Jakarta, Arina.id—Pekatnya kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Selatan mulai memakan korban. Bukan hanya mengganggu pernapasan, asap juga memperpendek jarak pandang, mengganggu aktivitas, hingga memicu kecelakaan.
Asap bukan hanya mengganggu pengguna jalan. Kabut asap juga mulai menyelimuti permukiman. Termasuk mengancam kesehatan anak-anak usia sekolah. Ancaman ISPA memaksa para orang tua memakaikan anak-anak mereka masker saat berangkat dan berkegiatan di sekolah.
Menurut citra satelit, titik panas di Pulau Kalimantan mencapai jumlah terbanyak pada Rabu (19/8). Ada lebih dari 1.600 titik panas di Kalimantan pada hari itu, meningkat dua kali lipat dari hari sebelumnya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan (Kalsel) periode 2016-2024, Kisworo Dwi Cahyono, menilai pemerintah lalai dan gagal menanggulangi bencana kabut asap karena masih marak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.
Ia mengatakan kejadian karhutla terus saja terulang, bahkan sampai saat ini juga masih terjadi. “Artinya, saya selalu menyatakan bahwa pemerintah masih lalai dan gagal dalam penanggulangan bencana,” kata Kisworo dalam dialog Sapa Indonesia Malam KompasTV.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan juga mulai berdampak serius hingga ke Malaysia. Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk, bahkan Serian masuk kategori sangat tidak sehat hingga ratusan sekolah harus ditutup.
Pemerintah Malaysia kini memilih jalur diplomatik untuk menyampaikan kekhawatirannya kepada Indonesia sekaligus membawa persoalan kabut asap lintas batas tersebut ke mekanisme ASEAN.
“Mekanisme ASEAN lebih efektif dalam memastikan Sekretariat ASEAN dapat mengelola koordinasi bersama antara Malaysia dan Indonesia dalam menangani akar penyebab kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap polusi udara lintas batas,” kata Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab kemunculan titik-titik karhutla salah satunya karena kondisi iklim yang begitu kering efek dari El Niño. Kondisi iklim kering ini lantas membuat lahan mudah dibakar dan menimbulkan banyak asap.
“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.





Comments are closed.