Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Haul Pertama KH Imam Aziz, Sahabat dan Santri Luncurkan Dua Buku tentang Kiprah dan Gagasannya

Haul Pertama KH Imam Aziz, Sahabat dan Santri Luncurkan Dua Buku tentang Kiprah dan Gagasannya

haul-pertama-kh-imam-aziz,-sahabat-dan-santri-luncurkan-dua-buku-tentang-kiprah-dan-gagasannya
Haul Pertama KH Imam Aziz, Sahabat dan Santri Luncurkan Dua Buku tentang Kiprah dan Gagasannya
service

Sleman, NU Online

Dua buku yang mengisahkan perjalanan hidup KH M. Imam Aziz diluncurkan dalam rangka peringatan satu tahun wafatnya. Peluncuran buku disertai diskusi tersebut digelar di kompleks makam Mas Imam, Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Ahad (19/7/2026).

Kedua buku tersebut adalah Bergantung pada Ranting karya Hairus Salim HS dan buku bunga rampai Kiai Pejuang Sunyi. Keduanya merekam beragam sisi kehidupan, gagasan, serta kiprah Mas Imam dalam mendampingi masyarakat mustad’afin.

Hairus Salim HS menceritakan proses penulisan Bergantung pada Ranting. Awalnya, ia hanya mencatat berbagai kenangan dan persinggungannya dengan Mas Imam di telepon seluler.

“Lama-lama kok ternyata banyak. Ya sudah, dibuat buku sekalian,” kisahnya.

Dalam buku tersebut, Hairus menuturkan pengalamannya sejak mengenal Imam Aziz di IAIN Sunan Kalijaga—kini UIN Sunan Kalijaga—hingga akhir hayatnya. Ia juga merefleksikan bagaimana banyak perjalanan hidupnya terinspirasi oleh Mas Imam, mulai dari mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) hingga Pondok Pesantren Bumi Cendekia.

Sementara itu, Heru Prasetia, salah seorang editor Kiai Pejuang Sunyi, menjelaskan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari komitmen para sahabat dan santri Mas Imam untuk terus menghadirkan karya pada setiap peringatan wafatnya. Sebelumnya, buku pertama diterbitkan pada peringatan 100 hari wafatnya Imam Aziz.

“Dalam buku edisi haul ini kami memuat tulisan-tulisan yang belum sempat dimuat pada edisi pertama. Kami juga menghubungi para sahabat dan tokoh yang pernah bersinggungan dengan Mas Imam untuk menulis. Ada 35 tulisan yang menceritakan Mas Imam, mulai dari sisi personal hingga kiprahnya dalam melakukan advokasi di berbagai isu,” ujarnya.

Buku tersebut memuat tulisan sejumlah tokoh dari beragam latar belakang, di antaranya aktivis difabel Bahrul Fuad, promotor musik Anas Syahrul Alimi, aktivis perempuan Masruchah, Menteri Agama RI periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin, sedulur Kendeng Gunretno, hingga antropolog Martin van Bruinessen. Mereka menghadirkan kesaksian mengenai sosok Mas Imam yang konsisten mendampingi kelompok lemah dan dilemahkan. Keberagaman penulis mencerminkan luasnya jejaring pergaulan dan spektrum perjuangan Imam Aziz.

“Kiai rakyat memang gelar yang tepat untuk Imam Aziz,” tulis Martin van Bruinessen.

Semasa hidupnya, Imam Aziz aktif mendampingi berbagai gerakan masyarakat, mulai dari Kedung Ombo, Kendeng, Kulon Progo, hingga Wadas. Kiprah tersebut dijalaninya ketika menjadi jurnalis, penggerak NU kultural, hingga menjabat sebagai Ketua PBNU.

Usai peluncuran buku, para sahabat dan santri Imam Aziz menggelar diskusi bertajuk “Imam Aziz: Advokasi, Rekonsiliasi, dan Kemandirian NU”. Diskusi menghadirkan sejarawan Budiawan, akademisi Sri Wiyanti Eddyono, budayawan NU Achmad Munjid, serta perwakilan keluarga, Fina Itriyati, yang juga menjabat Wakil Dekan Fisipol UGM. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.

Rangkaian haul juga dimeriahkan dengan penampilan grup musik Ki Ageng Ganjur dalam agenda Tadarus Budaya. Acara tersebut turut menghadirkan Budi Cilok, Alissa Wahid, Inaya Wahid, dan Cak Coy.

Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw, sahabat Imam Aziz, menyebut Ki Ageng Ganjur sebagai salah satu warisan penting yang ditinggalkan Imam Aziz.

“Kami hadir di sini untuk menunjukkan bagaimana santri juga bisa berdakwah melalui musik,” ucap Ngatawi.

Menurutnya, melalui Ki Ageng Ganjur, para santri telah menyiarkan Islam yang ramah hingga ke berbagai negara, seperti Jepang, China, Prancis, Belanda, Belgia, dan Aljazair.

Kontributor: Sarjoko S

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.