Wed,19 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?

Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?

opini:-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka?
Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?
service

  “Dari Jakarta menuju Batang Toru, Satya Bumi mengayuh bukan sekadar menempuh ribuan kilometer, tetapi menagih komitmen negara untuk memulihkan bentang alam rusak dan memastikan hutan Indonesia tetap menjadi rumah bagi manusia, tumbuhan, maupun satwa liar” Pada penghujung 2025, banjir bandang dan longsor melanda bentang alam Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Batang Toru menjadi salah satu episentrum bencana itu. Bencana merusak sekitar 8.303 hektar hutan di bagian blok barat Lanskap Batang Toru. Para peneliti memperkirakan setidaknya 58 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di blok barat ikut menjadi korban bencana itu, sekitar 7% dari populasinya. Bencana ini memang terpicu hujan dengan intensitas tinggi. Namun ini juga dampak bentang alam yang secara alami rentan dan makin parah dengan kooptasi industri ekstraktif. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru kehilangan 28.900 hektar tutupan hutan menjadi non-hutan, kini memiliki lahan kritis 35.000 hektar. Ketika bentang alam seperti ini terus mengalami tekanan akibat perubahan tutupan hutan, kemampuan alam meredam bencana ikut melemah. Peristiwa itu mengingatkan kita pada peringatan Robert Nasi dari Center for International Forestry Research: “There is a lot of risk of a domino effect. If we don’t protect forests, people will migrate, there will be climate refugees.” Kerusakan hutan memicu efek domino yang tidak hanya menghilangkan pepohonan. Siklus air terganggu, tanah kehilangan daya serap, habitat satwa liar terfragmentasi, produktivitas pertanian menurun, bencana makin sering terjadi. Hingga akhirnya masyarakat kehilangan ruang hidup. Ketika itu terjadi, manusia cenderung bermigrasi ke tempat yang lebih aman. Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81, muncul pertanyaan:…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.