Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut

Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut

nasib-nelayan-kabaena-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut
Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut
service

Sudah berhari-hari perahu nelayan Suku Bajau terombang-ambing di bawah kolong rumah di Desa Baliara, Kabaena Barat. Sulawesi Tenggara (Sultra). Nelangsa mereka tidak dapat meraup nafkah setelah terpaksa berhenti melaut karena sulit mendapat bahan bakar minyak (BBM) solar. “Kita mau ambil apa mi ini kasihan? Cuma dari situ (melaut) kita bisa hidup,” kata Aco lirih  saat kumpul bersama keluarga di teras rumahnya,  penghujung Mei 2026. Bukan kali ini saja Aco tak bisa melaut imbas BBM yang langka. Dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) lebih sering kosong. Kalau pun ada, acapkali kuota BBM terpangkas. “Waktu itu dikasih 20 liter satu orang. Sekarang cuma 10 liter. Tidak cukup sekali melaut. Baru harus setiap hari mengantri tapi di SPBU selalu kosong. Kalau begini terus kita mau dapat apa?” Padahal, bagi para nelayan seperti Aco, kebutuhan BBM kian berlipat menguras 80% total biaya melaut. Pasalnya, ketimbang dulu, jarak lokasi tangkapan sekarang makin jauh dan lebih lama karena zona tangkap sebelumnya sepi ikan lantaran terdampak limbah tambang nikel, terutama di area pesisir. Ada  beberapa konsesi perusahaan nikel menghimpit Desa Baliara. Intensitas pengerukan tanah nikel memicu residu lumpur di sungai sebelum akhirnya berakhir di laut. Di wilayah pesisir, jejak sedimentasi mencapai mencapai tinggi betis orang dewasa. Berdasarkan analisis spasial berbasis citra satelit dari Satya Bumi per April 2026, pencemaran lumpur sudah menyebar di laut seluas 14,98 hektar setara 20 lapangan sepak bola. Dengan radius sejauh 250 meter dari bibir pantai. Penelitian Satya Bumi sebelumnya menemukan,  pencemaran lumpur tambang membunuh ekosistem terumbu karang dan menyingkirkan habitat ikan. Dulu,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.