Jakarta, Arina.id—Sebanyak enam mahasiswa internasional dari Afghanistan, Aljazair, Nigeria, Tanzania, Pakistan, dan Bangladesh resmi mengikuti Orientasi Penerima Beasiswa Peradaban di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (15/7) untuk memulai studi di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto.
“Program ini menjadi bagian dari komitmen PBNU dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus mengenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan berkeadaban kepada masyarakat internasional,” kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah dalam keteranganya, Rabu (15/7).
Enam penerima Beasiswa Peradaban tahun ini berasal dari berbagai negara, yakni Ahmad Fraidon Qaderi (Afghanistan), Zakaria Nait Mohand (Aljazair), Abdulhameed Mubarak Adinoyi (Nigeria), Issa Asili Omary (Tanzania), Ibad Ali Jan (Pakistan), dan Nafisa Sikder (Bangladesh). Mereka akan menempuh pendidikan pada jenjang sarjana maupun magister di Universitas KH Abdul Chalim dengan dukungan beasiswa penuh.
Ufi mengatakan bahwa Beasiswa Peradaban tidak hanya memberikan kesempatan belajar di Indonesia, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai keislaman Nahdlatul Ulama kepada para calon pemimpin dunia.
“Selamat datang kepada seluruh penerima Beasiswa Peradaban. Kami berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk mengenal Indonesia, memahami tradisi keislaman Nahdlatul Ulama, serta kelak memperkenalkan pengalaman tersebut kepada masyarakat di negara masing-masing,” ujarnya.
Perwakilan BAZNAS RI, Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah, Farid Septian, mengatakan dukungan terhadap Program Beasiswa Peradaban merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat agar memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
“BAZNAS memiliki visi mengelola zakat agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Pendidikan merupakan salah satu investasi terbaik untuk melahirkan pemimpin masa depan. Karena itu, kami mendukung berbagai program beasiswa, termasuk Beasiswa Peradaban dan program beasiswa bagi masyarakat Gaza melalui kerja sama dengan berbagai kementerian,” katanya.
Menurut Farid, Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto dipilih sebagai kampus tujuan karena memiliki kapasitas akademik yang memadai sekaligus lingkungan yang kuat dalam pengembangan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.
“Selain pendidikan, kami juga memiliki program filantropi dan riset yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para mahasiswa selama menempuh studi di Indonesia,” tambahnya.
Direktur NU Scholarship Muhammad Syauqillah menjelaskan bahwa NU Scholarship yang berdiri pada 2024 terus mengembangkan berbagai skema beasiswa, mulai dari Beasiswa Aktivis NU, program persiapan studi luar negeri jenjang magister dan doktor, Beasiswa Maroko, Beasiswa Peradaban, hingga program persiapan sarjana unggulan dan pelatihan kerja luar negeri.
“Beasiswa Peradaban merupakan salah satu program strategis NU Scholarship. Kami ingin memperluas akses pendidikan, tidak hanya bagi kader NU, tetapi juga masyarakat yang lebih luas, termasuk mahasiswa internasional yang ingin mengenal Indonesia dan tradisi Islam moderat yang berkembang di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, NU Scholarship berkomitmen untuk terus memperluas jumlah penerima manfaat melalui kolaborasi berbagai lembaga di lingkungan PBNU, sehingga semakin banyak generasi muda dari dalam maupun luar negeri yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas.
Dalam sesi orientasi, Wasekjen PBNU, Ginanjar Sya’ban memperkenalkan sejarah, nilai-nilai, dan tradisi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang tumbuh di tengah keberagaman budaya Nusantara.
Menurutnya, Islam berkembang di Indonesia melalui pendekatan damai dan dialog dengan budaya lokal sehingga melahirkan tradisi keagamaan yang moderat dan menghargai perbedaan.
“NU merupakan gerakan masyarakat yang berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, mengedepankan sikap toleran, terbuka, dan membangun persaudaraan. Nilai-nilai inilah yang kami harapkan dapat dipahami oleh para penerima beasiswa selama belajar di Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, akademisi Khoirul Anam memberikan pembekalan mengenai kehidupan sosial dan kebudayaan Indonesia yang majemuk. Ia menjelaskan bahwa Indonesia terdiri atas ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, serta enam agama yang diakui negara, sehingga kemampuan membangun relasi, menghargai perbedaan, dan memahami budaya lokal menjadi bekal penting bagi mahasiswa internasional.
“Indonesia dibangun di atas nilai gotong royong, musyawarah, tenggang rasa, dan persatuan dalam keberagaman. Karena itu, para mahasiswa internasional diharapkan tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar dari kehidupan masyarakat Indonesia,” katanya.
Selain pembekalan, para penerima beasiswa juga berbagi kesan pertama mereka setelah tiba di Indonesia. Nafisa Sikder asal Bangladesh mengaku memiliki pengalaman yang berbeda dari perkiraannya.
“Saya mengira Indonesia akan lebih panas daripada Bangladesh, ternyata justru Bangladesh lebih panas. Saya juga sudah mencoba nasi goreng dan nasi Padang,” ujarnya.
Mahasiswa asal Tanzania, Issa Asili Omary, mengatakan dirinya mengetahui Program Beasiswa Peradaban dari seorang teman yang lebih dahulu belajar di Indonesia.
“Saya mendapat informasi dari teman di Indonesia, kemudian memutuskan mendaftar karena ingin belajar di sini,” katanya.
Sementara itu, Zakaria Nait Mohand dari Aljazair mengaku terkesan dengan perkembangan Indonesia.
“Sebelum datang, saya belum mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang sangat modern,” ungkapnya.
Orientasi Penerima Beasiswa Peradaban menjadi tahapan awal bagi seluruh mahasiswa internasional untuk mengenal sistem pendidikan tinggi di Indonesia, budaya akademik, nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama, serta kehidupan sosial masyarakat sebelum memulai perkuliahan di Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto.
Melalui program ini, PBNU dan BAZNAS RI berharap para penerima Beasiswa Peradaban tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, tetapi juga tumbuh sebagai pemimpin global yang membawa semangat Islam moderat, memperkuat persahabatan antarbangsa, serta menjadi jembatan kerja sama internasional melalui pendidikan.




Comments are closed.