Di kawasan kering Pilbara, Australia Barat, hidup seekor piton yang jauh berbeda dari bayangan umum orang tentang ular jenis ini. Antaresia perthensis, yang dikenal sebagai piton kerdil atau anthill python, hanya tumbuh hingga panjang 50 sampai 60 sentimeter saat dewasa, dengan berat tubuh berkisar 100 hingga 200 gram. Ukuran ini menjadikannya spesies piton terkecil yang tercatat di dunia, jauh di bawah bayangan piton raksasa yang mampu melilit mangsa sebesar rusa. Nama ilmiah perthensis sebenarnya menyimpan kekeliruan sejarah. O.G. Stull, yang pertama kali mendeskripsikan spesies ini pada 1932, menamainya berdasarkan dugaan asal spesimen dari Perth, ibu kota Australia Barat. Belakangan diketahui dugaan itu meleset jauh. Piton kerdil tidak pernah tercatat hidup di sekitar Perth, melainkan di wilayah Pilbara dan Gascoyne, sekitar 600 kilometer dari kota tersebut. Secara taksonomi, piton kerdil masuk dalam genus Antaresia, kelompok piton berukuran kecil yang hanya ditemukan di Australia dan sebagian kecil Papua, beranggotakan empat spesies: A. perthensis, A. childreni, A. stimsoni, dan A. maculosa. Analisis morfologi dan DNA mitokondria menunjukkan piton kerdil paling berkerabat dekat dengan A. childreni, sementara A. maculosa merupakan cabang yang berpisah lebih dulu dari kelompok ini. Kajian filogeografi yang lebih mutakhir, yang memakai ribuan penanda genom dan data morfometrik, memperkuat kesimpulan bahwa piton kerdil adalah garis keturunan tersendiri yang berevolusi terpisah dalam rentang waktu panjang di kawasan aridnya. Bertahan Hidup di Balik Gundukan Rayap Julukan anthill python melekat pada spesies ini karena kebiasaannya bersembunyi di dalam gundukan rayap, yang suhunya bisa mencapai 38 derajat Celsius pada siang hari. Suhu setinggi ini justru…This article was originally published on Mongabay
Antaresia perthensis, Piton Terkecil Di Dunia yang Tumbuh Sepanjang Dua Ekor Tokek Dewasa
Antaresia perthensis, Piton Terkecil Di Dunia yang Tumbuh Sepanjang Dua Ekor Tokek Dewasa





Comments are closed.