
Tradisi Merti Dusun/Wikipedia
Di tengah udara sejuk lereng Gunung Andong, Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, kembali membuktikan bahwa tradisi mampu menyatukan keluarga lebih kuat daripada sekadar perayaan hari besar. Bagi masyarakat setempat, Saparan atau Merti Dusun bukan hanya ritual tahunan, melainkan momentum pulang kampung yang bahkan disebut lebih meriah dibandingkan Hari Raya Idulfitri.
Sejak pagi, ratusan warga telah memenuhi jalan kampung. Tepat pukul 08.25 WIB, kirab dimulai dari musala menuju rumah Kepala Dusun Mantran Wetan dengan membawa tiga gunungan hasil bumi, tumpeng, hingga ingkung ayam yang menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Suasana hangat begitu terasa ketika keluarga, kerabat, dan sahabat dari berbagai daerah berkumpul dalam satu hari yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi ruang silaturahmi yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko, menyebutkan bahwa Saparan memang selalu menjadi momen yang paling dinantikan masyarakat.
“Kalau dibandingkan dengan Lebaran, lebih ramai Saparan. Karena semua berkumpul pada hari yang sama,” ujarnya.
Rela Habiskan Jutaan Rupiah Demi Menjaga Warisan Leluhur
Menariknya, kemeriahan Saparan tetap berlangsung meski kondisi ekonomi petani hortikultura sedang tidak mudah. Harga sayuran yang menjadi sumber penghasilan utama warga mengalami penurunan. Namun, hal itu tidak mengurangi tekad masyarakat untuk menjaga tradisi.
Setiap kepala keluarga rata-rata mengeluarkan dana sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta untuk mempersiapkan perayaan. Bahkan, sebagian keluarga bisa menghabiskan biaya lebih besar tergantung jumlah tamu yang datang.
Dana tersebut digunakan untuk iuran dusun, kenduri, membeli bahan makanan, hingga menjamu para tamu yang mulai berdatangan selepas Salat Zuhur.
Salah seorang warga, Giyanto, mengungkapkan bahwa biaya terbesar justru berasal dari tradisi menerima tamu di rumah.
“Walaupun hasil sayuran sedang turun tajam, kami tetap melaksanakan Saparan. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang harus dijaga,” katanya.
Untuk keluarganya sendiri, Giyanto menyiapkan lima ekor ayam kampung sebagai ingkung. Satu digunakan dalam kenduri dusun, sedangkan sisanya disajikan kepada sanak saudara yang datang bersilaturahmi.
Dengan harga ayam kampung yang mencapai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per ekor menjelang Saparan, total biaya yang dikeluarkan setiap keluarga pun semakin besar. Namun, bagi warga Mantran Wetan, pengorbanan tersebut dianggap sebagai bagian dari rasa syukur sekaligus penghormatan kepada tradisi leluhur.
Rabu Pahing, Jaran Papat, dan Pesan Kearifan Lokal yang Tetap Hidup
Saparan di Mantran Wetan tidak hanya identik dengan kenduri. Tradisi ini juga dipenuhi nilai budaya yang masih dijaga secara ketat.
Pelaksanaan selalu dilakukan pada hari Rabu Pahing di bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Masyarakat meyakini hari tersebut merupakan waktu terbaik berdasarkan ilmu titen yang diwariskan para leluhur.
Handoko menceritakan bahwa pernah ada pelaksanaan Saparan yang tidak dilakukan pada Rabu Pahing.
“Saat itu nasi kenduri menjadi basi. Sejak itu masyarakat semakin yakin bahwa tradisi ini harus dijalankan sesuai ketentuan yang diwariskan leluhur,” tuturnya.
Selain prosesi doa bersama, acara semakin semarak dengan pertunjukan seni tradisional seperti Jaran Papat. Berbeda dari kuda lumping pada umumnya, tarian ini hanya dimainkan oleh empat penari lanjut usia yang dianggap masih memahami pakem asli warisan budaya tersebut.
Empat penari itu melambangkan empat penjuru mata angin yang berpusat pada satu titik kehidupan, menjadi simbol keseimbangan, persatuan, serta keharmonisan masyarakat.
Di tengah arus modernisasi, Saparan membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia menjadi pengikat identitas, penguat hubungan keluarga, sekaligus ruang spiritual untuk mengucap syukur atas rezeki yang diterima. Ketika banyak tradisi mulai ditinggalkan, warga Dusun Mantran Wetan justru menunjukkan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan mereka.
sumber:
DetikJateng, hasil liputan lapangan dan keterangan warga Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.
Berita Magelang
RMOL JATENG
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor




Comments are closed.