Benarkah kebingungan cowok-cowok adalah bentuk kerentanan karena tekanan finansial saja, ataukah ia merupakan evolusi terbaru dari toxic masculinity?
Fenomena “cowok bingung” tengah menjadi tren viral di TikTok. Banyak perempuan mengeluhkan pasangan atau gebetannya yang tampak ragu-ragu, tidak jelas maunya apa, atau bahkan mendekati mereka tanpa niat serius.
Contohnya, ketika mereka mendekati perempuan walaupun bukan target utama mereka, hanya sekadar untuk menjaga fans atau yang penting punya pacar saja. Perhatian tapi menolak memberi kejelasan, cemburu ketika calon pasangannya dekat dengan orang lain tapi enggan mendefinisikan hubungan, atau bingung saat pasangan butuh pertimbangan dalam hal apapun dan cuma dijawab “Terserah kamu aja”.
Sementara itu di sisi lain, para laki-laki seperti enggan menjelaskan kebingungan mereka. Ada yang menjawab “Kami tidak bingung, tapi memang bukan kamu tujuannya” yang justru makin menguatkan bahwa mereka memang sedang bingung.
Ada juga yang mengatakan kebingungan mereka berakar dari tekanan ekonomi kayak gaji kecil, sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, dan ketakutan tidak bisa membahagiakan pasangan.
Bukan cuma perempuan yang kebingungan menghadapi laki-laki seperti ini. Laki-lakinya sendiri, juga tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan.
Realistis sih. Data BPS 2025 bilang 71% pemuda 16-30 tahun masih single. Survei Litbang Kompas pada November 2025 menegaskan pola yang sama: 73,5 persen responden yang belum menikah menyebut kestabilan ekonomi dan karier sebagai pertimbangan utama, 43,3 persen secara spesifik menyebut kurangnya modal atau uang sebagai alasan utama menunda pernikahan, dan 35,2 persen menempatkan kesiapan ekonomi sebagai pertimbangan pribadi paling penting sebelum menikah.
Baca juga: Kamus Feminis: Piala Dunia 2026 Juga Isu Feminis, Ada Maskulinitas Hegemonik dalam Sepak Bola
Dalam dunia patriarki, nilai seorang laki-laki sering kali direduksi menjadi utilitas ekonominya. Jika dia tidak bisa menafkahi atau memberikan gaya hidup tertentu, dia merasa gagal menjadi laki-laki. Sistem budaya kita menuntut laki-laki bahwa kasih sayang saja tidak cukup, harus ada bukti materi. Ketika realitas ekonomi tidak mendukung ekspektasi budaya ini, laki-laki mengalami disonansi kognitif alias cowok bingung tadi. Kebingungan para laki-laki di TikTok adalah manifestasi dari ancaman akibat kemiskinan.
Mengapa laki-laki tidak jujur saja jika mereka merasa sulit secara ekonomi? Jawabannya adalah konstruksi toxic masculinity yang membesarkan nilai-nilai mereka.
Mengakui “Aku lagi kesulitan finansial, takut nggak bisa bahagiain kamu” dianggap sebagai tanda kelemahan, kegagalan, atau bahkan ketidakmaskulinan.
Alih-alih jujur, banyak yang memilih kabur ke mode “bingung”, memberi mixed signal, atau pura-pura cool. Ketakutan laki-laki untuk “ditertawakan” karena gaji kecil atau status sosial rendah membuat mereka membangun dinding kebingungan. Mereka takut jika mereka jujur bahwa mereka merasa tidak mampu secara ekonomi, mereka akan kehilangan nilai di mata perempuan.
Margaret Atwood, yang menulis The Handmaid’s Tale, pernah memberikan kutipan yang sangat relevan:
“Laki-laki takut perempuan akan mentertawakan mereka. Perempuan takut laki-laki akan membunuh mereka.”
Laki-Laki Dikhianati Patriarki
Susan Faludi dalam buku Stiffed: The Betrayal of the American Man berargumen bahwa laki-laki telah dikhianati oleh janji-janji patriarki.
Dahulu, maskulinitas didefinisikan melalui peran sebagai pelindung dan pemberi nafkah. Namun, ketika ekonomi bergeser dan laki-laki kehilangan stabilitas finansial, mereka kehilangan fondasi identitasnya.
Sistem patriarki yang diciptakan dan dipertahankan oleh laki-laki ini kini justru membuat mereka kewalahan sendiri di tengah realitas ekonomi yang keras.
Para perempuan yang kesal dengan cowok bingung ini menyangka bahwa laki-laki itu naturalnya tahu ke mana arah hubungan ini, restoran mana yang oke untuk first date, harus siap menikah dalam hitungan tahun tertentu, punya karier yang stabil, dan tahu jawaban atas semua masalah pasangannya. Siapa sih yang bikin aturan ini?
Aturan bahwa laki-laki harus selalu memimpin, selalu tegas, selalu punya jawaban, bukan dibuat oleh perempuan. Aturan itu adalah produk laki-laki sendiri, yang kemudian diwariskan turun-temurun.
Sosiolog Raewyn Connell menyebutnya hegemonic masculinity, versi maskulinitas yang paling dihormati secara sosial, yang salah satu syaratnya adalah selalu memegang kendali.
