Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah

Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah

cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah
Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah
service

Dulu aroma cengkih semerbak menguar dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Apalagi, ketika  musim panen tiba, para petani menjemur cengkih di teras depan rumah. Angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Sebelum Sabang berkembang sebagai destinasi wisata, ia terkenal sebagai salah satu sentra penghasil cengkih unggulan di Aceh, selain Kabupaten Aceh Besar, Simeulue, dan Aceh Barat Daya. Pada masa itu, banyak orang menyeberang ke Sabang untuk ikut memanen kuncup bunga cengkih ini. Di Kota Sabang, tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) dari keluarga Myrtaceae tumbuh dan tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Weh, mulai dari Balohan, Jaboi, Anoi Itam, dan di desa-desa lain di Kecamatan Sukamakmue, Sukajaya, dan Sukakarya. Kini, Kota Sabang mulai kehilangan aroma cengkihnya terganti dengan pekatnya aroma laut. Tahun ini, banyak pohon cengkih tak berbunga, banyak yang mati. Seluruh daun berguguran dan menyisakan batang yang kering. Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, bilang, dari kebun yang dia jaga seluas empat hektar dengan 520 pohon hanya 40 yang berbunga dan bisa panen tahun ini. “Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya, Senin (20/7/26). Setidaknya, selama 10 tahun terakhir, Sayuti merasakan panen cengkih tak lagi tiap tahun seperti sebelumnya. “Kalau tahun ini semua pohon berbunga, biasanya tahun berikutnya sering kali banyak yang tidak berbunga,” katanya. Tak hanya itu, pohon cengkih juga lebih sensitif dan perlu perawatan ekstra seperti pupuk agar tak mudah mati dan punya hasil panen yang berkualitas. “Dulu, itu tidak perlu pupuk,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.