Bincangperempuan.com– Terjadi lagi, kasus balita cacingan di Bengkulu. Seorang bocah berusia enam tahun dari Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Curup Utara, terpaksa dirawat intensif di RSUD Rejang Lebong setelah tubuhnya dipenuhi cacing berukuran sebesar jari anak-anak. Kondisi ini tergolong ekstrem, bukan sekadar cacingan biasa yang kerap dianggap sepele oleh sebagian orang tua.
Kasus ini bukan yang pertama. Pada September 2025 lalu, dua balita kakak-beradik dari Desa Sungai Petai, Seluma, juga mengalami nasib serupa. Sang kakak berusia empat tahun dan adiknya baru satu tahun delapan bulan. Cacing gelang keluar dari mulut dan hidung keduanya, disertai komplikasi serius: bronkopneumonia, anemia, dan gizi buruk.
Peristiwa di Bengkulu mengingatkan publik pada tragedi di Sukabumi beberapa waktu lalu. Saat itu, seorang balita meninggal setelah cacing keluar dari hidungnya. Rangkaian kasus ini menunjukkan satu hal: kecacingan masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, khususnya bagi tumbuh kembang anak.
Data yang Mengkhawatirkan
Menurut laporan Menurut Kementerian Kesehatan RI, angka kecacingan nasional pada anak-anak memang terlihat kecil di atas kertas—sekitar 3,3 persen. Namun, di sejumlah daerah, prevalensinya bisa melonjak hingga lebih dari 10 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masalah kecacingan belum sepenuhnya teratasi dan masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak Indonesia.
Di level global, WHO (World Health Organization) mencatat ratusan juta anak di dunia masih berisiko terinfeksi kecacingan dan membutuhkan obat pencegahan setiap tahunnya. Artinya, kecacingan bukan sekadar penyakit sepele, melainkan persoalan serius yang bisa menghambat pertumbuhan, perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga prestasi belajar anak. Jika tidak ditangani, dampaknya bisa meluas menjadi masalah gizi buruk, anemia, bahkan kematian.
Kemenkes RI mengidentifikasi berbagai faktor penyebab yang membuat infeksi cacing masih terus berulang, di antaranya:
- Makanan atau minuman yang terkontaminasi tanah atau kotoran,
- Sayur dan buah yang tidak dicuci dengan benar,
- Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan,
- Lingkungan yang tidak bersih,
- Kebiasaan tidak memakai alas kaki saat beraktivitas di luar rumah, yang memungkinkan larva cacing menembus kulit.
Baca juga: Sekolah Pra Nikah Bengkulu, Solusi atau Sekadar Formalitas?
Pandangan Pakar: Obat Cacing Saja Belum Cukup
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menyebutkan kepada Detik Health, terdapat tiga poin penting yang harus dicatat dari kasus di Bengkulu.
Pertama, kecacingan adalah penyakit tropis terabaikan yang masih banyak diderita anak-anak Indonesia. Kedua, kondisi ini terkait erat dengan kekurangan gizi menjadi tantangan besar yang hingga kini belum bisa ditangani secara tuntas. Ketiga, penguatan layanan rumah sakit mutlak diperlukan, terutama agar fasilitas kesehatan mampu menangani kasus berat dengan cepat.
Ia menekankan, persoalan kecacingan tidak bisa selesai hanya dengan program pemberian obat cacing massal. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup peningkatan gizi, kebersihan lingkungan, dan peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan dasar.
Bukan Sebatas Isu Kesehatan, Tetapi Juga Struktural
Pengajar Sosiologi Universitas Bengkulu, Retno Wahyuningtyas, menilai kasus cacingan parah yang dialami balita-balita Bengkulu tak hanya bisa dilihat sebagai isu medis semata. Menurutnya, ini adalah cermin ketimpangan struktural yang dibiarkan terlalu lama.
“Bukan cuma soal kemiskinan, tapi juga soal bagaimana negara memaknai kesehatan sebagai hak dasar, bukan sekadar angka statistik,” ujarnya.
