Mubadalah.id – Selama anak perempuan tumbuh makin dewasa, cara pandangnya terhadap dirinya sendiri terbentuk seiring dengan pengalamannya.
Penting agar anak perempuan menghargai diri mereka sendiri sejak dini. Sehingga kelak mereka mampu berkembang sepenuhnya dan membantu menjadikan lingkungan sekitarnya lebih baik.
Anak perempuan akan lebih mudah menumbuhkan rasa percaya diri dan menghormati dirinya sendiri jika keluarga dan masyarakatnya menunjukkan bahwa mereka menghargainya.
Di banyak tempat, anak perempuan diasuh dengan keyakinan bahwa mereka kurang penting ketimbang anak laki-laki.
Mereka selalu mendapat pendidikan untuk malu akan tubuh mereka sendiri, malu karena mereka perempuan, dan selalu harus mengalah, menerima pendidikan lebih rendah, makan lebih sedikit, sering menjadi korban pelecehan, mengerjakan tugas-tugas yang lebih banyak daripada saudara lelaki mereka.
Memperburuk Kesehatan Perempuan
Semua ini bukan saja langsung memperburuk kondisi kesehatan mereka, tapi juga menjadikan mereka merasa rendah diri, tidak menyukai diri sendiri, dan kurang mampu mengambil keputusan-keputusan bagi kesehatan yang lebih baik kelak jika sudah dewasa.
Bila semua perlakuan di atas menimpa anak perempuan yang sedang tumbuh, itu tandanya masyarakat tidak menghargai perempuan setara dengan laki-laki.
Lain halnya bila masyarakat mengakui nilai setiap orang—laki-laki maupun perempuan. Anak perempuan yang mendapat pengasuhan dalam masyarakat itu akan tumbuh dewasa dengan menggenggam kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya sendiri, keluarganya, maupun masyarakat itu sendiri.
Ia akan percaya diri dan menghargai orang lain. Sedangkan anak laki-laki yang mendapat pendidikan di lingkungan itu pun akan tumbuh dengan rasa hormat pada perempuan.
Cara masyarakat memperlakukan warganya yang perempuan jelas memengaruhi cara keluarga memperlakukan anggotanya yang perempuan.
Misalkan suatu masyarakat memegang keyakinan bahwa seorang perempuan harus menguasai keterampilan dan pengetahuan untuk mandiri. Lebih mungkin keluarga-keluarga dalam masyarakat itu menyekolahkan anak perempuan setinggi-tingginya.
Tapi kalau masyarakat hanya mengizinkan kaum perempuan mengerjakan “tugas perempuan saja”—memasak, mencuci, menyapu, dan sebagainya. Dan sama sekali melarang mereka menghadiri musyawarah desa atau pertemuan kampung. Maka keluarga di situ bakal cenderung percaya bahwa anak perempuan tidak perlu di sekolahkan.
Ada banyak cara untuk membantu gadis-gadis praremaja merasa lebih percaya diri, lebih mencintai diri mereka sendiri, dan tidak mau direndahkan orang lain.
Cara-cara untuk membantu keluarga dan masyarakat memahami bahwa kehidupan perempuan bisa berbeda juga cukup banyak. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 74.





Comments are closed.