Bincangperempua.com- Kamu pasti sudah familiar dengan Love Language atau bahasa cinta, kan? Ada lima macam: Act of Service (berbuat sesuatu untuk pasangan), Physical Touch (sentuhan fisik), Words of Affirmation (kata-kata penyemangat), Receiving Gifts (memberi hadiah), dan Quality Time (waktu berkualitas). Konsep ini membantu kita memahami cara orang menunjukkan dan menerima kasih sayang.
Tapi, bagaimana kalau hubungan sedang tidak baik? Saat ada perdebatan, pertengkaran, atau tekanan hidup yang berat? Di situlah muncul yang namanya Stress Language atau bahasa stres. Konsep ini diperkenalkan oleh Chantal Donnelly, seorang terapis fisik dan peneliti stres.
Menurutnya, saat kita stres, otak bagian depan (frontal lobe) yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan jadi mati sementara. Akibatnya, kita sulit berkomunikasi dengan baik, seolah-olah sedang bicara bahasa yang berbeda dengan orang lain.
Stress language bukan hanya berlaku di hubungan romantis. Ini bisa muncul di tempat kerja, keluarga, pertemanan, bahkan saat menghadapi masalah sendirian. Memahami bahasa stres kita dan orang lain bisa membantu mengurangi konflik, meningkatkan empati, dan mengelola emosi lebih baik. Banyak orang punya satu atau dua bahasa stres utama, tapi bisa berubah tergantung situasi atau orang yang dihadapi.
Berikut adalah lima jenis Stress Language berdasarkan klasifikasi Donnelly:
1. The Imploder (Freeze Response)
Imploder adalah tipe orang yang bereaksi dengan cara “membeku” saat menghadapi tekanan. Mereka mengalami kelumpuhan emosional, merasa tidak berdaya (helplessness), dan mengisolasi diri total karena menganggap semua usaha akan sia-sia.
Misalnya kalau di dunia kerja saat mendapatkan teguran keras dari atasan atau proyeknya gagal total, seorang Imploder tidak akan mendebat. Mereka akan kembali ke meja kerja, menatap layar monitor dengan tatapan kosong selama berjam-jam, menunda semua email masuk, dan mengabaikan pesan.
Contoh lainnya kalau dalam hubungan, saat bertengkar dengan pasangan, mereka memilih untuk diam, mengunci diri di kamar, atau tiba-tiba melakukan ghosting berhari-hari karena merasa kewalahan (overwhelmed).
Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua
2. The Exploder (Fight or Flight)
Kebalikan dari Imploder, tipe Exploder mengaktifkan respons “lawan atau lari”. Saraf mereka sangat sensitif, sehingga mereka cenderung bereaksi berlebihan, mudah tersinggung, frustrasi, dan meledak-ledak.
Misalnya saat terjebak macet parah dan telat menghadiri rapat, seorang Exploder akan membunyikan klakson secara agresif atau memaki pengendara lain. Contoh lainnya, misal dalam rumah tangga: karena pasangan lupa membuang sampah atau anak menumpahkan susu, seorang Exploder bisa langsung naik pitam dan memicu pertengkaran besar. Respons agresif ini sering membuat orang di sekitarnya selalu waspada.
3. The Fixer (Yang Suka Memperbaiki / Tend and Befriend)
The Fixer merespons stres dengan cara mengalihkan fokus pada masalah orang lain. Tipe ini didominasi oleh dorongan untuk menjaga, merawat, dan menyenangkan semua orang (people–pleasing), bahkan sering sampai mengorbankan batasan diri (boundaries) mereka sendiri.
Misalnya saat terjadi konflik internal di tempat kerja, seorang Fixer akan sibuk membelikan kopi untuk semua orang, mendengarkan curhatan kedua belah pihak yang bertikai, dan berusaha menjadi mediator, padahal pekerjaan utama mereka sendiri terbengkalai.
