Ketika membicarakan soal gangguan perhatian dan hiperaktivitas alias attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), kita mungkin sering kali membayangkan anak laki-laki hiperaktif yang berlarian di kelas.
Sebaliknya, kita mungkin jarang membayangkan sosok anak perempuan pendiam yang melamun di sudut ruangan, siswa perempuan banyak bicara yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya, ataupun seorang ibu yang selalu terlambat dan terus-menerus mencari kunci rumahnya.
Padahal, mereka semua—baik laki-laki dan perempuan segala usia—mungkin menunjukkan tanda-tanda ADHD, suatu kondisi perkembangan saraf yang bisa sangat memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Sebagai psikolog dan peneliti yang berfokus memahami ADHD pada perempuan di sepanjang hidup mereka, kami ingin lebih memahami faktor sosial, emosional, kognitif, serta hormonal yang secara unik beririsan dengan ADHD pada perempuan.
Penelitian gabungan kami mengkaji pengalaman ADHD pada perempuan yang berfokus memahami bagaimana perkembangan mereka di masa kanak-kanak dan remaja, hingga dewasa dan lanjut usia.
Anak perempuan dengan ADHD
Anak perempuan usia sekolah dan remaja dengan ADHD sering kali tidak terdeteksi. Mereka biasanya cenderung suka melamun, tidak fokus, dan lebih jarang menunjukkan perilaku yang secara terang-terangan mengganggu dibandingkan anak laki-laki.
Sebaliknya, mereka mungkin memendam stres—yang dapat berujung pada salah diagnosis sebagai kecemasan atau depresi, alih-alih diidentifikasi secara akurat sebagai ADHD.

Namun, terdapat ciri-ciri ADHD yang jelas dan bisa dikenali. Anak perempuan dengan ADHD sering kali sensitif secara emosional. Mereka mungkin cenderung mengalami kesulitan sosial, seperti menyela percakapan atau kesulitan membaca isyarat sosial.
Selain itu, anak perempuan dengan ADHD cenderung menunjukkan hiperaktivitas yang lebih “terinternalisasi”, seperti memutar-mutar rambut, menggaruk kulit, atau menggoyangkan kaki.
Saat memasuki masa pubertas (sering kali dimulai antara usia 9 dan 11 tahun), anak perempuan dengan ADHD menghadapi peningkatan risiko kesulitan belajar di sekolah, masalah penyalahgunaan zat adiktif lebih dini, dan gangguan suasana hati.
Perubahan hormonal selama periode ini juga dapat memengaruhi efektivitas obat ADHD, sehingga menciptakan tantangan tambahan pada tahap perkembangan mereka yang sebelumnya sudah rentan.
Perempuan dewasa dengan ADHD
Saat menangani perempuan dewasa dengan ADHD, kami sering mendengar komentar seperti: “Saya didiagnosis setelah anak saya didiagnosis ADHD.”
Banyak perempuan tidak teridentifikasi ADHD pada masa kecil, dan baru menyadari adanya gejala ketika menyaksikan anak mereka menghadapi tantangan yang sangat mirip dengan yang mereka alami saat tumbuh dewasa.
Selama bertahun-tahun, perempuan yang hidup dengan gejala ADHD sering kali mengembangkan strategi coping yang kuat tanpa disadari, untuk menyiasati situasi sulit agar bisa beraktivitas dengan baik. Namun, strategi coping ini cenderung kacau ketika memasuki fase transisi kehidupan yang besar (seperti menjadi orang tua atau memasuki masa menopause).
Pada fase tersebut, pendekatan yang tadinya berhasil mungkin menjadi kurang efektif, sehingga proses menghadapi masa-masa sulit jadi lebih menantang. Saat ini, perempuan berusia 30-an dan 40-an merupakan salah satu kelompok dengan pertumbuhan tercepat yang menerima resep stimulan untuk ADHD. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan diagnosis pada kelompok ini.
Seperti apa gejala ADHD pada perempuan?
Perempuan dengan ADHD sering kali menggambarkan berbagai pengalaman—yang meskipun tidak tercantum secara eksplisit dalam kriteria diagnosis—sangat memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
Contohnya, banyak dari mereka melaporkan tindakan menutupi perilaku atau emosi demi tidak terlihat berbeda dari orang pada umumnya. Mereka mungkin berusaha terlalu keras untuk tampil terorganisasi dan kompeten, menghabiskan waktu berlebihan dalam mengerjakan suatu tugas guna menghindari kesalahan atau kritik.
Seiring berjalannya waktu, pola-pola ini dapat memicu stres kronis dan kelelahan, serta sering kali muncul sebagai gangguan kecemasan atau depresi. Kondisi ini berisiko kian mempersulit identifikasi masalah mental yang akurat dan pemberian dukungan yang tepat.
Selain itu, perempuan dengan ADHD sering kali kesulitan untuk memulai tugas, suka menunda-nunda pekerjaan, dan sulit menyelesaikan tugas tepat waktu. Berbagai tantangan ini dapat memengaruhi kehidupan pribadi maupun profesional mereka, sehingga memicu keraguan pada diri sendiri hingga stres dan kelelahan mental berkepanjangan (burnout).

Perempuan ADHD di usia lanjut
Saat memasuki usia lanjut (60 tahun ke atas), banyak perempuan ADHD mengaku bahwa mereka mengalami perburukan gejala yang signifikan. Hal ini diduga terjadi akibat penuaan otak yang normal dan perubahan akibat menopause.
Lansia dengan ADHD mungkin akan sangat terdampak oleh perubahan usia ini. Sebab, struktur dan fungsi di lobus frontal (pusat kendali utama di otak) mereka memang sudah berbeda sebelumnya.
Perempuan dengan ADHD mungkin menghadapi tantangan yang lebih besar daripada laki-laki seiring bertambahnya usia. Sebagian disebabkan oleh penurunan estrogen yang terjadi selama menopause.
Estrogen bekerja sama dengan dopamin (zat kimia penting di otak) untuk meningkatkan suasana hati dan kognisi (kemampauan mengolah informasi dan memecahkan masalah). Ketika kadar estrogen menurun (misalnya selama masa perimenopause), efek positif dopamin menjadi kurang terasa.
Tak sedikit perempuan dengan ADHD mengalami fluktuasi hormon lebih ekstrem daripada perempuan lainnya. Akibatnya, masa perimenopause menjadi fase yang sangat menantang bagi mereka.
Apa yang harus dilakukan jika saya merasakan tanda ADHD?
Jika merasa memiliki tanda-tanda ADHD, kamu bisa melakukan pemeriksaan ke psikiater ataupun psikolog klinis.
Langkah penting dalam diagnosis adalah memastikan bahwa setidaknya beberapa gejala yang kamu alami telah ada sejak lama (bukan baru muncul belakangan). Gejala-gejala tersebut tidak dipengaruhi oleh kondisi medis ataupun kejiwaan lain.
Kamu juga dapat menghubungi Komunitas ADHD Indonesia untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pengujian, diagnosis, dan dukungan untuk orang ADHD.




Comments are closed.