Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Konservasi Penyu Sodong, Cilacap dan Harapan Menjaga Ekosistem Laut

Konservasi Penyu Sodong, Cilacap dan Harapan Menjaga Ekosistem Laut

konservasi-penyu-sodong,-cilacap-dan-harapan-menjaga-ekosistem-laut
Konservasi Penyu Sodong, Cilacap dan Harapan Menjaga Ekosistem Laut
service

Cilacap, NU Online

Sejak 2019 Jumawan (33) mengelola dan melestarikan penyu-penyu di Konservasi Penyu Nagari, Pantai Sodong, Kecamatan Adipala, Cilacap Jawa Tengah. Ia memulai gerakan itu dari kegelisahan sederhana. Bertahun-tahun ia menyaksikan telur-telur penyu yang baru dikeluarkan dari sarangnya justru dipungut untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan.

“Sebelumnya telur penyu selalu diambil untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan. Itu membuat saya semakin prihatin dan tergugah untuk menyelamatkan penyu sekaligus menyadarkan masyarakat kemudian kami membentuk kelompok masyarakat yang beranggotakan sepuluh orang, sebagian besar nelayan,” ujarnya saat ditemui di kawasan konservasi, Ahad (5/7/2026).

Kemudian Jumawan menjelaskan, wilayah kerjanya membentang dari Pantai Sodong di Kecamatan Adipala hingga Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu. 

“Kita para relawan rutin menyisir pantai pada malam hari untuk mencari sarang penyu sekaligus mengamankannya dari ancaman perburuan. Terkadang juga ada laporan dari nelayan jika mereka menemukan sarang penyu,” kata Jumawan.

“Untuk jenis penyu yang paling sering mendarat di kawasan ini adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea), salah satu spesies penyu terkecil di dunia,” imbuhnya.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir. Jumawan mengakui kesadaran masyarakat memang terus meningkat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi praktik pengambilan telur penyu masih ditemukan di sejumlah titik pantai.

“Sudah banyak masyarakat yang teredukasi dan mulai peduli. Namun memang masih ada sebagian nelayan yang mengambil telur penyu untuk konsumsi maupun dijual. Karena itu diperlukan kerja sama semua pihak untuk terus melakukan sosialisasi,” ujarnya.

Baginya, keberadaan penyu bukan sekadar menyelamatkan satu jenis satwa, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem laut. “Pantai yang masih didatangi penyu untuk bertelur menjadi indikator bahwa laut kita masih sehat dan alami. Penyu hanya mau bertelur di pantai yang tenang, jauh dari aktivitas manusia dan kebisingan,” jelasnya.

Dari usahanya melestarikan penyu, sejak 2019 hingga 2025, sedikitnya Jumawan dan timnya sudah berhasil melepaskan 7.500 tukik ke laut. Sementara sepanjang 2026, sekitar 400 hingga 500 tukik telah kembali ke habitatnya.

“Ini masih ada 13 blok sarang lain yang masih menyimpan sekitar 700 butir telur menunggu menetas,” katanya.

Meski demikian, Jumawan berharap perhatian pemerintah daerah dapat semakin besar. Menurutnya, konservasi ini membutuhkan ruang baca, penginapan sederhana bagi mahasiswa magang, hingga fasilitas penunjang penelitian.

Ia juga berharap kegiatan edukasi lingkungan dapat menjadi agenda rutin sekolah-sekolah di Kabupaten Cilacap. “Harapan kami, anak-anak sekolah diwajibkan datang ke sini setiap tahun. Wisata edukasi seperti ini tidak dimiliki semua daerah dan bisa menjadi sarana belajar mencintai lingkungan sejak dini,” katanya.

Salah satunya Warsih (44), warga Jakarta, yang sengaja mengikuti kegiatan outing class bersama anaknya. Baginya, pengalaman melepas tukik dan menanam mangrove memberikan pelajaran yang sulit didapatkan di ruang kelas. “Bermanfaat sekali. Bagus untuk edukasi anak-anak, apalagi saat masa liburan seperti ini,” ujarnya.

Warsih melihat anak-anak tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar mencintai alam melalui pengalaman langsung. “Mereka belajar mencintai alam, menanam mangrove, dan mengenal hewan yang dilindungi. Anak-anak juga senang karena bisa belajar sambil bermain,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.