Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Jualan Insecure: Mengapa Narasi Manosphere Laku Keras di Internet?

Jualan Insecure: Mengapa Narasi Manosphere Laku Keras di Internet?

jualan-insecure:-mengapa-narasi-manosphere-laku-keras-di-internet?
Jualan Insecure: Mengapa Narasi Manosphere Laku Keras di Internet?
service

Bincangperempuan.com- Pernahkah nggak sih, pas lagi asyik scrolling TikTok atau YouTube, tiba-tiba algoritma melempar kamu ke potongan video podcast? Lighting-nya dramatis, mikrofonnya kelihatan mahal, dan si pembicara—seorang laki-laki dengan tatapan intens—menjelaskan bahwa feminisme adalah “scam” terbesar abad ini. Dia bilang seakan-akan  feminisme menghancurkan peradaban, membuat laki-laki kehilangan jati diri, dan mengubah perempuan jadi sosok yang “tak bisa diatur.”

Seringkali, narasi ini muncul di tengah realita yang kontradiktif. Di satu sisi, ada kreator yang teriak bahwa laki-laki adalah target kebencian dari para feminis. Seolah feminisme itu ajaran untuk menindas laki-laki.  Di sisi lain, di dunia nyata, masih banyak perempuan yang hak dasarnya dirampas—dari akses pendidikan sampai kebebasan bergerak. Jadi, sebenarnya siapa yang sedang ditindas di sini?

Mengenal Manosphere

Fenomena tersebut kelihatannya “berani” dan memikat, apalagi buat mereka yang merasa tersisih oleh perubahan zaman. Tapi, retorika ini bukan sekadar pendapat personal satu orang saja. Itu adalah pintu masuk ke sistem yang lebih berbahaya yaitu manosphere. Melansir dari UN Women, manosphere adalah istilah payung untuk  komunitas online yang mempromosikan definisi maskulinitas yang sempit dan agresif.Terutama tentang bagaimana menjadi laki-laki yang utuh sesuai standar maskulinitas toksis. Selain itu mereka juga menarasikan feminisme dan kesetaraan gender sebagai “ancaman” bagi laki-laki.

Isi kontennya pun beragam, ada yang berkedok lifestyle coach yang mengajarkan “tanggung jawab pribadi,” padahal ujung-ujungnya menyalahkan perempuan atas segala kegagalan hidup laki-laki. Mereka menargetkan laki-laki muda yang merasa kesepian, butuh validasi, atau sekadar bingung dengan perubahan sosial yang cepat.

Tapi, kenapa banyak laki-laki muda yang “terpancing”?

​Riset dari State of American Men (2025) menunjukkan adanya crisis of connection. Sebanyak dua pertiga laki-laki muda merasa seperti tak ada yang benar-benar mengenal mereka. Inilah yang disebut sebagai crisis of connection.

​Laki-laki sering dididik untuk tidak boleh menunjukkan emosi atau kerentanan. Saat mereka merasa terisolasi, manosphere datang menawarkan “rumah.” Di sana, mereka dikasih jawaban instan atas dunia yang kompleks. Mereka dikasih label: kamu “Alpha” atau “Sigma” kalau bisa mendominasi, dan kamu “Beta” atau korban kalau kamu berempati.

​Masalahnya, forum-forum ini justru mendorong perilaku tidak sehat. Bukannya belajar jadi manusia yang lebih baik, mereka justru diajarkan untuk membangun harga diri dengan cara menjatuhkan orang lain, terutama perempuan.

Baca juga: Dunia yang Dibangun untuk Laki-Laki: Bukti Arsitektur Kita Bias Gender

Manosphere dalam Konteks Indonesia

​Jangan salah, manosphere bukan hanya fenomena Barat. Di Indonesia, kita sering lihat narasi di media sosial kita yang membungkus misogini (kebencian terhadap perempuan) dengan kata-kata “kodrat” atau “agama.”

​Misalnya, tren memuji laki-laki yang punya banyak pasangan, atau merendahkan perempuan berkarir sebagai sosok yang tidak akan bisa mengurus keluarga. Kemudian ada istilah seperti “AWALT” (All Women Are Like That), hypergamous (tuduhan bahwa perempuan hanya mencari laki-laki kaya), hingga penghinaan terhadap perempuan (seperti menyebut perempuan sebagai objek) sudah jadi kosakata sehari-hari di kolom komentar podcast atau akun-akun “motivasi” maskulinitas. Ini bukan diskusi sehat, tetapi echo chamber kebencian.

Kenapa Ini Merugikan Semua Orang?

​Argumen bahwa manosphere membantu laki-laki adalah mitos. Riset dari Equimundo menunjukkan bahwa laki-laki yang aktif mengikuti influencer maskulinitas toksik justru:

  • Merasakan tingkat ketidakberdayaan yang lebih tinggi.
  • ​Kurang memprioritaskan kesehatan mental.
  • ​Lebih mungkin melakukan perilaku berisiko dan penyalahgunaan zat.

​Siklus ini berbahaya. Ketika laki-laki tidak didorong untuk jujur soal emosinya, mereka malah lari ke komunitas yang memvalidasi kemarahan mereka. Ujung-ujungnya? Radikalisasi. Mulai dari pelecehan verbal di media sosial, hingga kekerasan di dunia nyata. Ini bukan sekadar “beda pendapat,” ini ancaman terhadap kesetaraan gender.

Baca juga: Saat Laki-Laki Curhat Upah di Media Sosial, Kenapa Responnya Sering Sinis?

​Lalu, apa yang bisa kita lakukan? 

Apakah kita harus membalas kebencian dengan kebencian? Tentu saja tidak.

​Langkah pertama adalah literasi media. Kita harus mulai mempertanyakan, “Siapa yang diuntungkan dari konten ini?” Kalau sebuah konten maskulinitas membuatmu merasa lebih kuat dengan cara merendahkan orang lain, itu adalah red flag

​Kedua, mendefinisikan ulang maskulinitas. Menjadi laki-laki yang tangguh bukan berarti harus stoik, tidak punya empati, atau mendominasi. Laki-laki yang sehat justru adalah mereka yang berani mengakui kerentanan, membangun hubungan yang setara, dan menghargai perempuan sebagai mitra, bukan musuh.

​Dunia ini sudah cukup kompleks dan berat. Kita tidak  perlu menambah bebannya dengan kebencian berbasis gender. Saatnya kita menolak untuk menjadi “produk” dari algoritma kebencian. Mari kita unsubscribe dari manosphere, dan mulai membangun ruang digital yang lebih manusiawi—tempat di mana laki-laki bisa tumbuh tanpa harus menjatuhkan orang lain, dan perempuan bisa hidup tanpa rasa takut.

Jadi jangan sampai feminisme dijadikan alibi atas kegagalan laki-laki mengelola emosi. Feminisme itu murni soal perjuangan akses yang setara bagi semua orang. Sangat tidak masuk akal ketika seorang laki-laki melabeli feminisme sebagai scam, di saat yang sama, masih banyak perempuan di luar sana yang bahkan tidak punya hak dasar untuk sekolah atau tidak diizinkan keluar rumah tanpa pendamping laki-laki. Berhenti berlindung di balik narasi kebencian untuk menutupi ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia yang sudah berubah. Mengakui privilege dan belajar mengelola perasaan adalah bentuk kedewasaan, bukan ancaman bagi maskulinitasmu.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.