Dalam dunia tafsir al-Qur’an, terdapat beragam metodologi penafsiran yang digunakan berbagai mufassir. Sebagian ulama ada yang menggunakan penekanan aspek bahasa, sebagian lain ada juga yang menyoroti konteks sejarah atau hukum, dan berbagai aspek lainnya.
Sementara itu, ada pula yang mencoba menafsirkan ayat al-Qur’an melalui pendekatan ilmu pengetahuan modern. Pertanyaannya, apakah semua ayat bisa dipahami dengan sudut pandang sains?
Pendekatan sains dalam tafsir memang bisa dibilang unik. Beberapa ahli berusaha menjelaskan fenomena yang disebutkan dalam al-Qur’an dengan teori ilmiah modern. Misalnya, dalam tafsir yang dituliskan beberapa ahli sains, terdapat beberapa teori yang membahas hal-hal seperti mukjizat kenabian menggunakan metode sains.
Diantaranya adalah sebuah penafsiran yang menyatakan bahwa pasukan gajah Abrahah yang tewas saat menyerang Makkah bukan karena mujizat yang sering dipahami masyarakat awam.
Mereka menyatakan bahwa pasukan gajah tersebut tewas karena virus yang menyebar pada masa tersebut, sehingga teori modern ini bertentangan dengan teori tradisional yang menyebutkan kehancuran pasukan gajah disebabkan oleh serangan burung ababil sebagai bentuk mujizat.
Selain itu, terdapat juga teori yang menyatakan sosok Nabi Adam yang dinilai hanya sekadar simbol cerita historis bukan figur nyata. Teori tersebut didasari argumen yang menyatakan ketiadaan bukti arkeologis ataupun artefak yang bisa menguatkan keberadaan Nabi Adam sebagai manusia pertama.
Pandangan ini tentu menimbulkan kontroversi karena menyentuh keyakinan umat Islam tentang asal-usul manusia.
Ustaz Fazal Himam dalam seminarnya di Ma’had Aly Darul Ulum saat mengisi kajian ilmu al-Qur’an pada hari Senin (18 Mei 2026), mengkritik beberapa teori ini dengan menyatakan bahwa tidak semua ayat dalam al-Qur’an bisa ditafsirkan dengan pendekatan rasional atau sains.
Hal itu disebabkan oleh adanya konsep “khariqun lil adah” pada kenabian, yaitu peristiwa-peristiwa luar biasa yang melampaui hukum alam. Mukjizat para nabi, misalnya, memang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah, bukan untuk dijelaskan dengan teori ilmiah semata.
Beliau menegaskan bahwa membatasi tafsir hanya pada sudut pandang sains saja bisa menjerumuskan umat pada kesesatan berpikir. Karena kita sebagai umat muslim harus mengimani hal-hal gaib dan rahasia Tuhan (sirr) yang memang tidak bisa dijangkau akal manusia.
Karena itu, terdapat beberapa ayat yang penafsirannya dibatasi, contohnya, adalah ayat-ayat pembuka seperti alif lam mim. Para ulama menafsirkan ayat ini dengan ungkapan “Allahu a’lamu bimuradihi” atau hanya Allah yang mengetahui maksud sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa ada batasan dalam penafsiran, dan manusia tidak selalu bisa memaksakan logika rasional pada setiap ayat.
Namun, Ustaz Fazal Himam juga menekankan bahwa Islam tidak menutup pintu bagi ilmu pengetahuan. Justru, Islam mendorong umatnya untuk selalu berpikir, meneliti, dan menggali hikmah dari alam semesta. Banyak ayat yang memang bisa dipahami dengan pendekatan sains, seperti ayat tentang penciptaan langit dan bumi, siklus air, atau perkembangan janin dalam rahim. Semua itu memperkuat keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang relevan sepanjang zaman.
Tetapi, umat harus tetap bijak dalam membedakan mana ayat yang bisa ditafsirkan secara ilmiah, dan mana yang harus diterima sebagai bagian dari keimanan terhadap hal gaib.
Dengan demikian, tafsir sains bisa menjadi salah satu pintu untuk memahami keindahan al-Qur’an, tetapi bukan satu-satunya jalan. Menggabungkan pendekatan bahasa, sejarah, dan asbabun nuzul tetap diperlukan agar tafsir tidak kehilangan esensinya.





Comments are closed.