Bincangperempuan.com- Pernahkah nggak sih, pas lagi asyik scrolling TikTok atau YouTube, tiba-tiba algoritma melempar kamu ke potongan video podcast? Lighting-nya dramatis, mikrofonnya kelihatan mahal, dan si pembicara—seorang laki-laki dengan tatapan intens—menjelaskan bahwa feminisme adalah “scam” terbesar abad ini. Dia bilang seakan-akan feminisme menghancurkan peradaban, membuat laki-laki kehilangan jati diri, dan mengubah perempuan jadi sosok yang “tak bisa diatur.”
Seringkali, narasi ini muncul di tengah realita yang kontradiktif. Di satu sisi, ada kreator yang teriak bahwa laki-laki adalah target kebencian dari para feminis. Seolah feminisme itu ajaran untuk menindas laki-laki. Di sisi lain, di dunia nyata, masih banyak perempuan yang hak dasarnya dirampas—dari akses pendidikan sampai kebebasan bergerak. Jadi, sebenarnya siapa yang sedang ditindas di sini?
Mengenal Manosphere
Fenomena tersebut kelihatannya “berani” dan memikat, apalagi buat mereka yang merasa tersisih oleh perubahan zaman. Tapi, retorika ini bukan sekadar pendapat personal satu orang saja. Itu adalah pintu masuk ke sistem yang lebih berbahaya yaitu manosphere. Melansir dari UN Women, manosphere adalah istilah payung untuk komunitas online yang mempromosikan definisi maskulinitas yang sempit dan agresif.Terutama tentang bagaimana menjadi laki-laki yang utuh sesuai standar maskulinitas toksis. Selain itu mereka juga menarasikan feminisme dan kesetaraan gender sebagai “ancaman” bagi laki-laki.
Isi kontennya pun beragam, ada yang berkedok lifestyle coach yang mengajarkan “tanggung jawab pribadi,” padahal ujung-ujungnya menyalahkan perempuan atas segala kegagalan hidup laki-laki. Mereka menargetkan laki-laki muda yang merasa kesepian, butuh validasi, atau sekadar bingung dengan perubahan sosial yang cepat.
Tapi, kenapa banyak laki-laki muda yang “terpancing”?
Riset dari State of American Men (2025) menunjukkan adanya crisis of connection. Sebanyak dua pertiga laki-laki muda merasa seperti tak ada yang benar-benar mengenal mereka. Inilah yang disebut sebagai crisis of connection.
Laki-laki sering dididik untuk tidak boleh menunjukkan emosi atau kerentanan. Saat mereka merasa terisolasi, manosphere datang menawarkan “rumah.” Di sana, mereka dikasih jawaban instan atas dunia yang kompleks. Mereka dikasih label: kamu “Alpha” atau “Sigma” kalau bisa mendominasi, dan kamu “Beta” atau korban kalau kamu berempati.
Masalahnya, forum-forum ini justru mendorong perilaku tidak sehat. Bukannya belajar jadi manusia yang lebih baik, mereka justru diajarkan untuk membangun harga diri dengan cara menjatuhkan orang lain, terutama perempuan.
Baca juga: Dunia yang Dibangun untuk Laki-Laki: Bukti Arsitektur Kita Bias Gender
Manosphere dalam Konteks Indonesia
Jangan salah, manosphere bukan hanya fenomena Barat. Di Indonesia, kita sering lihat narasi di media sosial kita yang membungkus misogini (kebencian terhadap perempuan) dengan kata-kata “kodrat” atau “agama.”
Misalnya, tren memuji laki-laki yang punya banyak pasangan, atau merendahkan perempuan berkarir sebagai sosok yang tidak akan bisa mengurus keluarga. Kemudian ada istilah seperti “AWALT” (All Women Are Like That), hypergamous (tuduhan bahwa perempuan hanya mencari laki-laki kaya), hingga penghinaan terhadap perempuan (seperti menyebut perempuan sebagai objek) sudah jadi kosakata sehari-hari di kolom komentar podcast atau akun-akun “motivasi” maskulinitas. Ini bukan diskusi sehat, tetapi echo chamber kebencian.
Kenapa Ini Merugikan Semua Orang?
Argumen bahwa manosphere membantu laki-laki adalah mitos. Riset dari Equimundo menunjukkan bahwa laki-laki yang aktif mengikuti influencer maskulinitas toksik justru:
- Merasakan tingkat ketidakberdayaan yang lebih tinggi.
- Kurang memprioritaskan kesehatan mental.
- Lebih mungkin melakukan perilaku berisiko dan penyalahgunaan zat.
Siklus ini berbahaya. Ketika laki-laki tidak didorong untuk jujur soal emosinya, mereka malah lari ke komunitas yang memvalidasi kemarahan mereka. Ujung-ujungnya? Radikalisasi. Mulai dari pelecehan verbal di media sosial, hingga kekerasan di dunia nyata. Ini bukan sekadar “beda pendapat,” ini ancaman terhadap kesetaraan gender.
Baca juga: Saat Laki-Laki Curhat Upah di Media Sosial, Kenapa Responnya Sering Sinis?
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Apakah kita harus membalas kebencian dengan kebencian? Tentu saja tidak.
Langkah pertama adalah literasi media. Kita harus mulai mempertanyakan, “Siapa yang diuntungkan dari konten ini?” Kalau sebuah konten maskulinitas membuatmu merasa lebih kuat dengan cara merendahkan orang lain, itu adalah red flag.
Kedua, mendefinisikan ulang maskulinitas. Menjadi laki-laki yang tangguh bukan berarti harus stoik, tidak punya empati, atau mendominasi. Laki-laki yang sehat justru adalah mereka yang berani mengakui kerentanan, membangun hubungan yang setara, dan menghargai perempuan sebagai mitra, bukan musuh.
Dunia ini sudah cukup kompleks dan berat. Kita tidak perlu menambah bebannya dengan kebencian berbasis gender. Saatnya kita menolak untuk menjadi “produk” dari algoritma kebencian. Mari kita unsubscribe dari manosphere, dan mulai membangun ruang digital yang lebih manusiawi—tempat di mana laki-laki bisa tumbuh tanpa harus menjatuhkan orang lain, dan perempuan bisa hidup tanpa rasa takut.
Jadi jangan sampai feminisme dijadikan alibi atas kegagalan laki-laki mengelola emosi. Feminisme itu murni soal perjuangan akses yang setara bagi semua orang. Sangat tidak masuk akal ketika seorang laki-laki melabeli feminisme sebagai scam, di saat yang sama, masih banyak perempuan di luar sana yang bahkan tidak punya hak dasar untuk sekolah atau tidak diizinkan keluar rumah tanpa pendamping laki-laki. Berhenti berlindung di balik narasi kebencian untuk menutupi ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia yang sudah berubah. Mengakui privilege dan belajar mengelola perasaan adalah bentuk kedewasaan, bukan ancaman bagi maskulinitasmu.
Referensi:
- Brito, P., Hayes, C., Lehrer, R., Mahler, J., & Salinas Groppo, J. (2024). The Manosphere, Rewired: Understanding Masculinities Online & Pathways for Healthy Connection. Equimundo.
- UN Women. (2025, May 15). How to counter the manosphere’s toxic influence. https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/how-to-counter-the-manospheres-toxic-influence
- UN Women. (2025, May 15). What is the manosphere and why should we care? https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/what-is-the-manosphere-and-why-should-we-care





Comments are closed.