Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. 30 Persen Remaja Alami Anemia, Pendidikan Kespro di Pesantren Penting Bekali Santri soal Kesehatan

30 Persen Remaja Alami Anemia, Pendidikan Kespro di Pesantren Penting Bekali Santri soal Kesehatan

30-persen-remaja-alami-anemia,-pendidikan-kespro-di-pesantren-penting-bekali-santri-soal-kesehatan
30 Persen Remaja Alami Anemia, Pendidikan Kespro di Pesantren Penting Bekali Santri soal Kesehatan
service

Pasuruan, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama kembali menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren Batch Kedua di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan Jawa Timur pada Kamis (30/7/2026).

Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga, Kemenkes Marlina Rully Wahyuningrum mengatakan  tantangan kesehatan remaja saat ini tidak hanya terbatas pada masalah fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan masalah sosial-reproduksi.

Kemenkes membeberkan data memprihatinkan terkait kondisi gizi remaja di Indonesia. Berdasarkan data laporan agregat dari Puskesmas terhadap 3,9 juta remaja putri kelas 7 dan kelas 10, tercatat sebanyak 15 persen di antaranya mengalami anemia.

Namun, data yang lebih komprehensif dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah—salah satu program hasil kerja sama pemerintah selain Makanan Bergizi Gratis (MBG)—menunjukkan angka yang lebih tinggi. 

Dari 1 juta peserta didik kelas 7 (putra dan putri) serta kelas 10 (putri) yang diperiksa, sebanyak 30 persen di antaranya terdiagnosis mengalami anemia, mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat.

Jika diibaratkan dengan pesawat Boeing yang menampung maksimal 550 penumpang, namun membutuhkan 1.008 pesawat hanya untuk mengangkut anak-anak remaja kita yang mengalami anemia. 

“Ini jumlah yang sangat banyak dan tidak ada bandara di dunia yang mampu menampungnya sekaligus. Ini isu yang harus kita tanggulangi bersama,” ungkap Ruli.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena growth spurt atau masa pertumbuhan pesat kedua yang dialami remaja setelah periode bawah dua tahun (baduta) dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Pada fase ini, kebutuhan gizi remaja meningkat drastis. Namun, persepsi tubuh (body image) yang keliru kerap membuat remaja putri membatasi asupan makan secara ekstrem karena merasa tubuhnya gemuk saat melihat cermin, hingga memicu gangguan makan seperti anorexia dan bulimia nervosa (perilaku memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsi),” tandasnya.

Sebelumnya Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesejahteraan, Alissa Qatrunnada Wahid, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kesehatan reproduksi santri karena memadukan fungsi pendidikan dan pengasuhan sekaligus.

“Pesantren punya dua-duanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sekaligus juga ruang pengasuhan. Kalau ruang pengasuhan berarti transmisi nilai itu akan masuk. Mempersiapkan perkembangan personal itu juga akan terjadi. Nah ini peran-peran ini besar sekali potensinya di pesantren,” kata Alissa. 

Ia menilai banyak remaja memperoleh paparan mengenai perilaku seksual dari berbagai sumber tanpa memiliki bekal pengetahuan yang memadai mengenai perkembangan dirinya maupun kesehatan reproduksi.

“Program kesehatan reproduksi di pesantren menjadi penting sekali untuk membekali santri agar memahami bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya soal fisik, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan terbaik bagi dirinya dalam konteks perilaku reproduksi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Alissa menilai pesantren memiliki potensi besar dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat karena menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai lembaga pendidikan dan ruang pengasuhan.

“Kalau ruang pengasuhan berarti transmisi nilai juga berlangsung. Perkembangan personal santri dibentuk di sana. Potensi pesantren sangat besar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, hingga kesehatan reproduksi santri,” ujarnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.