Bayangkan seekor paus mengucapkan “hello” atau menghitung “one, two, three”. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale.
Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga termasuk salah satu hewan paling cerdas di Bumi. Otak orca dewasa bahkan dapat mencapai berat sekitar enam kilogram, jauh lebih besar dibandingkan rata-rata otak manusia yang sekitar 1,4 kilogram. Besarnya otak ini mendukung kemampuan belajar, memecahkan masalah, hingga berkomunikasi secara kompleks.
Kecerdasan orca terlihat dari kehidupan sosialnya. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang sangat erat, dipimpin oleh induk betina, dan setiap kelompok memiliki “dialek” sendiri. Layaknya manusia yang memiliki aksen berbeda di setiap daerah, kelompok orca menggunakan pola bunyi khas untuk saling mengenali dan berkomunikasi. Dialek tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga dianggap sebagai bentuk budaya di dunia hewan.
Kemampuan vokal orca semakin menarik perhatian setelah penelitian yang dipublikasikan pada 2018. Dalam percobaan yang melibatkan dua orca bernama Wikie dan Moana di Marineland, Prancis, para peneliti memperdengarkan berbagai suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, mulai dari bunyi derit pintu hingga kata-kata yang diucapkan manusia.
Hasilnya mengejutkan. Wikie mampu menirukan hampir seluruh suara yang diperdengarkan. Bahkan, kata “hello” dan “one, two, three” berhasil ditirukannya pada percobaan pertama. Meski pengucapannya tidak sejelas burung beo, analisis spektrogram menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan memiliki kemiripan kuat dengan suara asli manusia.
Yang membuat temuan ini semakin istimewa adalah cara orca menghasilkan suara. Jika manusia berbicara menggunakan laring atau pita suara, orca justru menghasilkan bunyi melalui saluran pernapasan di bagian hidung. Perbedaan anatomi tersebut membuat kemampuan mereka meniru suara menjadi jauh lebih mengagumkan.
Para peneliti menduga kemampuan imitasi ini bukan sekadar hiburan. Di alam liar, orca kemungkinan menggunakan kemampuan tersebut untuk mempelajari dan mempertahankan dialek kelompoknya. Dengan kata lain, kemampuan meniru suara menjadi bagian penting dari proses belajar sosial, sama seperti anak manusia belajar berbicara dengan meniru orang-orang di sekitarnya. Bahkan, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa suatu hari nanti manusia mungkin dapat melakukan percakapan sederhana dengan orca.
Meski identik dengan perairan dingin, orca memiliki sebaran yang sangat luas dan beberapa kali tercatat muncul di perairan Indonesia, mulai dari Kepulauan Anambas, Flores Timur, Biak Numfor, hingga Sulawesi Utara. Kemunculan itu menjadi pengingat bahwa salah satu mamalia paling cerdas di dunia juga merupakan bagian dari kekayaan laut Nusantara.
Foto utama: Paus orca merupakan jenis yang tersebar luas di seluruh samudera. Foto: Wikipedia Commons/Rennett Stowe/CC BY 2.0.





Comments are closed.