Contoh lainnya saat keuangan keluarga sedang krisis, seorang ibu dengan tipe Fixer mungkin akan tetap memaksakan diri memasak makanan mewah untuk arisan atau membantu sepupunya yang berutang, agar semua orang bahagia dan terurus. Meskipun dirinya sendiri mengalami kelelahan fisik dan mental (burnout).
4. The Numb-er (Escapism)
Tipe Numb-er menggunakan taktik pelarian atau eskapisme untuk mematikan rasa (numb) dari emosi negatif yang tidak nyaman. Mereka menolak menghadapi realitas dengan mengalihkan perhatian pada aktivitas yang secara instan memicu dopamin.
Contohnya ketika seseorang sedang mengalami hari yang buruk atau patah hati, seorang Numb-er akan melakukan doomscrolling di media sosial hingga pagi, menonton maraton serial Netflix selama akhir pekan tanpa mandi, atau melakukan belanja impulsif (revenge shopping) hingga limit kartu kredit habis.
Tipe ini bisa membius stres dengan kerja berlebihan (workaholism) atau olahraga ekstrem. Mereka sengaja mengambil lembur setiap hari agar otak mereka terlalu lelah untuk memikirkan masalah pribadi yang sesungguhnya.
5. The Denier (Toxic Positivity)
The Denier menggunakan optimisme dan positivitas berlebihan sebagai perisai untuk menolak realitas yang pahit. Mereka mempraktikkan toxic positivity karena menganggap emosi negatif adalah tanda kelemahan atau kegagalan.
Misalnya dalam dunia bisnis, saat bisnis yang dirintisnya berada di ambang kebangkrutan, seorang Denier akan menolak melihat laporan keuangan. Mereka akan terus berkata kepada timnya, “Ayo tetap positif, ini cuma kerikil kecil, badai pasti berlalu!” tanpa melakukan langkah penyelamatan yang konkret.
Atau ketika temannya sedang berduka atau depresi, mereka akan langsung mengeluarkan kutipan klise seperti, “Jangan sedih terus, masih banyak orang yang lebih susah dari kamu.” Hal ini membuat orang lain merasa tidak didengar dan validitas emosinya diabaikan.
Baca juga: Di Balik Hubungan Toksik: Kenapa Ada Pasangan yang Putus Nyambung Terus?
Mengapa Penting Memahami Stress Language?
Memahami bahasa stres membantu kita berkomunikasi lebih baik. Misalnya, kalau pasanganmu Exploder, jangan langsung konfrontasi saat dia marah. Beri ruang dulu. Kalau kamu Imploder, beri tahu orang terdekat: “Aku butuh waktu sendiri sebentar, nanti kita bicara.”
Kamu bisa punya lebih dari satu jenis, tergantung konteks. Donnelly menyarankan bertanya pada pasangan atau teman dekat: “Menurut kamu, aku biasanya seperti apa saat stres?” Ini bukan untuk menyalahkan, tapi untuk saling paham.
Selain mengenali, ada cara mengelola stres yang lebih sehat:
- Buat rutinitas harian (makan, tidur, olahraga teratur).
- Latihan pernapasan sederhana: Tarik napas 3 detik, hembuskan 6 detik.
- Fokus pada tubuh (body-up response) daripada memaksa pikiran positif.
Kalau stres sudah mengganggu hubungan, pekerjaan, atau kesenangan hidup, jangan ragu minta bantuan profesional. Stress language bukan label tetap, tetapi alat untuk memahami diri dan orang lain. Dengan memahaminya, kita bisa mengubah respons negatif menjadi kesempatan untuk tumbuh dan menjalin hubungan yang lebih sehat. Mulai dari sekarang: amati diri sendiri saat menghadapi tekanan kecil. Apa yang biasa kamu lakukan? Itu bisa jadi petunjuk bahasa stresmu.
Referensi:
- What is your ‘stress language’? Here’s how to find out. (2024, April 26). HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/five-stress-languages-mental-health_l_662bae3de4b00d7cf284de05





Comments are closed.