Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya

Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya

sejak-laut-tercemar,-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya
Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya
service

Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki “desa dolar”. Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat menyentuh sampai Rp45 ribu/kilogram. Mardiana, ibu enam anak di Bungin Permai pernah merasakan kejayaan itu. Dari 300 bentang tali rumput laut yang terpasang, dia bisa mengantongi pendapatan bersih hingga Rp40 juta sekali panen, cukup untuk membeli sepeda motor dan perahu. Tapi kini, itu hanya jadi kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, budidaya rumput laut di Tinanggea perlahan runtuh. Baharuddin bilang, sejak tambang nikel beroperasi di sekitar perairan mereka, air laut kerap berubah warna jadi kuning setiap hujan turun, dan rumput laut pun gagal tumbuh. Demi untuk menyekolahkan tiga anaknya, dia terpaksa menjual sapi, bahkan tanah. “Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin. Warga pesisir lainnya pun mengeluhkan adanya keberadaan penampungan ore nikel di bibir pantai dan lalu lalang kapal tambang. Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, menyebut operasional pelabuhan itu memicu sedimentasi yang membuat air laut berubah warna dan mengganggu ekosistem laut. Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan justru menyebutkan informasi yang berbeda, data resmi mereka menunjukkan produksi rumput laut Tinanggea terus naik tiap tahun, dari 18.644 ton pada 2021 jadi 33.946 ton pada 2025. Bagi Mardiana, angka itu tak masuk akal. “Kalau khusus…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.