Baca juga: Outfit di Bandara Renjun NCT dihujat: Stop Mengukur Maskulinitas dari Cara Laki-laki Berpakaian
Bertahun-tahun sistem ini menguntungkan laki-laki: mereka dapat privilese diakui sebagai pemimpin rumah tangga, pengambil keputusan utama, yang keputusannya jarang dipertanyakan. Laki laki harus punya sifat-sifat seperti kekuatan fisik, ketangguhan emosional, dan pencari nafkah. Padahal sangat sedikit laki-laki yang sepenuhnya mewujudkan hal ini. Laki-laki yang ngotot agar pendapatnya selalu dituruti, ingin selalu memimpin, tapi setelah menjalaninya, susah kan?
Dalam buku Feminism for the 99%: A Manifesto, Cinzia Arruzza, Tithi Bhattacharya, dan Nancy Fraser membedah akar permasalahan bahwa di bawah rezim neoliberal, upah stagnan dan biaya hidup (properti, pangan, kesehatan) melambung, laki-laki kelas pekerja dan kelas menengah bawah tidak lagi mampu menjadi penyedia tunggal. Krisis kapitalisme menciptakan krisis perawatan. Hubungan romantis dan komitmen adalah bagian dari reproduksi sosial. Dan laki-laki melihat hubungan romantis sebagai beban biaya tambahan yang tidak sanggup mereka pikul.
Laki-Laki Punya Label Baru
TikTok telah melahirkan label baru bagi laki-laki.
Dalam feminisme, pemberian label bukanlah aktivitas netral, melainkan instrumen kekuasaan. Selama ini perempuanlah yang sering mendapat label seperti perempuan “bimbo” yang cantik tapi otaknya kosong atau “drama queen” untuk sikap perempuan yang dianggap lebay.
Secara historis, label-label terhadap perempuan nyaris selalu menyasar seksualitasnya, mereduksi perempuan menjadi sosok yang “bodoh”, “demanding“, atau “kurang bisa mengendalikan diri”. Sementara label “cowok bingung” ini tersirat masih ada harapan bahwa suatu saat ia tidak bingung lagi, seolah-olah menunggu waktu saja sebelum laki-laki menjadi “matang”.
Kegagalan laki-laki untuk memimpin atau mengambil keputusan tidak langsung dicap “bodoh” atau “tidak becus” seperti yang sering terjadi pada perempuan, melainkan dikategorikan sebagai “bingung” atau “situasional”. Bingung bisa jadi dianggap sebuah fase, karena pada dasarnya semua laki-laki pasti bisa menjadi pemimpin yang tentu saja, tidak boleh bingung. Jadi ia tidak menyerang intelegensi dasar laki-laki.
Sementara perempuan, ketika dianggap gagal memenuhi ekspektasi sosial, langsung diberi label yang menyerang keberadaannya sebagai manusia berakal.
Label “bingung” digunakan untuk menggugat laki-laki yang memiliki agensi namun memilih untuk melumpuhkannya demi menghindari tanggung jawab emosional, membuktikan bahwa dalam bahasa yang seksis, perempuan dihukum karena dianggap tidak mampu, sementara laki-laki dikritik karena dianggap tidak mau.
Bingung Kok Merugikan Orang Lain?
Ketika seorang laki-laki “bingung” namun tetap ingin ditemani, ia sebenarnya sedang mengonsumsi validasi dari perempuan tanpa mau memberikan kepastian.
Di sini terjadi ketimpangan, perempuan memberikan investasi waktu dan perasaan, sementara laki-laki mengambil manfaat untuk merasa diinginkan sebagai kompensasi atas rasa tidak berdaya mereka di dunia nyata (ekonomi). Kebingungan itu sendiri manusiawi, dan bahkan sah untuk dirasakan. Yang tidak sah adalah membiarkan orang lain menanggung ongkos dari kebingungan itu.
Jean Paul Sartre mengenalkan konsep Mauvaise Foi, itikad buruk: manusia sering memakai ambiguitas sebagai cara melarikan diri dari tanggung jawab memilih, berpura-pura tidak punya kendali atas keputusan padahal sebenarnya sedang menghindar secara sadar.
Mereka sebenarnya produk dari sistem yang mengajarkan laki-laki untuk tidak pernah mengakui kerentanan. Tapi keberadaan sebab struktural tidak menghapus tanggung jawab personal.
Perempuan pun menjadi korban ketidakjelasan ini, menghabiskan energi emosional untuk selalu mengerti pasangan yang tak jujur tentang kerentanannya.
Perempuan dibebani dengan tugas untuk menjadi penerjemah dari kebingungan laki-laki. Ketika seorang laki-laki mendekat tanpa kejelasan, perempuan lah yang harus bekerja keras menganalisis, menebak, dan pada akhirnya menanggung kekecewaan ketika laki-laki tersebut mundur atau bersikap dingin. Kini laki-laki lah yang membuat kode-kode dalam komunikasi. Padahal selama ini perempuan dituduh sebagai makhluk penuh kode yang membuat lelaki kewalahan menebak isi pikirannya.
Jalan keluar dari kebuntuan ini menuntut keberanian yang sama besarnya dari kedua belah pihak. Laki-laki berani jujur dengan kerentanannya.
Perempuan berhenti memaklumi kerentanan ekonomi dan krisis maskulinitas diubah menjadi mekanisme pertahanan diri yang pasif agresif, yang pada akhirnya mengorbankan kesehatan mental dan waktu perempuan.
(Editor: Luviana Ariyanti)





Comments are closed.