi kiai berarti memikul amanah moral yang berat, bukan memperoleh akses terhadap berbagai sumber daya. Menjadi aktivis berarti mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kadang-kadang harta, demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena itu, NU tumbuh dan berkembang di atas fondasi pengabdian. Organisasi ini tidak dibesarkan oleh orang-orang yang bertanya apa yang bisa mereka peroleh dari jam’iyyah, tetapi oleh orang-orang yang bertanya apa yang bisa mereka berikan kepada umat melalui jam’iyyah. Yang menjadi modal utama bukan kekuasaan, bukan uang, bukan fasilitas, melainkan keikhlasan dan ketulusan.
Sejarah selalu mengajarkan bahwa semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula godaan yang mengitarinya. Ketika pengaruh organisasi membesar, orang mulai melihatnya sebagai sumber legitimasi. Ketika akses semakin luas, organisasi mulai dipandang sebagai jalan menuju berbagai posisi strategis. Ketika hubungan dengan negara semakin dekat, organisasi menjadi ruang yang diperebutkan oleh beragam kepentingan.
Di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai. Sebab organisasi tidak selalu rusak karena diisi oleh orang-orang jahat. Dalam banyak kasus, organisasi justru tergelincir ketika terlalu banyak orang baik mulai merasa bahwa tujuan yang mulia dapat membenarkan cara-cara yang tidak lagi mulia, dan merasa paling benar sendiri, sambil menafikan liyan.
Ketika jabatan mulai dipahami sebagai hak, bukan amanah. Ketika pengaruh mulai dianggap sebagai milik pribadi, bukan titipan untuk kemaslahatan. Ketika organisasi perlahan bergeser dari ruang pengabdian menjadi arena perebutan posisi dan ambisi.
Ketika Kekuasaan Datang
Di sinilah pentingnya kembali membaca sejarah para muassis. Ada satu pelajaran besar yang sering luput dari perhatian. Para pendiri NU tidak pernah membangun organisasi ini untuk bergantung pada satu figur.
K.H. Hasyim Asy’ari adalah ulama besar, tetapi beliau tidak mendirikan NU sebagai perpanjangan dirinya. K.H. Wahab Chasbullah adalah tokoh luar biasa, tetapi beliau tidak membangun organisasi untuk memusatkan seluruh otoritas pada dirinya.
Para kiai generasi awal memahami bahwa manusia akan datang dan pergi, sedangkan jam’iyyah harus tetap hidup dan lestari.
Karena itu, yang mereka bangun bukan sekadar kepemimpinan, melainkan mekanisme. Mereka membangun musyawarah. Mereka membangun tradisi kolektif. Mereka membangun struktur dan budaya organisasi yang memungkinkan NU tetap berjalan bahkan ketika para tokoh besarnya telah tiada.
Kebijaksanaan para muassis tidak hanya terlihat dari kemampuan mereka menjawab kebutuhan zamannya, tetapi juga dari kemampuan mereka memikirkan keberlangsungan organisasi jauh melampaui umur mereka sendiri.
Harus diakui bahwa selama satu abad kemarin, NU mampu bertahan bukan terutama karena kehebatan sistemnya. NU bertahan karena kualitas manusia yang mengisinya. Banyak persoalan dapat diselesaikan oleh kewibawaan moral seorang kiai. Banyak konflik dapat mereda karena rasa sungkan dan adab. Banyak perbedaan dapat dijembatani karena keluasan, ketulusan, samudera hati para pemimpinnya.
Dalam tradisi pesantren, hubungan moral sering kali lebih kuat daripada aturan tertulis. Kata-kata seorang kiai terkadang lebih ditaati daripada pasal-pasal organisasi.
Selama orang-orang yang memimpin memiliki kemampuan menahan diri, keluasan pandangan, dan kesediaan mendahulukan jam’iyyah di atas dirinya sendiri, sistem yang sederhana pun mampu bekerja dengan baik.
Tetapi di sinilah paradoksnya. Keberhasilan yang terlalu lama ditopang oleh kualitas manusia sering kali membuat organisasi kurang terdorong untuk memperkuat sistemnya. Akibatnya, ketika kualitas manusia berubah atau tantangan menjadi jauh lebih kompleks seperti saat ini, organisasi mulai mengalami guncangan dan oleng.
Berbicara tentang pentingnya sistem yang kuat sesungguhnya bukan bentuk ketidakpercayaan kepada ulama. Justru sebaliknya. Sistem dibutuhkan karena kita memahami bahwa ulama pun manusia. Kiai pun manusia. Pengurus pun manusia. Aktivis pun manusia. Semua manusia memiliki keterbatasan, bisa keliru, bisa ceroboh, bahkan bisa tergoda oleh kekuasaan dan kepentingan.
Negara membutuhkan konstitusi bukan karena semua pemimpinnya buruk, melainkan karena pemimpin yang baik pun tetap manusia. Demikian pula NU, organisasi sebesar NU tidak boleh bergantung sepenuhnya pada kualitas pribadi orang-orang yang kebetulan sedang memegang jabatan.
NU membutuhkan tata kelola yang mampu menjaga amanah, mengendalikan konflik, mengatur mekanisme koreksi, dan memastikan bahwa organisasi tetap berjalan meskipun para pemimpinnya tidak selalu berada pada kualitas terbaiknya.
