Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bukan sekadar sensor: Apa arti dipotongnya pidato Prabowo soal nuklir Iran?

Bukan sekadar sensor: Apa arti dipotongnya pidato Prabowo soal nuklir Iran?

bukan-sekadar-sensor:-apa-arti-dipotongnya-pidato-prabowo-soal-nuklir-iran?
Bukan sekadar sensor: Apa arti dipotongnya pidato Prabowo soal nuklir Iran?
service

● Penyuntingan pidato dapat memengaruhi persepsi terhadap posisi diplomatik Indonesia.

● Pilihan bahasa presiden mengirimkan sinyal politik kepada dunia internasional.

● Prinsip bebas aktif penting menjaga kredibilitas diplomasi Indonesia di era nuklir.


Pada 31 Juli 2026 di Istana Negara, di hadapan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari 38 provinsi, Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang bahaya perang nuklir. Dalam bagian pidato yang kemudian tidak muncul dalam rekaman resmi, ia sempat menyebut Iran telah memiliki senjata nuklir, lalu menggambarkan kemungkinan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Mesir akan mengikuti langkah serupa.

Beberapa menit kemudian, sesi terbuka berakhir. Wartawan diminta meninggalkan ruangan, dan siaran langsung dihentikan. Rekaman yang diunggah ulang tidak lagi memuat bagian tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, Istana belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyuntingan itu.

Perdebatan publik kemudian berfokus pada apakah ini bentuk sensor atau hanya persoalan teknis. Padahal, poin pentingnya bukan sekadar mengapa videonya dipotong, melainkan apa yang ingin disampaikan—atau justru tidak ingin disampaikan—oleh pemerintah melalui penyuntingan tersebut.

Penyuntingan juga termasuk tindakan politik

Dalam komunikasi pemerintahan, rekaman resmi bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga menjadi arsip yang membentuk posisi resmi negara. Ketika sebagian pernyataan dihilangkan, negara pada dasarnya sedang menentukan bagian mana yang layak menjadi konsumsi publik dan menjadi dasar perdebatan politik.

Ada pola yang semakin terlihat dalam politik luar negeri Indonesia: diplomasi semakin berpusat pada figur presiden, lawatannya, dan gaya bicaranya. Namun, kualitas manfaatnya belum bisa diukur. Ketika muncul pernyataan yang menimbulkan persoalan, koreksi dilakukan bukan sebelum pesan disampaikan, melainkan setelahnya melalui penyuntingan.

Dampaknya bukan hanya dirasakan publik di dalam negeri. Negara-negara lain juga bisa bingung melihat sebenarnya apa sikap resmi Indonesia jika pernyataan yang disampaikan presiden berbeda dengan rekaman resmi yang kemudian dipublikasikan.

Mengapa pilihan kata itu penting?

Masalah dalam pidato Prabowo bukan semata apakah Iran benar-benar memiliki senjata nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sendiri belum pernah menyatakan Iran memiliki senjata nuklir. Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf mengingatkan bahwa pernyataan Prabowo lebih mencerminkan klaim yang selama ini disampaikan Amerika Serikat dan Israel, bukan posisi resmi Indonesia.

Dalam ilmu hubungan internasional, pilihan istilah bukan sekadar persoalan bahasa. Salah satu kajian konstruktivisme dalam ilmu ini menunjukkan bahwa bahasa ikut membentuk cara negara memahami realitas politik. Kategori seperti rogue state, ancaman nuklir, atau proliferasi bukan istilah yang sepenuhnya netral, melainkan lahir dari proses politik dan sering kali memengaruhi bagaimana negara lain dipersepsikan serta diperlakukan.

Ketika istilah tertentu diucapkan dari podium kepresidenan, maknanya melampaui opini pribadi. Ia bahkan dapat dibaca sebagai sinyal mengenai cara Indonesia memandang suatu persoalan internasional.

Bebas aktif harus tetap jadi modal diplomasi

Melalui prinsip politik luar negeri bebas-aktif, Indonesia membangun reputasi sebagai negara yang tidak otomatis mengadopsi narasi salah satu blok kekuatan. Sebagai anggota Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) yang menandatangani Traktat Bangkok tentang Kawasan Bebas Senjata Nuklir di Asia Tenggara, Indonesia memiliki pijakan sendiri untuk berbicara mengenai perlucutan senjata dan nonproliferasi.

Nilai bebas aktif pun bukan berarti Indonesia harus menjaga jarak yang sama dari semua negara, tetapi lebih kepada kemampuan mempertahankan independensi dalam membentuk penilaian dan menggunakan kerangka berpikirnya sendiri. Reputasi inilah yang selama ini memberi Indonesia ruang untuk diterima oleh berbagai pihak sekaligus.

Konteks ini penting karena Indonesia sedang mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pemerintah menjajaki kerja sama dengan berbagai mitra, mulai dari Rusia melalui Rosatom yang berupa paket dari reaktor skala gigawatt sampai unit terapung, serta dengan Jepang dan AS.

Kerja sama nuklir tidak berhenti pada pembangunan reaktor. Negara yang mengembangkan PLTN akan memasuki hubungan jangka panjang yang mencakup pasokan bahan bakar, pengawasan bahan fisil, transfer teknologi, lisensi, suku cadang, hingga pelatihan sumber daya manusia. Literatur mengenai nuclear governance menunjukkan bahwa teknologi nuklir selalu membawa dimensi politik dan kelembagaan, bukan sekadar persoalan energi.

Karena itu, kredibilitas Indonesia sebagai negara yang konsisten terhadap rezim nonproliferasi juga menjadi bagian dari modal diplomatiknya. Dalam konteks seperti ini, pilihan bahasa seorang kepala negara dapat memengaruhi cara mitra internasional membaca posisi Indonesia.

Lebih dari sekadar video yang dipotong

Apakah penyuntingan rekaman dilakukan untuk mengoreksi sinyal diplomatik yang telanjur disampaikan? Kita belum memiliki bukti untuk menyimpulkan hal itu.

Namun, terlepas dari motifnya, penyuntingan tetap memiliki konsekuensi politik. Ia menentukan bagian mana dari pernyataan presiden yang menjadi arsip resmi negara dan mana yang tidak.

Karena itu, persoalan utamanya bukan semata apakah pidato tersebut dipotong, melainkan bagaimana negara mengelola narasi kebijakan luar negerinya. Dalam demokrasi, publik berhak mengetahui bukan hanya apa yang negara tayangkan, tetapi juga mempertanyakan bagaimana negara membentuk, menjelaskan, dan mempertanggungjawabkan posisi resminya.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.