Kami bukan sekadar kaum pengguna daster yang tanpa pengetahuan dan agency. Kami berdaster, berkerudung instan, bersandal slop yang berpendidikan dan berpengetahuan, tangan pertama yang mencerdaskan generasi bangsa.
Sudah lima tahun aku menjalani peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Dua tahun pertama menjalani peran ini terasa menyenangkan. Namun, dua tahun belakangan rasanya hidup seperti roller coaster.
Kadang aku merasa berharga dan bernilai karena ternyata aku bisa ambil sertifikasi coaching dan menjalani profesi ini udah 2 tahun. Bertemu para perempuan hebat dengan beragam ceritanya. Dipercaya untuk mendengarkan cerita-cerita hidup mereka. Aku merasa bermanfaat sekali dengan profesi ini.
Aku juga merasa senang karena menemukan skill baru yaitu voice over. Karena skill ini aku bisa dapat project-project VO. Skill ini masih terus aku asah sampai sekarang. Senangnya karena setiap aku masuk ke sebuah lingkungan baru, alhamdulillah selalu dipertemukan dengan para profesional yang idealis. Diwanti-wanti sekali untuk tidak menggadaikan suara ke AI dengan harga 50.000 per rekaman suara durasi 1 jam. Yang ada malah per kalimat harganya di atas 100.000. Alhamdulillah.
Kadang aku berbangga diri, “ah ternyata aku cukup punya pilihan karir juga ya. Nggak mentok mengandalkan ijazah di satu profesi.”
Tapi di waktu yang sama, aku juga merasa sepi, sendiri, gak ada yang melihat sekaligus merasa tertinggal. Perasaan ini sungguh nyata ada. Media sosial, dan situasi rezim sekarang semakin menambah buruk hidup ini.
Aku masih ingat tahun lalu saat mengisi sesi di berbagi cerita bersama para ibu lainnya, aku dengan percaya diri mengatakan sangat mengenali diriku. Aku memberinya nilai 8.5 atas itu.
Tapi sekarang aku merasa ada di situasi aku tidak mengenal diriku, tidak berdaya, terus merasa menjadi korban, merasa kalah dan lelah.
Bukan karena tidak ada ide untuk berdaya dan produktif (toh mengerjakan pekerjaan domestik dan menjalani beban biologis sudah lebih dari produktif), tapi lebih karena kerja-kerja perawatan yang sungguh panjang ini ternyata tidak dihargai dan tidak bernilai ekonomi.
Ya, mungkin karena itu. Seandainya kerja-kerja perawatan ini mendapatkan perhatian dari pemerintah, aku tidak perlu galau memikirkan kelayakan hidup anak-anak di masa depan. Aku bisa tetap percaya diri karena secara kualitas hidup bisa sama dengan para ibu yang tetap bekerja. Aku bisa yakin bahwa kami sekeluarga punya pilihan hidup lebih baik.
Mimpi itu seakan mustahil terwujud. Karena para guru yang jelas ada jam mengajarnya dan penuh beban administratif saja dibiarkan mendapat gaji semungil itu. Mereka “dipaksa” untuk mengabdi tanpa tanda jasa.
Sementara Koperasi Desa Merah Putih bisa ujug-ujug muncul di tengah bukit dan pegunungan bak hantu di siang bolong. Kopdes yang masih sepi itu anggarannya ratusan triliun. Masyallah bukan main.
Bisakah kami para ibu yang jadi garda terdepan pencegahan stunting, yang sejak pagi buta sudah mengolah makanan sembari merapal doa-doa mendapat perhatian dari pemerintah, mendapat pengakuan bahwa profesi ini berharga dan bernilai.
Bahwa kami bukan sekadar kaum pengguna daster yang tanpa pengetahuan dan agency. Kami berdaster, berkerudung instan, bersendal slop yang berpendidikan dan berpengetahuan, tangan pertama yang mencerdaskan generasi bangsa.
Kami yang memastikan asupan makanan sehat masuk ke tubuh anak-anak tanpa terkontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan keracunan. Kami yang membuat lingkungan rumah aman dari benda berbahaya bahkan dari debu-debu yang dapat menyebabkan gatal-gatal. Kami yang terus berusaha membuat berat badan anak-anak tetap berada di garis hijau. Kami yang bekerja tanpa iming-iming sertifikat, gaji, tunjangan, dan kenaikan jabatan.
Saat membuka media sosial, ingin sekali rasanya mendengar pidato Bapak Presiden yang berisi “Kami sudah menyiapkan anggaran triliunan untuk kesejahteraan ibu dan anak-anak. Ibu adalah garda terdepan yang mencerdaskan calon pemimpin bangsa. Para ibu tidak boleh tertinggal. Harus kami sejahterakan. Hidupnya harus layak dan dijamin negara. Terima kasih ibu. Kamu melihat kerja-kerjamu selama ini.”





Comments are closed.