Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu bertemu teman perempuan yang suka membicarakan keburukan perempuan lain? Misalnya, “Lihat, deh, penampilannya seperti itu, pasti biar dilirik laki-laki.” Seakan-akan, apa pun yang dilakukan perempuan lain untuk terlihat baik hanyalah demi laki-laki.
Nah, di media sosial, fenomena ini biasa disebut male-centered woman. Istilah ini merujuk pada pola pikir dan perilaku ketika seorang perempuan yang sering secara tidak sadar—selalu memprioritaskan persetujuan, perspektif, kepentingan, atau kehadiran laki-laki di atas kesejahteraan diri sendiri, perkembangan pribadi, maupun hubungan dengan sesama perempuan. Mereka menempatkan pandangan dunia dan nilai-nilai laki-laki di pusat kehidupan, bahkan sering kali mengorbankan hak serta kepentingan sesama perempuan.
Fenomena ini bermula dari sikap “sok penting” yang ditunjukkan banyak laki-laki dalam masyarakat patriarkal, lalu ditularkan kepada perempuan melalui proses sosialisasi yang panjang. Patriarki mengajarkan bahwa dunia berpusat pada laki-laki, sehingga perempuan diajarkan untuk menyesuaikan diri demi bertahan atau meraih “kesuksesan”. Akibatnya, lahir perempuan yang male centered, yang mungkin dirinya sendiri tidak tahu tujuan hidupnya selain mengejar validasi dari laki-laki. Kebiasaan ini kerap membuat mereka menjatuhkan perempuan lain demi naik ke “peringkat” yang lebih tinggi di mata lelaki.
Baca juga: Queen Bee Syndrome: Fenomena Sosial di Tengah Dominasi Maskulinitas
Male Centered yang Berakar dari Androcentrism
Konsep male centered woman ini sebenarnya adalah bentuk nyata dari androsentrisme—istilah sosiologis yang menggambarkan praktik memprioritaskan perspektif, kepentingan, dan pengalaman laki-laki di atas perempuan. Androsentrisme membuat maskulinitas dianggap sebagai “norma” manusiawi, sementara feminitas dilihat sebagai penyimpangan.
Istilah ini pertama kali diartikulasikan oleh Charlotte Perkins Gilman dalam bukunya The Man-Made World, or: Our Androcentric Culture (1911). Gilman menyoroti bagaimana narasi sejarah, bahasa, sastra, dan peran profesional didominasi oleh sudut pandang laki-laki. Laki-laki menjadi penulis sejarah utama, sehingga pengalaman manusia direkam dengan bias maskulin. Hasilnya? Pemahaman tentang dunia yang timpang, di mana perempuan dan perspektif feminin termarginalkan.
Penelitian menggunakan Implicit Association Test (IAT) juga mendukung hal ini. Banyak orang—terutama responden laki-laki—secara otomatis mengaitkan konsep “manusia” atau “orang” dengan laki-laki, sedangkan perempuan hanya dilihat sebagai kategori khusus. Ini menunjukkan bahwa androcentrism sebagai proses kognitif yang tertanam dalam pikiran dan sulit dikendalikan.
Misalnya dalam Bahasa Inggris, androcentrism terlihat dari penggunaan kata generik maskulin, seperti mankind atau salesman. Di tempat kerja, budaya male-centered ini makin diperkuat: perempuan yang menyesuaikan diri dengan norma maskulin (kompetitif, agresif, dan mengabaikan “kelembutan”) lebih sering dihargai dan dipromosikan. Sedangkan, mereka yang menolak seringi menghadapi diskriminasi, perundungan (bullying), atau microaggression.
Dampak pada Perempuan Sendiri dan Sesama
Bagi perempuan yang terjebak dalam pola male-centered, akan menerima dampak yang sangat merugikan. Mereka kehilangan rasa tujuan yang autentik. Hidupnya berputar di sekitar “bagaimana supaya disukai laki-laki?” Penampilan, hobi, bahkan opini politik atau karier dipilih berdasarkan male gaze. Sosialisasi patriarkal yang menuntut submisif, patuh, dan merawat orang lain membuat banyak perempuan sulit melepaskan sikap ini. Akhirnya, mereka sering merasa hampa karena validasi eksternal yang tak pernah cukup.
Dampaknya terhadap sesama perempuan memicu kompetisi yang merusak. Ketika ada perempuan lain yang berusaha menjadi versi terbaik dirinya—entah melalui penampilan, pencapaian, atau kebebasan—ia langsung dipandang sebagai saingan. “Dia pasti begitu biar dilirik laki-laki,” begitu tuduhannya. Alih-alih saling mendukung, male-centered women malah memperkuat penindasan terhadap sesama perempuan demi keuntungan pribadi.
Dampak di ranah domestik jauh lebih parah, pola pikir ini melahirkan siklus bias gender yang terus berulang dalam keluarga. Ketika perempuan male-centered ini menjadi seorang ibu, mereka cenderung memprioritaskan kebutuhan, fasilitas, pendidikan, dan masa depan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mereka melanggengkan son preference, memaklumi kesalahan anak laki-laki dengan dalih “namanya juga laki-laki”, sambil menuntut anak perempuan mereka untuk selalu mengalah, melayani, dan bersikap submisif. Fenomena ini membuktikan bahwa patriarki berhasil ketika perempuan beralih fungsi menjadi alat untuk menjaga status quo.
Baca juga: Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan
Mengapa Sulit Berubah?
Sosialisasi sejak dini mendidik anak perempuan untuk selalu mencari penerimaan. Di era digital, narasi ini dirawat oleh algoritma lewat konten dangkal seperti video “5 hal yang bikin cewek menarik di mata cowok” hingga tren “Ingin diratukan? Kamu harus punya dark feminine energy.” Nilai perempuan lagi-lagi didefinisikan hanya demi memuaskan male gaze.
Padahal, fenomena male-centered woman bukanlah kesalahan personal, melainkan produk androcentrism sistemik. Sistem patriarki ini memaksa perempuan kehilangan jati diri, terjebak kompetisi destruktif dengan sesamanya, hingga melanggengkan bias gender pada anak di ranah domestik.
Perlawanan harus dimulai sekarang. Pilihlah untuk menjadi women-centered atau self-centered secara sehat. Berhentilah mengejar validasi laki-laki, bangun solidaritas, dan gugat norma usang. Saatnya perempuan menjadi subjek utama dalam hidupnya sendiri, bukan sekadar varian sekunder.
Referensi:
- Bailey, A. H., LaFrance, M., & Dovidio, J. F. (2020). Implicit androcentrism: Men are human, women are gendered. Journal of Experimental Social Psychology, 89, 103980. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2020.103980
- EBSCO. (n.d.). Androcentrism. https://www.ebsco.com/research-starters/womens-studies-and-feminism/androcentrism





Comments are closed.