Setelah tulisan sebelumnya “Ulama Nusantara Penikmat Lagu-Lagu Ummu Kultsum“ terbit di Alif.id, penulis menerima beberapa masukan dari para pembaca agar turut mengulas nama-nama ulama Nusantara lain yang belum sempat disebutkan. Dari situlah muncul keinginan untuk melanjutkan pembahasan pada artikel ini.
Ketika menelaah beberapa lagu yang dibawakan Ummu Kultsum, penulis menemukan bahwa aransemen musik dalam lagu “Sukaro” ternyata pernah diadaptasi oleh Abah Guru Sekumpul (Guru Ijai) sebagai pengiring nasyid Marhaban pada prosesi Mahalul Qiyam. Aransemen tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu ciri khas pembacaan Maulid ala Sekumpul yang dikenal luas hingga sekarang.
Guru Sekumpul sendiri memang dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara yang mengapresiasi lagu-lagu Ummu Kultsum. Dalam salah satu rekaman pengajian sekitar awal tahun 2000-an, beliau pernah menjelaskan bahwa nyanyian dan alat musik yang mengundang kemaksiatan hukumnya haram. Namun, beliau memberikan pengecualian terhadap lagu-lagu tertentu yang bernilai baik.
Hal itu tampak dari beberapa rekaman pengajian pada dekade 1990-an di Musholla Ar-Raudah, Sekumpul. Di tengah majelis, beliau sempat memutarkan kaset lagu-lagu gambus, termasuk—sejauh yang penulis ketahui—munajat Rabi’ah al-Adawiyah yang dilantunkan oleh Ummu Kultsum.
Selain menjadi sosok yang mengagumi karya Ummu Kultsum, terdapat pula ulama Nusantara yang pernah berjumpa dan berinteraksi langsung dengannya. Tokoh tersebut adalah Nyai Khoiriyah Hasyim. Pada bulan Rabiul Awal 1362 H (Maret 1943 M), beliau mendirikan Madrasatul Darul Ulum lil Banat, sebuah madrasah khusus perempuan yang dikenal sebagai madrasah perempuan pertama di Tanah Suci pada masanya.
Kisah pertemuan Nyai Khoiriyah dengan Ummu Kultsum dituturkan oleh Ustadz Anang Tebuireng berdasarkan penjelasan Kiai Muhsin Zuhdi—putra angkat Nyai Khoiriyah—serta Kiai Luthfi Sahal, cucu menantu beliau. Dalam pertemuan tersebut, Nyai Khoiriyah berbincang dengan Ummu Kultsum menggunakan bahasa Arab yang fasih, bahkan sesekali melantunkan beberapa bait syair Arab.
Kefasihan berbahasa dan keindahan cengkok bacaan Nyai Khoiriyah membuat Ummu Kultsum memberikan pujian secara langsung. Sebuah apresiasi yang tentu sangat berkesan, mengingat Ummu Kultsum merupakan diva Arab legendaris dengan penjualan rekaman yang mencapai lebih dari 80 juta kopi di berbagai belahan dunia.
Bukan tidak mungkin, pertemuan itu juga dilandasi rasa hormat Ummu Kultsum terhadap perjuangan Nyai Khoiriyah dalam memajukan pendidikan perempuan di Tanah Suci. Perjuangan tersebut dilakukan ketika Nyai Khoiriyah mendampingi suaminya, Syaikh Abdul Muhaimin al-Lasemi al-Makki, sekaligus mengembangkan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan.
Demikian sekelumit kisah mengenai hubungan Ummu Kultsum dengan para ulama Nusantara. Fakta-fakta seperti ini tampaknya masih belum banyak diketahui oleh kalangan santri maupun masyarakat umum. Padahal, kisah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan ulama Nusantara dengan dunia seni dan sastra Arab jauh lebih kaya daripada yang selama ini banyak dibayangkan. Wallahu a’lam.





Comments are closed.