Menjaga NU untuk Abad Kedua
Jika dibaca dengan tenang, berbagai ketegangan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir sesungguhnya bukan penyakit utama. Ia lebih tepat dibaca sebagai gejala.
Gejala bahwa NU sedang memasuki fase baru yang jauh lebih kompleks. Gejala bahwa struktur yang ada mulai menghadapi beban yang lebih besar daripada ketika ia dirancang.
Gejala bahwa hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah membutuhkan penataan yang lebih jelas. Gejala bahwa kaderisasi memerlukan pembaruan. Gejala bahwa mekanisme pengambilan keputusan perlu diperkuat.
Dan gejala bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan tata kelola yang lebih sesuai dengan ukuran, tantangan serta pengaruhnya hari ini. Kesalahan terbesar yang bisa terjadi di Muktamar nanti adalah menganggap bahwa seluruh persoalan akan selesai hanya dengan mengganti orang.
Pergantian kepemimpinan memang penting. Tetapi pergantian kepemimpinan tanpa pembaruan kelembagaan hanya akan memindahkan persoalan dari satu periode ke periode berikutnya. Konflik mungkin mereda sesaat, tetapi akar masalahnya akan tetap ada dan berpotensi muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Mungkin inilah tantangan terbesar NU memasuki abad keduanya. Jika abad pertama adalah abad membangun legitimasi sosial, keagamaan, dan kebangsaan, maka abad kedua adalah abad institusionalisasi.
Abad di mana NU perlu memperkuat tata kelola tanpa kehilangan ruh pesantren. Memperkuat sistem tanpa kehilangan adab. Memperkuat profesionalisme tanpa kehilangan keikhlasan. Memperkuat organisasi tanpa kehilangan jiwa pengabdian.
Inilah pekerjaan besar yang tidak dapat diselesaikan oleh satu orang, satu kubu, atau satu periode kepengurusan. Ia membutuhkan kesadaran kolektif seluruh warga NU bahwa masa depan organisasi tidak boleh bergantung hanya pada figur. Sebesar apa pun seorang pemimpin, ia tetap manusia. Tetapi institusi yang sehat harus mampu melampaui seluruh manusia yang pernah memimpinnya.
Pada akhirnya, sejarah NU tidak pernah dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. NU bertahan karena selalu memiliki kemampuan untuk kembali kepada dirinya sendiri. Kembali kepada khidmah ketika terlalu dekat dengan kekuasaan. Kembali kepada persatuan ketika mulai terbelah. Kembali kepada musyawarah ketika konflik mengeras. Dan kembali kepada amanah ketika jabatan mulai dipandang sebagai hak.
Mungkin itulah yang paling dibutuhkan NU hari ini. Bukan sekadar pemimpin baru. Bukan sekadar struktur baru. Melainkan kesadaran baru. Kesadaran bahwa organisasi yang besar tidak cukup ditopang oleh orang-orang baik saja, dan sistem yang baik pun tidak akan cukup tanpa manusia-manusia yang tulus menjaganya. Mesti ada keseimbangan dan kesinambungan keduanya.
Kokoh sistemnya, menjaga amanah dengan penuh khidmat serta menata masa depan bermartabat. Masa depan NU tidak terletak pada pilihan antara manusia atau sistem. Masa depan NU terletak pada kemampuan mempertemukan keduanya.
Para muassis telah membangun NU dengan ketulusan. Generasi hari ini berkewajiban menjaganya dengan tata kelola yang lebih matang. Dan generasi yang akan datang berhak menerima jam’iyyah yang lebih kuat daripada yang kita warisi hari ini.
Apakah NU akan terus bergantung pada harapan lahirnya tokoh-tokoh besar yang mampu menyelesaikan semua persoalan? Ataukah NU akan mulai memperkuat institusinya sehingga tetap kokoh bahkan ketika dipimpin oleh manusia-manusia biasa?
Para muassis telah menunjukkan jalan dengan kebijaksanaan mereka. Generasi hari ini berkewajiban menjaga warisan itu dengan kebijaksanaan yang sama. Dan salah satu bentuk kebijaksanaan terbesar adalah menyadari bahwa cinta kepada NU tidak cukup diwujudkan dengan memenangkan satu kelompok atas kelompok lain.
Cinta kepada NU harus diwujudkan dengan memastikan bahwa jam’iyyah ini tetap menjadi rumah bersama, tetap menjadi penjaga kemaslahatan umat, dan tetap mampu berdiri tegak jauh melampaui seluruh tokoh yang pernah memimpinnya.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang sejarah bukanlah siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang berhasil menjaga amanah. Dan amanah terbesar itu bernama Nahdlatul Ulama. NU membutuhkan manusia-manusia yang tulus untuk menjaga amanah. NU membutuhkan sistem yang kuat untuk menjaga manusianya.
Dan masa depan NU hanya akan kokoh jika ketulusan dan kelembagaan dipertemukan dalam satu tarikan nafas, khidmah. Dan ketika seluruh hiruk-pikuk kontestasi nanti telah usai, ketika spanduk diturunkan, dukungan dibubarkan, dan para pemenang telah ditetapkan, pertanyaan yang tersisa sesungguhnya sangat sederhana:
Apakah kita telah memilih pemimpin yang mampu menjaga NU? Ataukah kita hanya memilih orang yang memenangkan Muktamar? Wallahu a’lam bi al-shawab.





Comments are closed.