Ia menyoroti kenyataan bahwa akses masyarakat terhadap air bersih, sanitasi layak, edukasi kesehatan, dan pemenuhan gizi masih jauh dari merata. Jika hanya menyalahkan kemiskinan, katanya, kita gagal melihat bahwa kemiskinan itu sendiri merupakan hasil dari kebijakan yang tidak berpihak.
Respon Pemerintah: Reaktif, Bukan Preventif
Kasus ini baru mendapatkan perhatian setelah ramai di media sosial. Pemerintah daerah kemudian turun tangan, membagikan obat cacing, dan melakukan penyuluhan. Namun, langkah tersebut dinilai masih bersifat reaktif.
“Bisa dianalogikan seperti kebakaran, baru dipadamkan ketika api sudah membesar. Padahal pencegahan jauh lebih penting,” kata Retno.
Menurutnya, membagikan obat cacing atau melakukan kampanye sesaat memang penting, tetapi tanpa perubahan sistemik, itu hanya solusi jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah intervensi berkelanjutan, seperti edukasi kesehatan berbasis komunitas, pemantauan gizi anak secara rutin, dan pembangunan infrastruktur dasar yang layak.
Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu
Mengubah Cara Pandang
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah respons pemerintah sudah tepat? Secara niat, mungkin iya. Tetapi dari segi pendekatan, langkah yang diambil masih insidental dan reaktif.
“Harus ada sistem yang bekerja meski tanpa sorotan kamera,” kata Retno. Ia menegaskan bahwa kesehatan jangan dilihat sebagai proyek, tapi sebagai ekosistem. Dengan melibatkan masyarakat, mendengar suara ibu-ibu di desa, dan memastikan hak yang setara bagi setiap anak, di manapun mereka lahir.
Sebab kasus kecacingan ini menunjukkan bahwa ini bukan persoalan sepele, melainkan ancaman laten bagi generasi muda. Penting menghadapinya bukan hanya dengan reaksi tetapi juga empati. Karena itu perlu pemerataan akses kesehatan untuk menjaga hak anak-anak untuk tumbuh sehat, kuat, dan berdaya penuh di masa depan.
Retno menambahkan, penyelanggara negara dalam hal ini Provinsi Bengkulu dan Kabupaten dapat mengadopsi langkah-langkah yang sudah dilakukan provinsi lain dalam mengintervensi dan berhasil menurunkan angka kasus cacingan, seperti di Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) misalya, melalui pendekatan terintegrasi yang mencakup pengobatan massal, peningkatan sanitasi, dan edukasi masyarakat. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana intervensi kesehatan dapat berjalan berdampingan dengan perubahan perilaku dan pembangunan infrastruktur dasar.
Termasuk program Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS) sebagai bagian dari Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), selain pilar utama adalah Program Obat Pencegahan Massal (POPM) cacingan yang dijalankan secara nasional. Melalui program ini, anak-anak usia balita, pra-sekolah, dan sekolah dasar menerima obat cacing secara rutin dua kali setahun. Obat tersebut tersedia gratis di seluruh Puskesmas.
Upaya ini, lanjut Retno, tentunya diperkuat dengan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Petugas kesehatan rutin melakukan penyuluhan tentang penyebab dan cara penularan cacingan. Masyarakat diajak untuk menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, dan memakai alas kaki di luar rumah—serta kebersihan lingkungan, termasuk WC, kamar mandi, dan kotoran hewan peliharaan.
“Penurunan kasus cacingan dapat mencegah gangguan tumbuh kembang anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan,” pungkas Retno.
Referensi:
- DetikHealth. (2024, September 5). Peliknya masalah gizi anak di balik viralnya kasus kecacingan di Indonesia. Detik. https://health.detik.com/diet/d-8117555/peliknya-masalah-gizi-anak-di-balik-viralnya-kasus-kecacingan-di-indonesia





Comments are closed.